Aku suka sekali dengan hujan. Rintik hujan membuatku damai, membuatku hidup. karena saat hujanlah aku terlahir di dunia ini.
Tapi karena Hujanlah hidupku berubah.
Aku membenci hujan di sisa hidupku ini...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Abel pov
Dia Rainy. Dia sahabatku. Dialah yang menjadi teman pertamaku saat aku pindah ke Indonesia. Dialah cinta pertama dan juga cinta sejati ku. Dan dia istriku.
Aku menghela nafas. Merasakan angin laut yang berhembus menerpa rambutku. Bisa kurasakan wajahku kotor oleh pasir. Dan saat aku menatap ke depan, Summer sedang melambai ke arahku. Gadis itu tampak sangat riang meloncat-loncat di atas air.
Tadi saat aku masih di pusingkan oleh pekerjaan di kantor, tiba-tiba Summer datang. Dan memaksaku untuk menemaninya ke sini. Dia yang masih belum mempunyai banyak teman di sini merasa akulah yang perlu menemaninya.
Tapi aku toh juga tidak menolak. Karena aku juga butuh di sini. Menenangkan pikir sejenak. Dari kejenuhan hari. Detik demi detik, dan jam demi jam berlalu tanpa sesuatu yang berarti.
Kumainkan pasir yang ada di bawahku. Menyisirinya di dalam genggaman tanganku. Waktuku hampir habis seperti pasir yang sedang aku genggam ini.
Rainy tetap tidak bisa di goyahkan. Selama ini aku nyaman dengannya. Aku mencintainya sejak pertama kali dia mengulurkan tangan untuk berkenalan. Gadis kecil yang lincah itu telah memikat hatiku. Tadinya aku pikir itu hanya cinta masa kecilku. Tapi seiring beranjaknya waktu. Bertambahnya usia, dia yang selalu ada di sampingku.
Rainy yang ceria, mudah bergaul dan selalu membuat suasana hati seseorang itu selalu menjadi bahagia. Rainyku.
Tapi itu dulu. Sejak kematian Rega, Rainy berubah. Dirinya menjadi wanita yang kaku dan tidak mempunyai jiwa. Cahayanya redup dan itu membunuhku.
"Kak Abel sini dong. Masa aku main air sendiri."
Suara Summer membuatku menatapnya. Tapi dengan cepat aku menggeleng. Aku tidak mau bermain air. Itu hanya akan mengingatkanku lagi kepada Rainy. Dulu, aku sering ke pantai ini dengan dirinya.
Suara Ed Sheeran tiba-tiba menggangguku. Lirik perfect langsung membuatku merogoh saku celanaku.
Hujan calling
Aku terkejut saat mendapati Rainy meneleponku. Dengan cepat aku langsung menjawabnya.
"Halo."
"Bel. Tolongin aku dong. Ban mobilku bocor. Aku gak bisa ganti. Tadi tuh aku baru mau ke kantormu. Ini tinggal satu blok lagi kamu bisa ke sini cepat kan?"
Tentu saja aku langsung bangkit dari dudukku. Tidak dipedulikan pasir yang masih menempel di celana dan juga kakiku. Aku berteriak memanggil Summer.
****
"Kenapa lama seka ..loh sama Summer?"
Rainy langsung menatap Summer yang ikut turun di sampingku. Aku sudah ngebut tapi apa daya macet menahan kami. Tentu saja di siang hari yang padat begini, jalanan Jakarta pasti tidak bisa membuat kita bernafas lega.