4 - Keberadaan yang berharga

231 27 2
                                        


Koki, bagaimana keadaanmu?

Emm, ibu... mengirimkan uang ke tabunganmu.

Jumlahnya memang tidak banyak.

Tapi gunakanlah jika diperlukan.

...

...

Kalau begitu jaga kesehatanmu.

Piiip

Suara televisi tak membuat suara ibu Koki teredam. 'dia hanya meninggalkan pesan suara. Apa tidak bisa kau datang dan menyerahkannya sendiri?' batin Koki. Pandangannya mengarah pada telepon rumah yang baru saja memperdengarkan suara ibunya. Sesaat setelah itu, handphone-nya juga berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.

Ayah di luar kota.

Sudah ayah kirimkan uang ke tabunganmu.

Jangan lupa makan.

'lebih baik kau kirim pesan suara saja'. Bluk, Koki melempar handphone-nya ke atas sofa lalu membenamkan kepalanya menggunakan bantal. 'kalian lupakan saja kalau aku hidup' batinnya kesal lalu kini melempar bantal penutup kepalanya ke atas sofa pula.

Tingkah Koki mulai aneh. Wajah dan matanya memerah. Untungnya Tomoya berhasil menghentikan tangannya yang kali ini hendak melempar remote tv dan membuat Koki memandangnya dengan tatapan menakutkan. "hah..." Koki sadar dengan tingkahnya, kemudian meminta maaf dan membatalkan niatnya.

Kesedihan itu menyeruak lagi tadi. kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidak mengkhawatirkan dirinya membuat Koki ingin menghilang. 'apa yang mereka pikirkan? Uang? Apa hanya uang yang aku butuhkan. Aku membenci mereka. Mereka orang yang paling aku benci di dunia ini!' Koki berdiri tiba-tiba dan membuat Tomoya di depannya menoleh karena terkejut.

"ayo kita keluar. Aku akan mentraktirmu. Aku punya banyak uang sekarang!" katanya bersemangat seraya mengambil jaket untuknya dan Tomoya.

Tomoya berdiri setelah Koki melemparkan jaket padanya. "kau mau beli roti?" tanya tomoya sambil memakai jaketnya.

"lupakan tentang roti, kau bisa makan apa saja"

Tomoya hanya mengangguk dan mengikuti kemana Koki pergi. Di dalam pikirannya dia berpikir mungkin Koki sudah bosan dengan roti.




Dan disinilah akhirnya mereka. Di hadapan berbagai jenis makanan yang bahkan Koki sendiri tidak ingat apa nama yang waitress tadi sebutkan. Si pemesan pun terpesona. Dia tidak berpikir dirinya berani masuk ke tempat ini sendirian dan memesan menu spesial yang biasanya di pesan oleh satu keluarga. Sedangkan Tomoya di depannya hanya diam memandangi Koki dan memperhatikan tingkahnya yang terlihat aneh.

"aaaa.... ehehe. Anu, apa ya?. itu, ayo makan! Ayo mulai makan!" katanya sambil mengarahkan garpu dan pisaunya kearah lobster berukuran besar di depannya, namun urung di lakukan. "apa sebaiknya aku makan yang ini duluan ya" Koki berniat mengambil sedikit daging kepiting yang juga berukuran besar yang berada di depan Tomoya, namun lagi-lagi dia membatalkannya.

"sepertinya kau kebingungan. Apa sebaiknya kita beli roti saja?" Tomoya meletakkan garpu yang ia pegang dan berdiri hendak mengajak Koki pergi.

Koki mengibas-ngibaskan tangan kanannya. "sudah kubilang lupakan tentang roti" Koki mengambil makanan yang berukuran satu kali suapan untuk satu porsi, lalu memakannya. Ah, ternyata masih ada makanan yang terasa lezat di mulutnya. "makanlah" katanya tersenyum pada Tomoya.

You're Not AloneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang