HP Koki berdering keras. Tanpa beranjak dari kasurnya, Koki berusaha menggapai Hpnya di atas meja. "emm?" ia masih mengantuk berat.
Ada malam dimana Koki sulit tidur karena matanya selalu mengajaknya bergadang. Kadang ada pula malam dimana Koki tidak tidur sama sekali. Dan malam ini saat dia baru saja dapat tidur jam 3 pagi tadi, sebuah panggilan memaksanya bangun.
"OY Koki! Bangun! Kau harus sekolah!!!"
Koki menjauhkan benda itu dari telinganya. Orang diseberang sana terdengar terlalu bersemangat dan teriakannya cukup membuat Koki meringis. Takut kesiangan, Ia kemudian memeriksa Hpnya "tidur sana! Ini baru jam 5!" katanya kesal.
Hyoma tertawa renyah mengabaikan Koki yang mungkin saja diseberang sana ingin sekali memukulnya. "kalau begitu aku tunggu kau di sekolah, OKE!" kemudian Hyoma memutus panggilannya.
Koki meletakkan kembali HP-nya ke atas meja. Kemudian menarik selimutnya dan berusaha untuk tidur lagi. Setidaknya ia ingin melanjutkan tidurnya barang 1 jam saja.
5 menit
10 menit
...........
Koki kembali membuka matanya "dasar Hyomaa...!" keluhnya geram seraya bangun dari tidurnya. Sekarang matanya segar dan tidak bisa diajak tidur lagi.
Beberapa saat kemudian dia menyadari futon dan pengguna yang biasanya tidur disebelah kasurnya sudah tidak ada. Tak lama atensinya menyadari ada suara TV dari lantai bawah.
"suaranya nyaring sekali" gumamnya.
Ia berniat menghampiri Tomoya. Namun butuh waktu sedikit lebih lama bagi Koki mengajak tubuhnya bergerak turun dari kasur. Setelah hampir setengah jam Koki melamun, akhirnya ia menggerakkan kakinya.
Baru saja ia akan beranjak bangun HP-nya berbunyi lagi. "Hyoma..." katanya kesal. Mungkin anak itu ingin mengganggunya lagi karna berpikir Koki akan kembali tidur. Meskipun niat awalnya memang begitu. Koki membiarkannya sampai panggilan itu berhenti barulah Koki meraih dan memeriksanya.
1 panggilan takterjawab: Ibu.
Koki meletakkan HP-nya pelan. Ia sedikit terkejut dan bersyukur tidak mengangkatnya.
Hati Koki belum siap.
Beberapa saat kemudian panggilan itu terdengar lagi. Kali ini Koki melihat nama Ibunya terpampang jelas dan membuat Koki lagi-lagi enggan menyambutnya. Dia ragu. Apa yang harus dia katakan?.
sudah hampir 4 bulan lamanya Koki tidak bicara dengan ayah dan ibunya. Sebenarnya seorang Koki terkadang merasa sangat menderita dengan sikap 'Tsundere' yang ia miliki.
sikap ini sepertinya yang membuat Koki merasa orang dewasa seperti kedua orang tuanya harus bersikap dewasa dan menyadari kesalahan mereka. karena itu dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan merengek meminta ayah dan ibunya kembali pulang ataupun meminta mereka kembali memberikan perhatian padanya.
'tapi, aku ingin bicara'
dorongan ini, apa Koki merindukan ibunya?. rasanya menyakitkan sekali bahkan hanya dengan melihat nama ibunya yang tak kunjung hilang dari layar. 'apa yang akan ibunya bicarakan?'. ingatannya membawanya pada tiga hari yang lalu. ah lagi lagi, denyutan itu kembali terasa, menyesakkan.
akhirnya ia memutuskan untuk bicara. perasaan ini, rindu atau kemarahan ini, Koki tidak akan pernah tau jika dia tidak memeriksanya sendiri.
Koki mengambil HP itu dengan cepat namun ia terlambat beberapa saat sebelum panggilan itu berakhir.
Koki menenggelamkan wajahnya ke kasur. Ia sedikit menyesal. Dia menatap layar HP itu, menunggu beberapa saat berharap Ibunya kembali menelpon. "ayolah... ayolah" tangannya mengguncang-guncang benda itu walaupun dia tau apa yang dia lakukan tidak berguna dan selama lebih dari 5 menit berlalu tak ada panggilan lain yang masuk.

KAMU SEDANG MEMBACA
You're Not Alone
FanfictionKoki Lelah, dan ingin mengakhiri semuanya. sebelum seseorang berkata "hidupmu masih berharga. karena sebenarnya kau tidak pernah sendiri" dan Koki tau, ada sisi baik jika dia masih hidup. namun, orang ini malah mencoba mengakhiri hidup lebih banya...