Ada yang masih nunggu cerita ini? Amel sibuk urus persiapan kuliah dan jadi maba. Deg-degan rasanya. Besok kuliah perdana dan belum baca satu materi pun 😤😧😭
Part ini full action ya.. untuk mewakili hati Amel yang gamang 😆😆
Tubuhnya terdorong ke dinding dengan cukup keras. Tangan pria di depannya mencengkeram lehernya kuat, membuat oksigen susah masuk untuk mengisi paru-parunya. Ia meringis menahan sakit pada lehernya hingga akhirnya cengkeraman itu terlepas saat ia napasnya terasa sesak.
Ia terbatuk-batuk dan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah napasnya kembali normal, ia mendongak agar bisa melihat pria dengan manik hitam setajam elang yang menatapnya seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Ia mencoba mengingat sosok di depannya yang mungkin saja pernah berhubungan dengannya. Namun, ingatannya tak memberikan informasi sedikit pun tentang pria itu.
Siapa dia? Ada urusan apa denganku? batinnya yang terus bertanya-tanya tentang sosok di depannya.
Tiba-tiba tubuhnya dibalikkan dengan cepat hingga sekarang ia menghadap ke tembok dan membelakangi pria misterius itu. Ia dapat merasakan punggungnya ditendang dengan kuat sebelum bagian belakang tubuhnya merasakan panas dan perih.
Ctar!
Satu cambukan dilayangkan pada punggungnya. Memang terasa panas dan perih, tetapi ia hanya sedikit terlonjak sambil memejamkan matanya. Sebelum menjadi ketua gangster, ia sudah pernah menjalani kehidupan yang berat dan sulit, termasuk disiksa.
Tubuhnya sudah terbiasa mendapatkan kekerasan fisik yang menjadikannya sosok seperti ini. Meski tetap terasa sakit, tetapi ia masih sanggup menahan rasa sakit itu.
Siksaan yang mendera tubuhnya sudah berjalan selama berbulan-bulan. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia berada di penjara yang ia yakini terletak di bawah tanah. Meski disiksa, ia tetap mendapatkan makanan dan minuman.
Ia bukan tipe orang yang mudah merajuk dengan menjalankan aksi mogok makan agar siksaannya diringankan. Oleh karena itu, ia menghabiskan makanan dan minuman yang disediakan untuk mengembalikan energinya karena ia tahu siksaan akan datang lagi padanya.
Kini pria itu sudah datang dengan diikuti seorang pria yang selalu menemaninya. Ia yakin pria tersebut adalah kaki tangan dari sosok yang sampai sekarang belum ia ketahui identitasnya.
Pria itu berjongkok di hadapannya, menyejajarkan tubuh mereka karena ia dalam posisi berlutut. Ia sudah mempersiapkan diri saat pria itu menerbitkan seringaian seramnya sebelum mengambil besi sepanjang bolpoin—dengan lapisan isolator di ujungnya—yang dipegang oleh kaki tangannya.
Pria itu mengarahkan besi pada api yang menyala dari lilin besar di sampingnya. Kegiatan yang dilakukan pria itu tak luput dari perhatiannya. Ia tak sadar jika ada lilin yang sudah menyala yang digunakan untuk memanaskan besi itu.
"Kau sudah siap?" tanya pria itu.
Ia tidak menjawab karena ia tahu apa yang akan dilakukan pria itu dengan besi panas di tangannya. Meski ia menjawab "tidak", pria itu akan tetap melakukan aksinya.
Ia mengetatkan rahangnya saat ujung besi itu menusuk bahu kirinya. Rasanya sangat panas dan panas itu berubah menjadi rasa ngilu yang menjalar ke seluruh saraf di tubuhnya.
Matanya terpejam erat dengan kening yang mengerut. Walaupun terasa sakit, erangan dan lolongan kesakitan tak kunjung keluar dari mulutnya. Ia tetap bertahan dalam diamnya. Entah sudah berapa lama pria itu menusukkan besi panas pada bahunya, ia tetap bergeming dan menerima siksaan itu.
Setelah cukup lama, ia merasakan bahunya terbebas dari besi panas itu meski rasa sakit masih tertinggal di sana. Ia membuka matanya, melihat luka yang tercipta pada bahunya d. Itu bukan luka biasa yang akan sembuh dalam waktu singkat. Luka itu sangat dalam dan membentuk sebuah nama.
ANDA SEDANG MEMBACA
Caramella Mykel
De TodoCaramella Mykel, a seventeen years old girl who chose to stay as independent as posible so that she lived far away from her family. A year later, her twin came and determined to live with her. One day, Caramella got news that her twin had been kidn...
