Terduduk di atas beludru
Menatap hembusan pertiwi di kaki pintu ....
Perlahan-lahan ia berhembus
Memeluk kaki, memeluk tulang
Pertiwi seperti sedang bermain-main
Ketika tidak ada lagi yang mengais
Mereka bilang pertiwi itu buta
Tak pernah ada, tak pernah rasa
Tak pernah membalas, yang ada hanya tuntutan
Kini, ketika hembusan itu menghitamkan daging dan memeluk raga itu pulang, yang tersisa hanyalah tangis ....
Bahkan di mimpinya sekalipun, ia tetap merasa sesakit ini.
CA 09/02/18
***a/n : Merayakan tercapainya 50k readers! Terimakasih buat dukungannya selama ini❤️

KAMU SEDANG MEMBACA
1001 Kata Untuknya
PoetrySebuah kesedihan dan rasa sakit yang dipersembahkan bukan untuk seseorang, melainkan sebagai penanda untuk diri sendiri bahwa rasa sakit itu ternyata bisa diubah menjadi sebuah karya. Jangan berharap banyak. Ini hanyalah ungkapan sederhana yang dipe...