Perkamen Lima; Mimpi atau Kebenaran

278 28 3
                                    


Perkamen 5; Mimpi atau Kebenaran?

Perkamen 5; Mimpi atau Kebenaran?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Kanjeng! Kanjeng Putri! Utusan Majapahit telah datang!"

Naya merasakan dirinya memutar tubuh dan betapa kagetnya ia menangkap koridor megah dengan berjuntai beribu kain sutra emas di jendela-jendela besar di kanan-kirinya. Di hadapannya, seorang gadis memakai kemben batik coklat sedang berlari terburu-buru sambil membungkuk dengan tangan tetap bersedekap di perutnya.

"Ada apa? Kenapa gaduh sekali dirimu?" Naya merasakan dirinya berbicara.

"Kanjeng Putri Ayu, ada berita utusan Majapahit telah sampai di gapura kerajaan," jawab gadis itu terengah-engah.

Mata Naya berkedip cepat— tunggu, ini bukan tubuhnya. "Benarkah berita itu? Turun langsung dari prajurit kerajaan? Tak mengada-ada dirimu?"

"Benar, Kanjeng. Hamba sendiri lah yang menyampaikan sendiri pada Maharaja. Selepasnya, hamba langsung beritahukan ini pada Kanjeng Putri."

Naya merasakan semua itu layaknya Si Kanjeng ini adalah dirinya. Tapi dia tidak bisa apa-apa. Dia hanya seperti penonton, bedanya, dia ada di dalam diri orang itu.

"Kalau begitu, aku akan ke sana. Kau segeralah beritahukan ini pada Ibunda Permaisuri, dia pasti akan senang sampai mungkin akan melompat. Cepat, pergilah."

Hamba itu mengangguk dan tergopoh-gopoh meninggalkan dirinya—atau si Kanjeng Putri—atau siapapun—ini sendirian. Kanjeng Putri meremas tangannya gugup, kemudian berlari kecil menuju kamar pribadinya yang megah, diikuti seorang dayang setia.

Dia seharusnya berlanjut pada penglihatan itu, namun jiwanya ditarik dengan keras hingga semuanya gelap.

***

Mata Naya terbelalak ketika satu dorongan kencang membuatnya sulit bernapas dan terbangun tiba-tiba dengan tubuh yang disentakkan hingga punggungnya sedikit melengkung ke atas. Kerasnya hirupan napasnya menandakan dia meraup habis-habisan oksigen yang ada di kamarnya. Tangannya menggapai-gapai gelas berisi penuh air di nakasnya dengan perjuangan.

Naya menenggak airnya dengan sekali tarikan napas. Setelah itu, napasnya mulai teratur dan disandarkannya punggung pada kepala ranjang. Keringat membasahi tubuhnya hingga membuatnya merasa risih. Diliriknya jam yang tergantung di dinding.

Gila, ini jam dua pagi dan mimpi itu datang lagi.

Lidahnya mendecak kesal. Bagus sekali, bangun di jam dua pagi, dengan baju basah penuh keringat, bau, dan rambut lepek. Tidak ada yang lebih risih dari ini. Mau ganti baju—takut hantu, mau nambah minum—takut hantu juga, mau keramas—lagi-lagi takut hantu. Naya mendesah jengkel dan memejamkan matanya yang mengantuk. Mau tidak mau, dia merangkak menuju lemari dan menyambar kaos seadanya. Berjalan malas ke kamar mandi, menyalakan lampu, mencopot semua atasan termasuk dalamannya, dan memutuskan hanya memakai kaos saja. Setidaknya lebih hangat dari tadi.

Ablasi: WaktuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang