Perkamen Enam; Sebab dan Akibat

218 31 6
                                    

Perkamen 6; Sebab dan Akibat

***

Sepertinya Ravan kenal gadis yang meliriknya terus dari meja di ujung.

Dia sudah biasa diperhatikan, sudah jadi makanan sehari-hari malah. Makanya dia peka apabila ada yang memerhatikannya. Ayolah, siapa yang tidak terpancing memelototinya terus. Dia yakin seratus persen bahwa dia ini ganteng tak karuan, jadi dia harus terbiasa dipendeliki para gadis dari semua penjuru. Tapi dia tak peduli—karena dia punya Mudita. Semua gadis yang melototinya itu tidak ada apa-apanya dibanding pacarnya ini, jauh kalah. Jauuuh.

Namun, yang dia lihat kali ini membuatnya pening dan matanya berkaca-kaca. Rasanya seperti ada kilatan yang tiba-tiba datang di matanya kemudian hilang lagi. Gadis yang melihatnya di meja itu, membuatnya pening.

Dia pening karena kelebat mimpi yang menghantuinya lagi-lagi datang.

Kali ini mimpi yang menerornya datang dengan kelebatan yang lebih parah, menerjangnya dengan cepat dan penuh kemarahan. Seperti mimpi itu telah bersembunyi dengan lama untuk menyerang Ravan di waktu yang tepat. Sialan, kepalanya pusing sekali. Dia harusnya sudah tergeletak di lantai jika saja Mudita tidak menggenggam lengannya.

"Ravan? Are you okay?"

Ravan menggeleng mencoba mengusir pusing dan matanya yang berkaca-kaca untuk kemudian mengalihkan pandangnya pada Mudita yang menampakkan raut muka cemas. Tangannya yang lembut mengusap pelan kening Ravan yang berkeringat dingin.

"Kamu sakit, mending kamu pulang."

"I'm fine," ucapnya.

"No you're not. Kita pulang sekarang, atau aku gak akan pernah menemui kamu lagi?" Mudita mendesak.

"Aku gak ingin pulang," Ravan memejamkan mata dan menyandarkan keningnya pada pundak Mudita. "Aku ingin sama kamu."

Mudita menghela napas samar. Dia ingin Ravan pulang dan istirahat di rumahnya dengan maksimal. Tentu saja dia tahu sepuluh hari belakangan ini Ravan tidak bisa tidur dan selalu mengigau—Ravan sendiri yang cerita. Setelahnya badannya akan panas dingin. Kemudian jika Ravan sudah tidak kuat, dia akan menangis. Dan keadaannya akan berubah drastis saat fajar menjelang, badannya kembali normal dan napasnya teratur, tidak lagi mengigau dan tidur dengan nyenyak.

Selama tiga hari belakangan ini, dia selalu memerhatikan Ravan tidur seperti diteror oleh ketakutan. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan Ravan. Selalu mengusap keringat dinginnya dengan handuk hangat, mengelus kening lelaki itu, memeluknya, dan banyak hal lain yang telah Mudita lakukan. Tapi tak membuahkan hasil yang baik. Siklusnya selalu seperti yang telah dia perhatikan; kembali normal saat fajar menyingsing.

Mudita akhirnya menyerah, dielusnya kepala Ravan lembut dan ia rangkul. Dia menopang lelaki itu yang terus bersandar pada dirinya.

"Ya sudah, kita ke ruang kesehatan saja. Akan aku temani kamu sebentar, kemudian setelah kelasku selesai, kamu akan aku bawa ke klinik. Sepakat?"

Senyum Ravan terbit dan dia memeluk pinggang Mudita manja.

"Sepakat."

***

"Nay, Naya? Demi apa pun gak lucu, Nay. Naya! Naya!"

Kiara sudah panik setengah mati ketika menepuk-nepuk pipi Naya yang pucat. Tidak cuma pipi, seluruh tubuh Naya tiba-tiba saja dingin dan pucat. Bibir Naya yang semula merah delima menjadi sewarna dengan warna wajahnya. Kepala Kiara sudah melongok sana-sini untuk mencari bantuan kepada teman yang dia kenal atau pun yang Naya kenal. Tapi nihil, tidak ada yang dia kenal dan tidak ada yang menawarkan bantuan pada Naya.

Ablasi: WaktuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang