E l E v E n

3.3K 337 55
                                        

Cerita ini diupdate karena paksaan(😛) seorang author yang katanya lagi gabut. Lagian juga aku takut kalau nggak nurutin dia, novel yang dia kirim bakal di-cancel. 😢😭

Happy reading!

^^

"Bagaimana?" Seorang pria yang duduk di balik kemudi melemparkan sebuah pertanyaan pada pria berseragam yang baru masuk ke dalam mobilnya.

"Benar, itu rumahnya, tapi yang satu tidak ada di sana." Pria yang baru masuk ke dalam mobil menjawab sambil menyalakan rokoknya.

"Maksudmu?"

Pria berseragam itu menoleh. "Aku sudah pernah bilang kalau mereka kembar, bukan? Kuambil satu nama dari mereka dan memakai nama itu sebagai penerima barang yang kukirim."

"Lalu tadi bagaimana?"

"Tidak terjadi apa-apa karena dia tidak ada di rumah."

"Ah, aku masih bingung."

Pria berseragam itu berdecak kesal. "Kalau tadi yang membuka pintu, si gadis yang pernah kusekap, pasti dia mengenaliku. Entah dari warna bola mata atau suara, tapi tadi tidak ada respon apa-apa dari gadis di rumah itu. Jadi, dari situ aku tarik kesimpulan, gadis yang berada di rumah itu saat ini adalah Moza."

"Ah, aku paham. Gadis yang pernah kau sekap itu pasti akan ketakutan atau paling tidak ada gerak-gerik yang menandakan dia waspada ketika melihatmu. Karena tadi yang melihatmu tidak memiliki respon seperti itu, jadi kau beranggapan bahwa gadis yang barusan itu adalah kembarannya. Begitu, kan?" celetuk pria di balik kemudi.

"Exactly."

"Apa langkahmu selanjutnya?"

"Mencarinya. Sudah, kau urus saja kasus hilangnya Carlos."

"Siap, bos!"

Secepatnya kita akan bertemu, Caramella.

***

Moza berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Reyes, satu-satunya siswa laki-laki di sekolah ini yang membencinya. Ketika jarak mereka sudah dekat, Moza menarik lengan Reyes hingga langkah kaki laki-laki itu berhenti.

"Ada apa?" Pertanyaan singkat seperti muak, keluar dari mulut Reyes.

"Apa benar kau akan pindah ke Finlandia bersama Cara?" tanya Moza dengan napas terengah-engah.

"Kau tak perlu tahu."

Reyes melepaskan paksa pegangan Moza pada lengannya. Ia kembali berjalan meninggalkan gadis itu. Namun, lagi-lagi Moza menahannya.

"Reyes, izinkan aku ikut dengan kalian."

Reyes mengangkat sebelah alisnya kemudian ia tersenyum mengejek pada Moza.

"Kau hanya akan merusak semuanya jika aku mengajakmu. Kau juga akan membuat Cara semakin sengsara. Lebih baik pulanglah ke negaramu."

Moza menggeleng dengan cepat. Tangan Moza memegang kedua lengan Reyes. Ia menunjukkan puppy eyes yang dibuatnya sambil memohon agar laki-laki itu menuruti keinginannya.

"Kau ini keras kepala sekali! Sudah kubilang, aku tidak akan mengajakmu. Sana pergi!"

Reyes menghempaskan lengannya agar Moza mau melepaskkannya kemudian ia melangkah meninggalkan Moza yang masih berteriak kesal padanya. Ia muak dengan gadis itu. Kenapa tidak mencoba berusaha hidup mandiri daripada mengusik ketenangan orang lain?

***

Cara mengeluarkan barang-barangnya dari laci meja. Ia tampak sibuk dengan kegiatan yang membuat kamarnya tampak berantakan seperti habis terjadi gempa bumi. Beberapa barang berserakan di lantai, bahkan ada yang di atas ranjang.

Caramella MykelTempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang