5. Hati Yang Retak

2.7K 135 0
                                    

Adam tersenyum agak lebar.

Sebenarnya, kalau mau dihitung-hitung, itu senyum terlebarnya selama ini. Manis sekali. Aku agak terganggu dengan senyum semanis itu.

"Trus, Rei...?" tanyanya dengan nada yang sangat perhatian.

"Ya gitu, singkat cerita, Fahri menghilang sejak semalam"

"Kamu ngga coba bicara sama istrinya?" Adam menatapku.

Aku seperti dikeplak, gut aidie. Kenapa tidak terpikirkan? Aku bisa ngobrol dengan Shinta, toh sejak dulu juga aku selalu bisa ngobrol dengannya.

"Setuju, Dam.. Ide bagus."

Perbincangan hari itu menjadi lebih ringan. Kami banyak ngobrol tentang berbagai hal. Lebih tepatnya, Adam yang ngobrol, aku mendengarkan. Ha! Aneh ya?

Dia bicara tentang sejarah Jawa, tentang perbedaan kedua kesultanan di wilayah Yogya - Solo, tentang peperangan jaman dahulu kala. Sungguh aku tidak mengerti jalan ceritanya.

Aku hanya mendengarkan, mengangguk, menikmati betapa banyaknya kosakata yang bisa keluar dari bibir yang biasanya terkatup rapat itu.

Dari ketertarikannya akan sejarah, kusimpulkan Adam adalah jiwa tua yang terperangkap di dalam tubuh muda yang menarik. Eh, menarik?

Selama Adam berbicara, kuperhatikan detail wajahnya. Mata yang teduh, kulit gelap yang eksotis, rahang kokoh, hidung lurus mancung, segaris bibir yang senantiasa mengatup rapat saat pemiliknya memutuskan untuk menarik diri dari dunia luar. Entah apanya, tapi saat ini aku bisa menilai, Adam cukup menarik.

Kugelengkan kepalaku keras-keras, seolah gerakan itu bisa menghilangkan pikiran yang sempat mampir barusan. Apa itu barusan?

"Apanya yang ngga?", tiba-tiba suara Adam menggema, seperti dari alam lain.

Dia melihatku dengan sorot bertanya, untuk apa aku menggelengkan kepala. Apa ya?

Kuputuskan untuk ngeles. Seperti biasa, jika manusia ke-geb melakukan hal aneh, dia akan ngeles.

"Ngga papa, hanya mau bilang sejarah itu kompleks ya.. Aku ngga habis pikir, perang bisa terpicu hal yang sangat sederhana.", kataku sambil manggut-manggut.

Adam mengangguk, "ya, buat yang ngga ngerti sejarah, memang sulit untuk paham."

Aku mendelik. Apakah dia baru saja mengatakan, aku tak paham sejarah? Memang. Hahahaha..

"Eh, Dam, cerita dong tentang kamu. Punya pacar?" tanyaku sekenanya.

Wajah yang tadi sempat sumringah, sekarang mendadak menjadi datar kembali. Okey, dia kembali ke wujud asalnya. Adam si wajah tanpa ekspresi.

Aku harap-harap cemas, takut dia tiba-tiba menyodorkan tisu bekas sambel lagi.

"Punya," jawabnya tenang. Tatapan matanya menancap hingga ke ulu hatiku.

"Cerita dong."

"Namanya Wenny. Teman SMAku."

"Trus?"

"Apanya?"

"Yaaa, trus hubungan kalian bagaimana? Umurmu udah lumayan tua, kapan nikah?" cerocosku.

"Aku sendiri kurang yakin tentang hubungan ini. Orang tuaku pernah bilang, aku tidak akan bisa dengan Wenny." tatapannya menerawang jauh.

"Karena?" cecarku. Penasaran euy..

"Entah. Kadang kita ngga pernah tau maksud orang tua. Yang perlu diingat adalah orang tua sudah pasti lebih berpengalaman, dan mereka selalu menginginkan kebahagiaan anaknya."

KISAH WANITA BIASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang