"rindu itu seperti angin, tidak bisa dilihat oleh mata tapi bisa dirasakan oleh indra perasa. ya sama seperti rindu, tidak bisa dilihat mata, tidak bisa diukur lewat pengukur, tapi bisa dirasakan oleh satu keajaiban,keajaiban cinta."
--oo--
Alhamdulilah akhirnya acaranya selesai juga,sahabat-sahabat mamah juga udah pulang setelah tadi kita sholat magrib berjama'ah dirumah mamah. Jadilah sekarang aku sedang membereskan rumah ibu mertuaku ini.
--oo--
"Za, kamu ngga mau nginep disinih aja? Ini udah jam8 malam, sikembar juga kayanya udah cape tuh." Ucap ayah mertuaku yang sedang duduk diruang keluarga dan melihatku yang baru turun dari kamar mas Izz yang ada dirumah ini untuk sholat isya karena tadi membereskan rumah sampai jam set8 lebih jadi aku baru sholat isya tadi.
"emm, ngga pah soalnya kan Aiza juga belum ijin sama mas Izz kalo mau nginep dirumah papah, terus juga rumahnya ngga ada yang jagain pah." Ucapku
"yaudah kamu pulangnya dianterin sama mang Kardi aja ya, ngga baik malem-malem gini naik taksi." Ucap mamah yang memang sedang duduk disamping papah sambil memperhatikan sikembar yang sedang nonton tv dan sesekali mereka menyuap, masya'allah mereka ternyata sudah mengantuk.
"iya mah, ayo sayang kita pulang."
"mamah mata Di, enket mah, katana minta dul."
"dul?" tanya mamah.
Aku yang mendengar jawaban Didi dan melihat wajah bingung ibu mertuaku ini hanya tersenyum. Ibu mertuaku ini memang kadang masih kebingungan mendengar jawaban atau kata-kata Didi karena memang anak itu masih cadel dan suka memotong kata,contohnya tidur tadi yang menjadi dul itu, karena tidak bisa menyebut R jadi L dan memotong kata yang sebenernya ada TI yang jadinya tidul itu menjadi dul ya entahlah kadang mas Izz juga suka gemas sendiri dengan anaknya yang satu ini.
tapi kalo Dafa dia sudah pintar, kata-katanya pun sudah tidak cadel. Ya walaupun anakku yang satu ini paling irit jika diajak bicara beda dengan adiknya yang cerewet tapi bicaranya yang kadang membuat sebagian orang pusing. kalo Dafa ini kata orang dia mirip papa yang irit kalo diajak bicara.
"maksudnya mata Didi lenket omah dan mata Didi katanya bilang mau tidur." Ucapku menjelaskan maksud Didi tadi.
"oh ya'allah lucunya cucu oma ini, yaudah kalo udah ngantuk cepet sana pulang, hati-hati dijalan."ucap ibu mertuaku seraya mengusap pipi gembil Didi.
"iya omah, ayo sayang salim dulu sama omah opahnya." Ucapku menyuruh Dafa dan Didi menyium tanggan ibu dan ayah mertuaku dan dibalas dengan ciuman dipipi gembil mereka oleh ibu dan ayah mertuaku.
"mamah, di dong mamah aja."ucap didi sambil menarik narik baju yang aku pakai.
"loh katanya tadi bilang sama opah Didi udah besar, sekarang ko mau digendong si.kalo udah besar tuh ngga boleh digendong." Ucap ayah mertuaku.
"ga au hiks.... Di ga au besal, Di cil aja, mamahhhh Di au dong mah."
"lah ko cucu omah nangis sih sayang, udah dong ya nangsinya. jangan dengerin opah, nih liat opahnya udah omah cubit nih liat ya."ucap ibu mertuaku sambil mencubil perut ayah mertuaku yang dibalas ringisan dan kekehan dari ayah mertuaku.
"udah rewel Didinya Za, mau tidur dia, udah sana kamu pulang kasian. Didi sekarang gendongnya sama opah ya sampe mobil nanti kalo dimobil Didi bisa tidur." Ucap ibu mertuaku
"opah, dong." Ujar Didi ke ayah mertuaku sambil merentangkan tangannya meminta digendong opahnya.
"uhhh manjanya cucu opah ini."ucap ayah mertuaku seraya mengangkat Didi dan menggendongnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Mas Izz
Spiritual"Dear Mas Izz, Imamku, Ayah anak-anakku, penuntunku menuju syurga Allah swt, sesungguhnya setiap langkahku hanya ingin mendapatkan Ridhomu, setiap do'a dan sujudku hanya kau satu-satunya laki-laki selain ayah dan anak kita yang ku sebut disetiap aku...