1.Anniversary

770 39 4
                                    

"Mencintai seseorang itu tidak butuh alasan. Sama halnya membenci seseorang, rasa itu hadir dengan sendirinya dan meluap dengan sendirinya"

--oo--

Kringggggg

Saat mendengar nada panggil diponselku aku yang tadi tidur terbangun karena terganggu, dan saat kuliat icon panggil ternyata tertulis nama mas Izz, suamiku. Dia sekarang sedang dalam perjalanan bisnis, di Bogor, sudah satu bulan dia disanah dan lusa dia baru akan pulang, entah apa yang membuatnya menelponku malam-malam begini.

"Assalamualaikum,mas." salamku saat mengangkat panggilan dari mas Izz.

"Wa'alaikumsalam."

"mas? Kamu ngga papakan? Kamu udah makan? Kamu kenapa menelponku malam-malam begini?" aku menanyakan seperti itu bukan tanpa sebab, tapi aku khawatir kepadanya, tidak biasanya dia menelponku malam-malam begini.

"....." kenapa dia diam saja.

"Hallo? Mas?" aku sedikit menjauhkan ponselku dari telinga untuk ku cek apakah masih tersambung atau tidak, dan ternyata masih tersambung. Membuatku bertambah khawatir saat dia diam saja seperti ini.

"mas kamu jangan diam aja dong, mas? ya'allah kamu ngga papakan mas? Mas?"

"Happy anniversary Ay"

"hah?"

"Happy annivesary sayang, kamu ngga inget ya hari ini ulang tahun pernikahan kita yang ke6" jelas mas Izz

Astagfirullah aku kira tadi dia kenapa. Tapi apa yang mas Izz bilang tadi? 'ulang tahun pernikahan kita'? Saatku cek kalender ternyata memang iya, bahkan dikalender yang tadi aku cek dihari ini sudah ada lingkaran merah, sebagai tanda bahwa hari ini hari yang spesial.

"Happy anniversary mas, maaf aku lupa."

"ngga papa ko Ay, aku tau kamu udah tua makanya sering lupa." Ucap mas izz diakhiri kekehan khasnya.

"iya iya deh aku mah udah tua, ngga kaya mas Izz kan masih muda ya kan? Bahkan mas Izz masih cocok pake baju putih abu-abu." Ucapku diakhiri kekehan juga, mungkin kalo mas izz ada disampingku dia pasti akan menggilitiku saat aku menggodanya seperti ini. Masya allah jadi kangen.

"ko pake baju putih abu-abu sih Ay? awas kamu Ay, kalo aku udah pulang, aku bakal kurung kamu dikamar."ucapnya yang ku balas kekehan geli.

"kangen kamu mas."ucapku.

"aku juga kangen kamu Ay."

"makanya cepet pulang mas, Dafa sama Didi juga udah nyari'in papanya terus.kalo kata Didi mah, udah kangen elat."

"elat?"

"berat, mas."

"oh, kangen berat. Jadi yang kangen berat sama aku, Dafa sama Didinya aja? Yakin nih mamanya ngga kangen berat juga?"aku yang digoda seperti itu merasakan pipiku menghangat, dan ku pastikan jika mas Izz ada disampingku pasti dia akan mencubit pipiku. Kalo pertanyaan tadi, tanpa dijawab pun sebenernya mas Izz sudah tau jawabannya.

"pasti pipinya udah merah, jadi kangen nyubit pipi kamu Ay." Ucap mas Izz yang lagi-lagi menggodaku.

"makanya cepet pulang mas."

"iya aku akan usaha'in pulang cepet dari target."

"......."

"Ay?" panggil mas Izz setelah tadi kita berdua saling diam.

Untuk panggilan mas Izz memang memanggilku beda dari yang lain, kalo yang lain memanggilku Aiza, Iza atau Za, mas izz ini memanggilku dengan sebutan Ay, saat aku tanya kenapa dia memanggilku seperti itu, dan tidak seperti yang lainnya saja yang memanggilku Aiza, dia malah menjawab itu panggilan sayangnya kepadaku. Terdengar kelasik sih tapi itu berhasil membuatku merasa perempuan paling spesial dalam hidupnya setelah mamah mertuaku tentunya. Dan dari sanah lah aku juga memanggil mas Izzan dengan sebutan mas Izz, sebagai panggilan sayangku juga kepadanya.

Dear Mas IzzTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang