scene - 12

137 11 4
                                    

Kalau tadi seharian gue menculik YooChun dan membawanya ke tempat-tempat yang nggak lazim buat seorang artis Korea, kali ini giliran gue yang ‘diculik’ sama anak-anak TVXQ itu, dan gue berharap bakal pergi ke tempat yang lebih bagus daripada semua tempat yang gue datangin tadi.

Setelah bersiap-siap dan pada ganti baju, cowok-cowok ganteng itu membawa gue dan Ryan turun ke lobby dan bertemu dengan empat orang dari rombongan staf mereka plus tiga orang Indonesia yang rupanya adalah staf kedutaan besar Korea Selatan. Banyak banget. Gue tanya ama YooChun ke mana arah tujuan kali ini.

“Don’t know,” jawab YooChun sambil mengedikkan bahu. “Why don’t we talk to those Indonesian embassy people,” ajaknya sambil menggandeng tangan gue (lagi-lagi) dan mendekat ke arah para staf kedutaan. Ryan ngintil di belakang gue.

“Excuse me,” sapa YooChun ramah kepada para staf itu. “These are my old friends from Indonesia. They will come with us tonight.”

“Malam, Pak,” sapa gue. “Saya Cindy, dan ini Ryan.”

Tiga orang bapak-bapak (sebenernya sih kelihatannya masih umur 35-40an. Om-om lah) itu tampak terheran, tapi lalu menyalami kami.

“Oh, saya Hari dari atase kebudayaan,” ujar seorang om-om yang paling tinggi dan wajahnya ramah banget. “Ini Pak Yudi dan Pak Setyo dari Kedubes.”

“Wah, dik Cindy ini sudah lama berteman dengan YooChun?” tanya Pak Setyo.

Gue meringis. “Yaah, lumayan Pak, hehehe.” Sekitar delapan jam, batin gue. Ryan menyela, “Oh kita mah udah kenal lama Pak, sejak mereka baru debut jadi artis.”

Gue sampe perlu mencubit lengan Ryan diam-diam. Anak ini kalo terlalu semangat ntar bisa-bisa malah hiperbolis.

“Oh, dik Ryan ini bisa bahasa Indonesia, toh?” tanya Pak Hari agak heran. “Saya pikir bule asli.”

Ryan meringis dan tersipu-sipu (idih banget). “Bisa kok Pak, saya orang Indonesia asli lho. Walaupun Papa saya orang Kanada, tapi sejak kecil saya tinggal dan sekolah di sini. Jadi jangan samain saya sama artis-artis blasteran yang bahasa Indonesianya nggak beres ya, Pak. Logat saya asli Jakarta, nggak pake bechek-bechek English.”

Pak Hari manggut-manggut, sementara gue udah ngikik menahan ketawa. Gue tahu betapa sebelnya Ryan sama artis-artis blasteran Indonesia yang suka ngomong campur aduk Indonesia dan bahasa Inggris dengan logat yang agak ajaib.

“Uhmm, so where are we going tonight, sir?” tanya YooChun.

Yo oloh gue hampir lupa kalo tujuan utama YooChun menggeret gue ke orang-orang ini kan mau nanya hal itu.

“Well..., we will have some dinner and just hang out,” jawab Pak Hari. Lalu ia memandang gue. “Mungkin dik Cindy ada usul? Karena kan adik yang sudah lama berteman dengan YooChun dan para personel TVXQ. Saya kan nggak terbiasa dengan anak-anak muda Korea, apalagi artis.”

Nah loh. Gue bingung. Kalo dipikir-pikir, gue juga nggak terbiasa jalan-jalan sama artis Korea, Pak! 

“Emangnya Bapak rencananya mau ngajak makan di mana, Pak? Tanya Ryan.

“Ehm, tadinya saya pikir mau ajak mereka makan di restoran Korea, supaya mereka merasa seperti di rumah sendiri, begitu. Atau ada ide lain?” Pak Hari malah balik nanya.

“YooChun, would you prefer Korean food or any other restaurant?” tanya gue ke YooChun. Yang ditanya malah cuma senyum-senyums ambil mengedikkan bahu. “I think we’ll fine with any place.”

Yah elah. Jangan gue yang milih tempat lagi deh, bisa kacau ntar.

“Sebenernya sih yang paling penting ya Pak, kita musti cari tempat yang aman dari ABG-ABG yang kemungkinan besar tahu TVXQ. Karena kedatangan mereka ke Indonesia kan rahasia, jadi kita nggak boleh ke tempat-tempat yang terlalu ramai,” cetus gue ke Pak Hari.

One SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang