f O U r

3.1K 273 56
                                        

Tubuhnya kedinginan di tengah-tengah ruangan yang menjadi tempatnya dikurung oleh pria bajingan bermata biru. Perutnya berbunyi dan terasa sakit, menandakan ia belum mengisinya dengan makanan. Bibir dan tenggorokannya terasa kering karena ia butuh air.

Ia hanya meringkuk, menekuk kakinya dan melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk tubuhnya sendiri. Ia butuh sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya. Ia butuh makan. Ia butuh minum. Semua itu bisa ia dapatkan dalam kesehariannya di luar sana. Ya, dl luar sana saat ia belum terkurung di tempat terkutuk ini.

Matanya terasa berat. Pandangannya menggelap, tapi ini bukan kantuk. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya karena ia merasa sebuah lubang hitam raksasa menghisapnya dengan sangat kuat.

Bunyi dari kunci yang diputar membangunkan Cara dari tidur ayamnya. Pintu besi dibuka dan ditutup kembali oleh seseorang. Langkah kaki berat dari orang itu menggema, memenuhi ruangan dan membuat jantung Cara semakin berdegup kencang. Ia tahu itu pasti si mata biru.

Pria itu berjongkok di hadapan Cara. Tangannya menjepit dagu Cara, menariknya hingga gadis itu bertatapan dengannya. Diamatinya tubuh Cara yang menekuk seperti janin.

Rambut gadis itu terlihat berantakan dan kusut. Pipinya yang menyentuh lantai tampak kotor karena ditempeli debu. Sinar di matanya tampak redup.

"Kau lapar?" Tanya pria itu yang tidak direspon sama sekali oleh Cara.

"Kau haus?" Tanyanya lagi dan Cara hanya diam.

"Kau kedinginan?" Pertanyaan ketiga yang terlontar dari mulutnya dan lagi-lagi tidak mendapatkan respon dari Cara.

Ia menatap sinis pada gadis keras kepala yang ada di hadapannya. Mogok bicara rupanya?

Tangan kirinya meraup rambut Cara, menariknya kuat hingga membuat gadis itu menjerit dan bangkit duduk. Menurutnya ini usaha yang bagus untuk memberi gadis itu pelajaran agar tidak mengabaikan pertanyaannya.

Cara menepis tangan pria itu dari rambutnya. Ia mengusap sendiri kepalanya yang terasa berdenyut dan nyeri karena kelakuan pria bajingan di sampingnya.

Pria itu menyodorkan sebungkus roti dan sebotol air mineral yang sudah ia bawa sedari tadi ke hadapan Cara. Namun, gadis itu tetap diam, tak mau menerima makanan dan minuman yang diberikan si mata biru.

"Makan dan minumlah dulu. Setelah itu, aku akan menghangatkanmu." Seringaian iblis muncul dari bibir pria yang masih mengenakan topeng itu.

Cara terkesiap mendengar ucapannya. Ia menatap geram karena tahu maksud kata 'menghangatkan' yang disebutkan pria itu. Tangannya yang masih ia gunakan untuk mengelus kepalanya, kini beralih fungsi, menampik roti dan botol air mineral yang tersaji di depannya.

Roti dan botol air mineral itu terlempar, berserakan di lantai. Hal itu lantas membuat geram si mata biru dan itu sangat berbahaya bagi Cara.

"Kenapa kau lempar, heh?" Lelaki itu menjambak kembali rambut Cara, membuat gadis itu meringis.

"Kau tidak ingin makan? Jawab!" Bentak pria itu yang membuat Cara memejamkan matanya.

"Atau kau tidak ingin makan karena kau ingin aku menghangatkanmu?"

Suara pria itu merendah, tidak seperti tadi. Suara rendah pria itu malah membangkitkan bulu roma di tengkuk Cara karena terdengar menyeramkan di telinganya.

"Baiklah. Dengan senang hati aku akan menurutimu."

Dengan gesit, pria itu menanggalkan kaos yang Cara kenakan. Perlawanan yang dilakukan oleh Cara tidak membuatnya kesulitan untuk dapat melepaskan satu-satunya kain yang menutupi tubuh indah gadis itu.

Caramella MykelCerita yang buat anda obses. Terokai sekarang