"Gue yang manggil Lo untuk kesini."
Laki-laki yang berseragam sama seperti sekolah kakaknya menghampiri Tania yang masih diam dengan alis bertautan.
"Bro, kalo lo mau ngomong sama cewek gue, didepan gue aja. Gak usah sembunyi-sembunyi!! ." Daniel yang merasa Tania akan direbut oleh laki-laki lain, mulai mengambil ancang-ancang maju kehadapan laki-laki tersebut dengan tampang gagahnya.
"Daniel, Lo apa-apaan sih?! " Tania jengah dengan tingkah Daniel yang asal sebut seperti tadi.
"Sstt! Diem sayang, ini urusan laki-laki." Daniel mencoba menenangkan Tania yang berada dibelakangnya.
Laki-laki yang melihat perdebatan antara sepasang kekasih yang tidak jelas ini tertawa sumbang, tujuannya datang kesini bukan untuk merebut adik dari sahabatnya. Untuk apa dia melakukan hal seperti itu.
"Kok ketawa?! Ada yang lucu dari ucapan gue ?! " tanya Daniel seperti mengajak tantangan dimata Tania.
"Lucu aja, soalnya kalian kayak bukan sepasang kekasih yang harmonis."
"Sialan. Mau Lo apa hah?! " Daniel mendekat kearah laki-laki yang sudah mencari Tania ini.
"Cuma mau kasih kabar buruk aja ke adik sahabat gua."
"Kabar buruk?! " tanya Tania cepat, sebelum Daniel mulai beradu argumen dengan laki-laki dihadapannya.
"Kakak Lo, Willy. Dia tadi jatuh dari sepeda, trus berdarah deh." ucapnya dengan santai penuh tanya kepada Tania.
"Serius dong!" kini Tania mulai emosi dan berjalan mendekat kearah laki-laki tersebut.
"Sebenernya sih gue gak boleh bilang ke elo, tapi kan gak tega gue sama dia yang harus dirawat sendirian dirumah sakit." ucapnya jujur dihadapan Tania.
"Sek-sekarang dia dimana?" Tania menahan isak tangis yang akan keluar saat tahu kabar buruk menimpa kakaknya.
"Kan gue bilang dia dirumah sakit."
"Tunggu, lo sebenernya niat gak sih kasih info ini?!" tanya Daniel geram dengan jawaban yang kurang nyambung dari laki-laki berkaca mata ini.
"Gue sama elo, tuaan gue bro. Sopan dong sama gue ."
"Najis banget." laki-laki yang membawa kabar buruk tersebut terkekeh dengan jawaban laki-laki yang menurutnya kekasih dari Adik sahabatnya.
"Anter gue ke kakak gue ." tiba-tiba Tania mencengkram lengan laki-laki berkacamata yang sudah memberi informasi buruk kepadanya.
"A-iya, ini lepas dong. Sakit tau." ringis laki-laki tersebut karena sakit kedua lengannya seperti diterkam makhluk buas.
"Maaf."
"Eh, tar dulu. Gue ikut lah. Nanti cewek gue diapa-apain sama lo lagi." Daniel mencegah Tania dan laki-laki berkacamata yang akan pergi meninggalkannya.
"Gue juga masih punya pikiran buat gak dibantai kakaknya kali." ucap laki-laki tersebut.
"Buruan ih!" Tania yang tidak sabar menarik kedua tangan laki-laki yang beradu argumen yang sedang dalam keadaan genting ini.
"Buset dah, ini berasa mau dikawinin secepatnya." ucap laki-laki berkacamata yang membuat suasana hati Tania menjadi khawatir.
Saat perjalanan menuju rumah sakit, Tania yang duduk disamping orang yang mengemudi hanya menatap lurus ke jalan dengan pikiran tak tentu. Daniel yang duduk dikursi belakang juga diam sambil melihat Tania yang sudah ia hapal kebiasaan yang selalu khawatir namun tersembunyi.
"Nama Lo siapa kak?" tanya Tania dengan embel-embel 'kak' diakhir ucapannya.
"Rendi." jawab laki-laki berkacamata yang sedang mengemudi.
"Lo kok bisa ada disekolah gue waktu kemarin?"
"Udah lama sih gue disekolah lo, itu juga disuruh sama kakak lo yang bawel. Katanya dia takut adik kesayangannya Kenapa napa."
"Hah? Segitunya? Over protektif banget kakak lo." tiba-tiba suara dari belakang membuat Tania merasa bersalah karena tidak menyadari kasih sayang yang diberikan kakaknya selama ini.
"Kakak mana sih yang mau adiknya terluka gara-gara cinta tak berujung." sindiran itu tertuju untuk Daniel yang langsung diam dan melirik takut kearah Tania yang mendengar ucapan laki-laki ember didepannya.
"Kakak jatuh dari sepeda doang? Perasaan dia jago main sepeda?" tanya Tania polos, mana mungkin cuma jatoh dari sepeda langsung dirawat dirumah sakit.
"Kakak Lo kecelakaan sih tepatnya. Dia emang lagi gak enak badan pas nganter lo sekolah."
"Perasaan kakak tadi pagi baik-baik aja, kenapa tiba-tiba gak enak badan?"
"Ya.. Mungkin dia cape kali, kemarin dia main voli sama gue sampe magrib."
"Ish, penyakit kok dicari." Tania yang tidak menyadari gerak gerik mencurigakan dari sahabat kakaknya hanya menyimpulkan bahwa kakaknya selemah itu.
"Kak, bawa mobilnya agak cepet bisa gak? Ini berasa Lo bawa ratu aja deh, hati-hati banget gitu." protes Tania yang dikuasai dengan rasa khawatir tinggi.
"Menghindari kecelakaan kan lebih bagus dari pada kita semua masuk rumah sakit. Yang ada kakak Lo mencak-mencak ke gue."
"Sini deh biar gue aja yang bawa, greget gue lama-lama. Kapan nyampenya kalau cuma 40 km/jm." kali ini Daniel menyahut dengan geram, pasalnya Rendi mengemudi seperti tidak menganggap bahwa sekarang ada hal genting yang Tania hadapi.
"Bawel Lo pada! Diem aja udeh, gue kan nyari aman." Rendi yang diserang hanya mendecak sebal dan kembali fokus mengemudi, kali ini ia menambah kecepatan laju mobilnya.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Melihat lorong rumah sakit yang sepi mengingatkan kembali kejadian beberapa tahun yang dialami oleh Daniel. Ini membuat nyalinya ciut untuk masuk lebih dalam ke rumah sakit tersebut.
"Gue tunggu di kantinnya aja ya." setelah mengucapkannya, Daniel berbalik dan berjalan ke arah kantin rumah sakit besar ini.
Tania yang memang penasaran dengan kakaknya dan khawatir hanya acuh saat Daniel berucap akan ke kantin. Dan Tania kembali berjalan cepat menuju ruang kakaknya yang ditujukan oleh laki-laki tinggi dan kurus dihadapannya.
"Pacar Lo belum makan?" tanya Rendi yang melihat raut sedikit pucat dari Daniel, pacar dari cewek sebelahnya ini. Pikir nya.
"Bukan pacar gue."
"Ouh." setelah menjawab pertanyaannya, Rendi tak ingin bertanya lebih lanjut. Karena saat ini mereka telah sampai di ruangan dimana sahabat atau kakak dari gadis disampingnya ini dirawat.
Memasuki kamar yang lumayan besar dan hanya ada dua keranjang pesakitan didalamnya yang langsung tertuju kepada kakak Tania. Dan memang hanya ada satu orang didalam kamar sebesar ini.
"Eh, adik kesayangan gue dateng. Kok gak ngabarin sih, Ren ke gue?" Willy tersenyum dengan cengiran lebar seolah tak terjadi apapun. Matanya terfokus dengan adiknya yang mungkin sebentar lagi akan mengamuk. Lebih tepatnya menangis meraung-raung.
Willy yang terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan yang menurut Tania tidak ada lecet dan perdarahan di sekitar tubuh kakaknya itu. Mungkin hanya biru dibagian tertentu, pikirnya.
"Sorry bro. Gue kan gak pengen Lo diem sendiri disini, nanti juga adik Lo bakal tau kan." benar apa kata Rendi, ia tak bisa menyembunyikannya dari sang adik selamanya.
Suatu saat pasti akan ketahuan.
"Kayaknya adik gue pengen ngomel dulu, mending Lo keluar aja trus cari makan dah. Adik gue selesai ngamuk laperan." tawa sumbang dari kedua laki-laki itu membuat Tania semakin malu.
Kakaknya memang tidak mengeluarkan aibnya, tapi Tania juga tidak bisa berbicara untuk sekarang. Karena ia butuh mengeluarkan semua amarahnya saat ini.
Rendi keluar dari kamar dengan senyum tertahan, dan ia menuju kantin untuk menyusul laki-laki yang mengaku sebagai kekasih adik dari sahabatnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
BULLSHIT
RomanceSelama dua tahun Tania menderita karena harus menunggu sang kekasih kembali, namun nyatanya Tania harus mengubur dalam-dalam kepercayaannya itu. Cinta lama yang datang kembali membuat Ristania merasakan sakit yang sama saat dirinya ditinggal pergi...