Tak terasa, kami pun sampai di tujuan. Aku dan Calum keluar dari mobil dan melihat gedung putih megah di depan mataku, Calum membawaku ke museum.
"Cal, kau membawaku ke museum?" Tanyaku.
Calum mengangguk dan menjawab, "Art gallery, actually."
Ya ampun, dia membawaku ke tempat favoritku. Aku bahkan tidak tahu kalau di kota ini ada Art Gallery. Ya, aku jarang bepergian.
Kami pun masuk dan langsung bertemu dengan lukisan - lukisan artisik dan penuh makna disana. Aku masih saja tak kuasa menerima pemandangan indah ini. Seni adalah hidupku.
Aku mulai menggambar saat umur 5 tahun. Jari - jari kecilku dulu sudah bisa menghasilkan gambar - gambar tokoh - tokoh kartun kesukaanku dan yang lainnya.
Hingga sekarang, aku bisa menggambar sangat detail. Pemandangan, jalan raya, bahkan wajah seseorang yang kusuka.
Calum.
Mataku mengeksplor lukisan - lukisan di sekitarku dan menghampirinya, bersama Calum.
"Warnanya sangat mencolok, aku suka." Ujarku sambil menelusuri lagi lukisan yang berada di depanku.
"Ya, sangat indah," Seru Calum.
"Tetapi, kenapa kau tidak pernah memberi warna kepada gambar - gambarmu?" Calum bertanya kepadaku.
"Aku memang suka warna, tetapi aku lebih suka sesuatu yang monokrom. Terlihat lebih misterius, menurutku."Jawabku.
"Kita jadi bisa bertanya - tanya, bagaimana sosok asli dari gambar ini. Apakah dia lebih indah atau diluar ekspektasi dari gambar tanpa warna ini." Calum tersenyum dan merangkulku sambil berkata,
"Aku suka saat kau berbicara seni seperti ini."
Kami pun menjelajah lagi galeri ini. Sepanjang perjalanan, Calum merangkulku diselingi mencubit - cubit pipiku. Aku tak bisa menahan senyumku. Calum juga meminta opiniku tentang berbagai lukisan di galeri ini. Aku hanya menjawab seadaku tetapi dia selalu bertepuk tangan seakan aku mengatakan hal yang sangat jenius tentang lukisan itu.
Sungguh, aku tidak pernah melihat sisi Calum yang seperti ini. Lucu, periang dan sangat - sangat memiliki humor yang rendah.
Dia hanya melihat lukisan monyet memakai dress lalu tertawa begitu saja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hei--shh. Kau ini." Dia masih saja tertawa sambil menunjuk lukisan itu dan akhirnya, kutarik dia untuk lanjut berjalan lagi.
Akhirnya, perjalanan kami selesai. Aku dan Calum puas mencuci mata kami dengan lukisan - lukisan indah tadi.