Perkamen 7; Mulai Mengerti.
***
Ravan menatap Naya lama. Baru saja dia tadi teriak-teriak marah dan mendadak sekarang dia melamun.
"Hei? Helloow? Lo masih di sana kan?" Ravan menarik selembar tisu dari nakas dan melemparnya ke arah Naya.
"Ini tidak seharusnya terjadi..." bisik Naya.
Ravan memutar bola matanya. "Memang, ini gak seharusnya terjadi. Gue harusnya udah di kelas dengan tenang dan meringkas materi yang dosen gue kasih, bukannya tiduran—"
"Gak-gak, bukan itu yang saya maksud." Naya perlahan menolehkan mukanya. Ditatapnya Ravan serius. "Saya punya firasat kita tidak seharusnya bertemu."
Ucapan Naya itu sukses membuat tawa Ravan meledak. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya Naya mengatakan itu padanya. Jika Ravan bisa memilih, dia juga ogah bertemu dengan Naya. Naya itu tampak seperti kesialan untuknya. Rasanya setelah dia bertemu Naya, semua berubah.
"Gue juga ogah kali ketemu lo." Ravan kembali membaringkan tubuhnya.
Naya menggeleng-gelengkan kepalanya resah. Segera dia menyambar tas tangannya dan turun dari bangkar, memakai flat shoesnya dan bergegas keluar dengan tergesa-gesa.
Di jalannya keluar unit kesehatan, dia menabrak Kiara yang langsung ia tarik untuk mengikutinya. Tapi dia terhenti dan menolehkan kepalanya ke Ravan untuk berkata sesuatu.
"Pastikan kamu jauh-jauh dari saya. Apapun yang kamu alami, saya juga mengalaminya, Ravan. Let's not see each other again."
Kemudian Naya sepenuhnya menghilang.
Hening yang melingkupi Ravan membuatnya mengerutkan kening dengan keras. Apapun yang dikatakan Naya, sama sekali tidak jelas dan tidak masuk akal. Ravan mungkin bilang Naya itu kesialan untuknya, tapi semua itu hanya bercanda! Astaga.
Apa yang gadis itu tahu? Ravan tiba-tiba memikirkan itu. Kenapa dia harus jauh-jauh darinya saat mereka bahkan tidak berhubungan pada apapun? Naya mengalami hal yang sama? Kalau begitu gadis itu juga merasakan mimpi-mimpi aneh yang dia rasakan.
Kalau benar Naya mengalami hal yang sama, dia harus tahu. Peduli setan dengan dia harus jauh-jauh darinya. Ravan sudah muak dengan mimpi tak berguna yang terus merajamnya tiap malam.
Dia harus bertemu gadis itu lagi.
***
"Nay, Naya! Kenapa sih?" tanya Kiara dengan keras.
Kiara hampir sampai di bangkar kesehatan Naya saat tiba-tiba dia diseret berkebalikan arah. Jalannya tergopoh-gopoh dengan tangannya menenteng tas bekal Naya.
"Aku ingin pulang,"
Alis Kiara menyatu.
"Kamu baru saja pingsan, Naya," suara Kiara tak yakin.
"Kepalaku sakit," Naya menghentikan langkahnya dan merenggut rambutnya keras.
"Ok-ok, aku antarkan kamu pulang. Aku bawa mobil,"
Naya hanya menganggukkan kepalanya lemas dan menurut saat Kiara membimbingnya berjalan. Ketika dia hampir berlari dari ruang kesehatan, dia hampir limbung jika saja tidak ada Kiara yang ia seret untuk menumpunya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ablasi: Waktu
General FictionABLASI /ab·la·si/ n (1) hal terlepasnya sesuatu dari sesuatu.