Suara deringan ponsel mengganggu tidurnya, membuatnya terjaga sepenuhnya, padahal baru satu jam ia memejamkan mata setelah semalam bergelut dengan beberapa botol minuman keras. Tangannya menggapai ponsel yang tergeletak di meja nakas.
"Hmm," gumamnya sebagai pembuka percakapan.
"..."
"Oh, shit!" umpatnya dengan keras sebelum ia mematikan sambungan dan mengecek waktu yang tertera di layar ponsel.
Masih pukul 05.30 dan ia mendapat kabar yang mengejutkan dari rekannya.
Ia bergegas turun dari ranjang, meraih jaket yang tergelatak di ujung ranjang dan memakainya. Dengan langkah tergesa ia berjalan keluar rumah menuju teras rumah di mana ia meletakkan motor balapnya.
Biasanya ia akan menggunakan mobil ketika pergi. Namun, akhir-akhir ini ia lebih menyukai motornya daripada kendaraan roda empat miliknya.
Setelah menaiki motornya, ia menyalakan kendaraan itu dan melajukannya dengan kencang menuju markas. Udara pagi yang saat ini terasa menusuk tulang tak dihiraukannya. Yang terpenting adalah ia sampai markas dengan cepat.
Jarak markas yang dekat dengan kediamannya disertai kecepatan motor balapnya membuatnya tiba di markas dengan cepat. Ia memarkir motornya sembarangan sebelum berlari dengan kencang untuk memberikan tendangan pada sosok pria bertubuh besar.
Pria yang ditendangnya sedikit memundurkan tubuhnya. Tanpa menunggu lebih lama, ia menyerang lagi pria itu hingga tumbang.
Tak cukup sampai di situ. Ia kembali bertarung dengan beberapa pria lainnya yang ternyata memenuhi halaman markasnya. Ia juga bisa melihat para anak buahnya melawan orang-orang asing yang belum diketahui motif dibalik penyerangan ini.
Bala bantuan datang. Beberapa rekan dan anak buahnya yang lain datang membantu. Mereka dapat menumbangkan orang-orang asing itu.
Ia menginjak kepala botak milik seorang pria yang kini telah terkapar di tanah. Ditatapnya pria itu sebelum ia bertanya, "Siapa kalian? Kenapa tiba-tiba menyerang?"
Pria itu hanya tersenyum meremehkan sebelum berkata, "Nanti kau juga akan tahu."
Merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan, ia semakin menekan kepala pria itu dengan kakinya. Namun, baru ia melancarkan aksinya, seseorang menyerangnya dari belakang hingga ia jatuh terjembab di atas tanah.
"Keparat!" umpatnya sebelum bangkit dan melawan seseorang yang menyerangnya tadi.
Kini penyerang yang dihadapinya lebih banyak dari yang tadi. Semua rekan dan anak buahnya telah terkapar, menyisakan ia seorang yang berusaha membalas serangan dari dua orang meski tubuhnya telah terluka parah.
Bruk!
Ia jatuh ke tanah, terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Paru-parunya terasa menyempit seakan tak mampu untuk meraup oksigen. Perih juga terasa di seluruh tubuhnya, terutama bagian perut dan dadanya.
Kepalanya terasa pening. Pandangannya mulai mengabur. Ia mencoba mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya. Namun, hal itu tidak berdampak apa pun, malah semakin kabur.
Tak lama, kedarannya hilang, menyisakan kegelapan yang sunyi. Namun, sebelum kesadarannya hilang, ia melihat seorang pria berdiri menjulang di hadapannya dengan angkuh sambil menampilkan senyum sinis padanya.
"Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu, Aeron Blaise."
***
Setelah melakukan pembersihan dan menyuruh anak buahnya menggelandang Blaise menuju tempat pesakitan, Raja Zeus menjabat tangan sang ketua dari gangster yang tadi menyerang markas Blaise.
ANDA SEDANG MEMBACA
Caramella Mykel
De TodoCaramella Mykel, a seventeen years old girl who chose to stay as independent as posible so that she lived far away from her family. A year later, her twin came and determined to live with her. One day, Caramella got news that her twin had been kidn...
