Perlahan sangat pelan, waktu terus beringsut maju lambat namun pasti, meninggalkan jejak-jejak kenangan dibelakangnya. Rasa sakit, lelah, bahagia semuanya bergerak pelan mengikuti sang waktu. Rasa disini hanya sanggup mengamati jejak-jejak kenangan sang waktu, hanya meratapi kekeliruan yang tlah tertinggal.
Maafkan aku, penyesalan sang jejak pada waktu dan kenangan. Karna jejak hanya dapat mengukir tanpa menghapus kenangan. Aku rindu, ratap sang jejak pada kenangan yang terus meninggalkannya. Bawalah aku, rintih jejak pada waktu yang terus beringsut menjauh.
Makian, hanya makian yang terdengar dibelakang. Jejak-jejak itu terus memaki dan memaki, merutuk dan mengeluhkan ukiran kenangan. Jauh didalamnya, jejak merindukan kenangan dan waktu. Merindukan saling mengukir dan membuat berbagai tanda disepanjang perjalanan.
Kenapa jejak tak pernah mengakui rasa sebenarnya untuk kembali pada waktu dan kenangan. Dan membiarkan tangan takdir yang menentukannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Kata Satu Rasa 2
PoetryKehidupan yang terus berlanjut walau apapun yang terjadi, begitupun dengan ceritaku yang akan terus menemukan ide baru.