Bagai dungu yang berharap kedunguan menghampirinya. Dungu yang selalu berharap memeluk bulan, menanti bintang jatuh tuk dimiliki.
Hanya si dungulah yang mampu setia mengabaikan perih tuk tetap dapat melihat rembulan. Menanti dalam duka sebuah sapaan hangat direlung hatinya.
Pada si dungulah penantian takdir singgah dengan kesayangannya, mengukir kembali suka diatas lukanya.
Dungu dalam harapan kosong, menatap nanar pada bintang. Iri pada sinarnya yang membuat bulan terlihat indah.
Pengelana jiwa meminjam pena pada dungu, membuat pena menari di tengah awan, mengukir sesuatu yang menghibur sang dungu.
Pengelana mencoba mengganti bulan dengan gumpalan awan yanh diwarnai, berharap si dungu merelakan setengah hatinya pergi.
Dungu yang tak pernah berakal, hidup dengan segenggam rasa yang ia simpan. Tetap setia menanti bulan dalam keheningan dukanya.
Menatap langit berharap bulan kan menyapanya, karna sang bulanlah si dungu dapat bertahan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Kata Satu Rasa 2
PoetryKehidupan yang terus berlanjut walau apapun yang terjadi, begitupun dengan ceritaku yang akan terus menemukan ide baru.