Jejak kaki di atas pasir itu masih sama
Dua pasang, bersisian.
Jejak kaki di atas pasir itu masih ada
Belum tersapu air, utuh.
Jejak kaki di atas pasir itu masih nyata
Tak terpisahkan, terus berjalan.
Kemudian satu pasang jejak kaki di atas pasir itu perlahan sirna
Menyisakan yang lain dengan luka dan tanya.
"Kenapa luka?"
Sekarang, bayangkanlah jejak kaki yang sirna itu kamu, dan yang bertahan adalah aku.
Sudah?
Maka jawabannya sederhana : Diri naif ini terlalu terpaku pada bagaimana kita dapat terus berjalan bersama dalam tawa tanpa henti, dan tidak menyadari sepasang jejak lain (yaitu kamu) telah menuntunku kepada jalan berbatu, lalu pergi begitu saja...
Sekarang kalau bukan brengsek, kau sebut apalagi itu?
CA 12/04/18

KAMU SEDANG MEMBACA
1001 Kata Untuknya
PuisiSebuah kesedihan dan rasa sakit yang dipersembahkan bukan untuk seseorang, melainkan sebagai penanda untuk diri sendiri bahwa rasa sakit itu ternyata bisa diubah menjadi sebuah karya. Jangan berharap banyak. Ini hanyalah ungkapan sederhana yang dipe...