Seperti yang tadi gue bilang. Hari ini hari senin, hari yang diwajib kan berangkat pagi pulang petang bagi anak osis dan pmr. Hari ini anak pmr setelah pulang sekolah ada latihan dan sementara osis setelah pmr. Dan untuk pertama kalinya gue bolos latihan. Percuma juga gue latihan toh, bakalan nggak gue dengerin juga pelatihnya ngomong jadi gue milih pergi ke taman yang biasa gue datangin disaat gue ada masalah. Jauh dari keramaian yang buat gue betah untuk nenangin pikiran gue.
Sialnya lagi, hari ini cuaca nggak mendukung. Awan sedang bersahabat sama suasana hati gue, sedih dan rasanya mau nangis aja.
Gue duduk dibangku taman yang ada disana. Nggak lama hujan turun, seketika air mata gue juga turun. Tanpa sadar badan gue lemes dan gue pingsan disana.
"Lo uda sadar? Ngapain sih hujan-hujanan di taman? Uda tau mau hujan ya pulang bukannya mampir ke taman." Tanya cowok yang tadi pagi obatin tangan gue.
"Gue dimana? Lo ngapain disini? pulang sana lo."
"Pulang? Hahahaha." Bukannya jawab pertanyaan gue, cowok ini malah ketawa.
"Kok ketawa emangnya ada yang aneh sama yang gue bilang?"
"Ya iya lah, orang ini kan rumah gue, yang seharusnya pulang itu elo bukan gue hahaha."
"Uda, lo nggak perlu takut, gue nggak apa-apain elo kok. Gue cuman mau nolongin lo doang.""Makasih sudah mau nolongin gue. jam berapa sekarang?"
"Jam 8 malam."
"HAH? 8 MALAM!!? ANTERIN GUE PULANG SEKARANG." Minta gue ke cowok ini. Oh iya gue lupa kan dia punya nama, namanya kang Daniel, sepupunya sahabat gue.
"Ya uda selow aja kali, ngegas banget lo. baru juga jam 8 hebohnya gitu banget."
"Anjiir lo, santai banget bilangnya. Lo sama gue beda ya, lo kan memang nakal sedangkan gue baik-baik." Gue nggak sadar kalo gue bilangin dia nakal yang buat dia marah tapi dia tetap mau anterin gue.
Di sepanjang jalan dia cuman diam aja. Gue yang uda sadar kenapa dia diam kayak gitu, gue langsung minta maaf ke dia.
"Lo marah sama gue ya? Karna gue bilangin lo 'nakal' tadi. Maaf ya, gue bakalan lakuin apa aja yang lo mau asalkan lo maafin gue ya. Gue nggak mau punya musuh." Namun, Daniel tetap diam dan fokus untuk nyetir.
"Kalo lo nggak mau maafin gue ya uda nggak papa, ini kan salah gue. lo turunin gue disini aja. Biar gue naik ojek online." sambung gue. Daniel stopin mobilnya dan ketika gue mau turun, tangan gue ditarik sama Daniel.
"Lo beneran mau lakuin apa aja?"
"Iya." Kayaknya gue salah ngomong. Dan bener saja dia maksa gue agar gue mau untuk dijemputnya besok pagi, dan anter gue pulang sekolah.
Dari satu jam yang lalu alarm gue berisik banget. Mau gue matiin tapi gue nggak punya tenaga buat gerak. Badan gue lemes banget ini pasti karna gue hujan-hujanan kemaren plus gue belum ada makan dari kemaren pagi. mamah lagi nemanin papah ke luar kota untuk urusan bisnisnya. Sekarang gue cuman bedua sama bibi dirumah.
"Non, bangun non uda siang."
"YA AMPUN NON, BADANNYA PANAS BANGET, ENON SAKIT YA?" tanya bibi yang hebohnya ngalahin yeri."Aku cuman deman biasa kok bi, palingan istirahat juga sudah sembuh." Jawab gue dengan nada yang lemas.
"Bibi beliin obat dulu ya non. Itu didepan temannya enon saya suru berangkat sekolah aja ya."
"Teman? Teman saya maksud bibi? Iya bi, suru dia langsung sekolah aja."
