Tak berhenti di situ saja, Sheella membuat Kath semakin penasaran. Dan kali ini dia terus mengejarku sampai persis didepan hotel, kurasa dia mulai kelelahan karena larinya mulai terhenti
"Ada apa? Apa kau menyerah?" ledekku disaat mendengar nafasnya yang terengah engah
"Kau ini! Kenapa berlarinya kencang sekali. Sudahlah aku menyerah denganmu, aku ingin kekamar sekarang," amuknya
Tanpa berkata lagi, dia pergi begitu saja. Meninggalkan sisa nafasnya disini
"Dasar wanita gila," ledekku dalam benak, walau wajah Kathryn mirip sekali dengan Sheella namun tetap saja dia bukan Sheella, karena semua sikap dan prilakunya sangat berbeda sekali dengan Sheella. Hatiku terus membicarakan tentang dirinya sampai aku baru teringat kalu malam ini adalah hari terakhir berada di indonesia, dan hal itu pun Kathryn belum mengetahuinya
"Jika aku tidak memberitahunya, mungkin besok pagi dia masih menjadi bangkai dikamarnya," benakku, dengan niat baik aku mengambil ponselku untuk mencoba menghubunginya namun tidak ada respon, kupikir gadis itu marah padaku hahaha tapi tetap saja aku harus kembali ke Philipines bersamanya bagaimana pun juga,
"Bersiaplah, karena besok kita akan meninggalkan indonesia," aku mencoba mengiriminya pesan, dan berharap pesan itu cepat dilihatnya
Karena sudah begitu lelah, aku pun kembali kekamar namun disaat menuju kekamar perhatianku teralihkan. Melihat Kathryn tengah duduk tenang dipinggir kolam dari wajahnya terlihat jelas kecemasan
"Ada apa dengan gadis itu? Apa hal tadi membuatnya sedih?" benak ku . Untuk mengetahui hal itupun aku menghampirinya, mencoba bertanya pelan pelan pada dirinya
"Uhm, Kath?" panggilku
Dia menoleh, disaat melihatku tatapannya semakin berbinar
"Kau kenapa Kath? Kenapa kau menangis?" banyak cara kupikirkan agar Kath tidak merasa terganggu dengan pertanyaanku namun dugaanku salah, Kath malah memelukku dengan erat membuktikan kalau pertanyaanku tidak sedikitpun menggangunya
"Daniel, apa kau bisa membantuku," isaknya namun perkataannya begitu serius
"Membantumu? Dalam hal apa Kath?"
Perlahan pelukan itu dia renggangkan, kini sebagian kepalanya berada di pundakku "Apa kau bisa berpura pura menjadi kekasihku Daniel? Kumohon," pintanya, karena terkejut aku menarik begitu saja tubuhku sampai kepalanya terbentur kursi
" Menjadi kekasihmu? Apa maksudmu Kath, untuk apa?" tanyaku begitu serius, mungkin karena ekspesiku Kath merasa kalau aku menolak tawarannya. Kini wajah sedihnya semakin menjadi jadi
"Sudahlah Daniel, aku tidak akan memaksamu," ucapnya dengan nada pelan dan dia pergi dengan murung
"Tidak, tunggu Kath. Baiklah aku mau menjadi kekasih pura puramu," perkataanku menghentikan langkahnya, dia berbalik dengan wajah bingung
"Kau serius?" pekiknya
"Iya, sayang!" ledekku, diiringi tawa khasku
"Daniellll!" pekiknya sekali lagi dia berlari kearahku dengan merenggangkan tangannya, kini kulihat dia bahagia, namun tetap aku ingin tau alasan kenapa dia menjadikanku kekasih palsunya
"Thank you Daniel, salamat, salamat po!" dia memelukku dengan sangat erat, dan disaat itu juga aku merasakan kalau Sheella sedang memelukku
.
.
.
To be continue
Typo, sorry👐
