Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Rasanya seperti ada godam yang menghantam kepalanya saat Naya terbangun. Kepalanya berdenyut seiring dengan matanya yang terbuka perlahan, menampilkan segaris cahaya menyilaukan.
Dia menghembuskan napasnya. Menekan rasa sakit di kepalanya bukan hal yang mudah ketika dia mencoba menoleh. Bukannya mendapati dirinya berada di kosnya, dia malah melihat perawat berambut pirang yang tengah mengecek infus.
"You're awake," samar-samar didengar Naya suara perawat itu.
Mulutnya ingin menjawab, tapi rasanya tak sanggup barang membuka mulut. Jadi dia mengangguk saja.
"Wait a sec, okay? The doctor will be here immidiately. Want something to drink?"
Kepalanya menggeleng, tapi nampaknya perawat tersebut berpendapat lain. Bangkar yang dia tiduri mendadak bergerak ke atas dan membuat badannya setengah berbaring. Ditatapnya perawat yang menyodorkannya segelas air dengan kesal. Dia sudah bilang tidak ingin, kenapa di paksa sih?
"You'll need something to drink, girl."
Berisik. Alisnya mengerut tak suka, tapi tetap saja dia terima sodoran suster tersebut.
"Where am I?" tanyanya dengan suara serak.
Perawat tersebut tidak sempat menjawab karena pintu sudah menjeblak terbuka, terpampang wajah panik Kiara dan ibunya di belakang dokter rupawan berwajah oriental. Detik itu pula Naya mengerti dia ada di mana. Dia menggeram lemah dan membanting kepalanya ke belakang.
Sial, apa dia diboyong ke Australia? Sungguh, tanpa persetujuan dirinya? Dia mungkin baru pingsan tiga jam dan tubuhnya sudah seenaknya dibawa ke luar negeri. Tidak ada yang berlebihan hanya dengan pingsan. Semua orang pasti pernah pingsan, bukan?
"Ibuuuu?" geramnya pelan.
"Good morning, Miss. You okay?"
Dia melemparkan tatapan tajamnya pada dokter dungu yang cengengesan di depannya. Dokter bodoh mana yang bertanya "Kau baik-baik saja?" pada seorang pasien yang baru saja siuman.
"Saya gak baik-baik saja, bodoh."
Dokter tadi tertawa dan mencubit pipi Naya pelan. Disambut tamparan pada punggung tangan lelaki itu. Senyumnya tidak juga luntur ketika tanganyya menelusup pada kantong jas putihnya.
"Kalau dia sudah ganas begini, dia sudah siuman, Bude." Dia tertawa.
Devi menghembuskan napasnya lega. Naya diam saja saat Devi merayapi kepalanya dengan elusan-elusan lembut.