Setelah beberapa menit sejak bel pulang berbunyi, Stephanie masih berada di lorong.
Menunggu sepinya sekolah, ia membaca beberapa buku.
Seperti biasa.
Setelah sepi, ia akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari sekolah nya dengan kepala menunduk dan buku di tangannya.
Kepalanya yang awalnya menunduk kini mendongak dengan terkejut.
"Stephanie, ini, dipakai ya,"
Sebuah helm terjulur pada Stephanie.
"Ini buat apa?" Tanyanya ketus sambil mengambil helm itu.
"Udah, pakai aja. Kita mau pergi nih," Jawabanya.
Stephanie lalu memakai helm tersebut dan berjalan ke arah sepeda motor nya.
"Tapi, kita mau kemana?" Tanya dengan suara seperti berbisik.
"Udah, ayo naik," Kata laki-laki itu sambil menepuk tempat duduk sepeda motornya dan tersenyum hangat.
Stephanie pun memakai helmnya dan naik ke sepeda motor laki-laki itu.
"Okay deh, Charles,"
🥀🥀🥀
Sepeda motor Charles berhenti di sebuah Cafè.
Saat turun dari sepeda motor nya, Charles menarik tangan Stephanie masuk.
Kriiing.
Suara bel berbunyi karena Charles membuka pintu Cafè tersebut.
Mereka lalu memilih tempat duduk yang berada di pojok ruangan.
Seorang pelayan pun menghampiri mereka.
"Steph, Lo mau mesan apa?" Tanya Charles lembut.
"Cappucino,"
"Mas, Cappucino nya satu, Caffè Mocha nya satu,"
Setelah pelayan tersebut pergi dengan pesanan mereka, Stephanie lalu mengambil beberapa buku dari tasnya.
"Charles, kamu kenapa ajak aku ke Cafè?"
Setelah mendengar pertanyaan itu, senyum Charles tersungging.
"Soalnya gue mau Lo belajar dengan tenang, ya sekalian mau ngobrol bareng Lo," katanya santai.
Stephanie hanya menganggukan kepalanya.
"Makasih ya,"
Charles tersenyum kembali.
Dia selalu tahu kalau Stephanie menyukai Cafè karena ia bisa tenang belajar di sana.
Setelah pesanan mereka datang, Stephanie mengambil Cappucino nya dan menghirup nya.
Charles terkekeh melihat nya.
Mendengar kekehan nya, Stephanie menatap Charles tajam.
"Ada apa?" Ketusnya.
"Eeh, Enggak ada kok," Katanya sambil menghentikan kekehan nya.
Stephanie hanya menggidikkan bahunya.
Charles lalu mengambil Sketchbook nya dan menggambar sesuatu di atas lembar itu.
Selama Stephanie membaca, Charles hanya sibuk memerhatikannya dan menunduk ke bukunya dengan tangannya yang bergerak di atas kertas dengan lincah.
Keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Hanya nafas yang terdengar di antara keheningan mereka.
Setelah beberapa lama, Stephanie menyadari bahwa dia sedang diperhatikan.
"Sedang apa kamu?"
Saat Charles sedang menghapus garisan nya, kepalanya langsung terdongak mendengar suara Stephanie.
"Haha, gue hanya menggambar kok," Charles tersenyum sambil menunjukkan deretan gigi nya.
"Aku boleh lihat?" Tanyanya ragu.
Senyum Charles terbit kembali, ia seperti sudah menunggu pertanyaan itu dari tadi.
"Silahkan, Nona Stephanie," Katanya sambil mengulurkan Sketchbook nya.
Charles tersenyum lebar, tidak sabar dengan reaksi Stephanie.
Saat melihat hasil gambarannya, matanya sempat melebar dan akhirnya kembali semula.
"Woah, ini sangat bagus," Katanya sambil mengembalikan Sketchbook Charles.
"Hehehe, makasih Steph,"
Stephanie tersenyum kecil dan meneguk Cappucino nya.
Charles sangat bahagia, ia telah berhasil membuat Stephanie memuji sekaligus tersenyum karena karyanya.
Akhirnya semua usaha dalam latihannya terbalas.
Ia sangat berterimakasih dalam hati.
Ia pun meneguk Caffè Mocha sampai habis.
Ia betul-betul tidak bisa berhenti tersenyum. Sesuatu sepertinya menggelitik harinya dan itu adalah Stephanie.
Untunglah Charles sempat melihat senyum itu. Dan ia akan menyimpan memori yang ditangkapnya itu selamanya.
"Um, Steph,"
Stephanie langsung mendongakkan kepalanya.
"Ada apa?" Balasnya.
"Gue bisa minta lo menandatangani di sini gak?"
"Boleh," Kata Stephanie singkat.
Stephanie lalu mengambil sebuah pena dan menandatangani lembar yang terisi dengan gambar dirinya.
"Thank you, Stephanie," Kata Charles tulus.
Charles lalu mengambil penanya dan menuliskan sesuatu dibawah gambar Stephanie olehnya.
"Nama Lo udah menjadi gula di lidah gue. Gue awalnya hanya tau kepahitan dalam cinta, tapi sekarang Gue merasakan manisnya cinta karena Lo,"
Ia lalu menutup Sketchbook nya dan melihat Stephanie dan tersenyum.
Dan Stephanie membalas senyumannya.
Ia pun tersenyum dengan manis, menyembunyikan kepahitan kehidupannya.
Charles ingin hari ini tidak pernah berakhir.
Ia ingin selamanya berada di situasi ini, berbalas senyum dengan pujaan hatinya.
'Hahaha, I'm so lucky to be with you,'
🥀🥀🥀
Thanks for reading :"3
I'm sorry for Slow Update, my life is very difficult too QwQ)
I really want to continue, but sometimes I just got distracted by things that made be blind.
But I'll try to write more.
So sad, isn't it? Ha— 'v')/
Anyways, thanks and I'm so sorry~ TwT)9
KAMU SEDANG MEMBACA
Stephanie & Stephen
Ficção Adolescente"Di Balik Setiap Kesempurnaan, Selalu Ada Kekurangan" ---- Hidup dalam derita, itulah dia. Terlalu terbiasa untuk mendendam rasa sakit sendiri. Hingga rasa sakit itu melunjak dan menyebabkan kesalahan fatal. 'Stephanie' Beribu-ribu harta ber...
