Bab 6

1.4K 69 11
                                    




           

Kejadian mengerikan itu masih membekas bagai lecutan api dalam benak Anastasia. Ia baru saja genap berumur sebelas tahun dan kecantikan yang dimilikinya sudah terpancar sejak belia. Ia selalu mendapat perhatian dari siapapun. Ayah membanjirinya oleh rasa sayang. Para pelayan di kediaman mencintai dan menghormatinya. Semua kerabat selalu datang membawakan bermacam hadiah untuk menunjukkan sayang padanya.

            Dulu Anastasia tidak pernah menyimpan prasangka buruk terhadap seseorang. Dengan cinta yang berlimpah, ia memercayai semua orang. Ia tersenyum manis pada siapapun. Ia menyapa ramah kepada setiap orang berlalu-lalang. Akan kebodohan tersebut, Anastasia tidak pernah mengantisipasi niatan jahat seseorang terhadap dirinya—sama sekali tidak.

            Dan itulah letak kesalahan Anastasia.

            Semua kerabat selalu datang membawakan bermacam hadiah untuk menunjukkan sayang padanya. Tetapi, Anastasia tidak menyadari perlakuannya yang mendekati Anastasia agak sedikit berlebihan. Saat itu ia hanyalah seorang anak perempuan polos, naïf, dan menyukai perhatian yang orang berikan padanya. Dan ia adalah sepupu jauhnya, Adrian.

            Lima belas tahun lebih tua darinya, Adrian berambut gelap dan manik hijau. Air mukanya berkabut akan sesuatu yang mengerikan. Terlampau mengerikan sampai-sampai terkesan gila. Ia punya penyakit mental, suatu hari Anastasia mendengar dengung kicau para bibinya. Pada waktu itu Anastasia belum mengerti mengapa semua keluarganya menjauhi Adrian. Anastasia yang menyukai perhatian dan cinta, tentu saja, tersenyum manis, melontarkan sapaan ramah pada Adrian.

            Tetapi, Adrian salah mengartikan segala senyum dan sapaannya.

            Saat itu musim panas dan ayahnya, Henry Stokes, mengadakan pesta dansa musim panas di kediaman. Malam itu berlalu dengan biasa; Anastasia berkeliling menyambut senyum para tamu sampai akhirnya tangan kokoh itu menggapai lengan Anastasia. Menariknya paksa ke perpustakaan yang sepi. Anastasia belum cukup paham apa yang terjadi sementara bibir pria itu mulai meraba-raba sisi wajahnya.

            Refleks, ia meronta tak ingin, namun Adrian sudah menarik paksa bajunya. Jerit Anastasia teredam oleh bilah dingin pisau pada pipinya. Anastasia memejamkan matanya, terlalu takut melihat kenyataan di hadapannya. Dalam benaknya, ia merapalkan doa kepada segala Dewa, benda hidup maupun benda mati. Semuanya. Siapapun. Ia meminta tolong, namun Dewa hanya menjawab dengan dominasi Adrian pada tubuhnya.

            Anastasia tidak mampu memandang apapun dengan ngeri menjalar ke tiap inci tubuhnya. Ia mampu merasakan tulang-tulangnya runtuh. Tungkainya tidak berdaya sementara Adrian memasuki dirinya bagai sapi tidak tahu diri. Nyeri sakit begitu dahsyat menyayat selangkangannya. Pria itu menggerakkan pinggulnya brutal. Menyiksa Anastasia dan memeroleh kenikmatan bagi dirinya sendiri.

            Penyiksaan itu berlangsung cepat. Anastasia terdiam di sana terkapar tidak berdaya. Jiwanya telah pergi meninggalkannya. Para Dewa telah pergi meninggalkannya. Sedangkan Adrian berjalan penuh kepuasan keluar dari perpustakaan. Anastasia selalu menyukai harum lem buku tersebar di ruangan ini.  Asin membasahi pelupuk matanya. Selangkangannya berdenyut sakit. Saat itu, pikirannya hanya penuh oleh bau menjijikan dari penyiksaan—bau cairan yang ditumpahkan Adrian tak tahu diri.

***

            Suara tenang kucuran air membangunkan Anastasia dari kenangan buruknya. Kelopak matanya mengangkat berat, menangkap hamparan biru langit di atasnya. Ia mencium tanah yang segar sebagai tempat berbaringnya. Sebersit rasa sakit menusuk daerah di punggungnya kala ia hendak bangkit duduk. Ia mengurungkan niatnya dan melirik tubuh berotot Tristan terbaring di sampingnya.

RAPTURETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang