Author POV
07:26
Di sekolah..
Hyunji menelusuri koridor sekolah. Belum banyak siswa yang datang karena masih terlalu pagi. Sekolah masuk pukul 08:00, jadi sekolah mulai ramai sekitar 15 menit sebelum masuk.
Hyunji menaiki tangga dengan gontai.
Tentu saja ia gontai. belum sarapan dirumah adalah kebiasaannya. Biasanya Hyunji hanya akan meminum teh saja, lalu langsung berangkat kesekolah.Hyunji mulai terhuyung. Ia menyenderkan tubuhnya di tembok tangga dan menaiki tangga perlahan.
Semakin lama, penglihatannya mulai buram. Hampir saja Hyunji jatuh bila tidak ada tangan yang menahannya.
"kau ini.. Menyusahkan.."
Hyunji kenal benar suara itu.
Jimin..
"b-bila tidak ingin susah mengapa kau menahanku? Bukannya membiarkanku jatuh?" bela Hyunji tidak terima dibilang 'menyusahkan'.
"kau sudah ditolong bukannya terimakasih malah nyolot.." ujar Jimin. Ia mengalungkan tangan kanan Hyunji dilehernya lalu membantu Hyunji berjalan turun.
"ki-kita mau kemana?!" tanya Hyunji.
"tentu saja ke mobilku" jawab Jimin dingin.
"eh?! Tidak.. Aku lebih baik ke UKS saja.. Aku bisa sendiri, jadi tolong lepaskan" tolak Hyunji sembari berusaha melepas tangannya dari leher pria tersebut.
"kau kira UKS sudah buka jam segini? Ini masih terlalu pagi, sudah ke mobilku saja. Lagipula kelas masih dikunci, kau mau menunggu di luar dengan kondisi begini?!" Jimin bersikeras membawa Hyujin ke mobil nya.
"kau sendiri ngapain datang sepagi ini.." gumam Hyunji yang terdengar oleh Jimin.
"aku awalnya ingin bermain basket, tetapi begitu aku datang aku melihatmu berjalan gontai di koridor tadi akhirnya tidak jadi dan lebih baik mengikutimu.." Jimin berkata panjang lebar. Hyunji kini hanya diam.
Sampai di mobil Jimin, ia menekan tombol kunci di kunci mobilnya kemudian membuka pintu samping kemudi dan membantu Hyunji duduk disana, setelah itu menutup kembali dan berjalan ke pintu kemudi dan membukanya lalu duduk disana dan menutup kembali. Menyalakan mesin dan perlahan mobil berjalan keluar sekolah.
"kita mau kemana?! Kenapa keluar sekolah?" tanya Hyunji kaget. Ia melirik ke arah Jimin.
"tentu saja jalan-jalan..." jawab Jimin. Jimin mengambil sesuatu di laci mobil dan memberikannya pada Hyunji. Hyunji melongo dengan apa yang diberikan Jimin.
Sebungkus roti.
"makan.. Aku tau kau belum sarapan.."
"ta-tapi ini.."
"makan!"
Hyunji mengalah dan perlahan membuka bungkus roti tersebut lalu memakan rotinya.
"kenapa tidak sarapan?"
"apa urusanmu?"
"mengapa malah bertanya balik? Apa jangan-jangan orang tuamu tidak memberimu sarapan? Kasihan nasibmu... Benar-benar terpuruk"
Hyunji diam, berusaha agar tidak menjatuhkan air matanya. Hatinya sangat tertusuk dengan perkataan Jimin tadi.
Bagaimana tidak? Orang tua Hyunji sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan besar. Bus yang ditumpangi orang tua Hyunji jatuh kelaut dan tidak ditemukan bangkai bus nya dan penumpangnya sampai sekarang. Otomatis orang tua Hyunji-pun tidak selamat."brengsek.."
Jimin yang mendengar itu sedikit terbelalak.
"turunkan aku disini" ujar Hyunji.
"tidak"
"turunkan!"
"tidak sebelum kita kembali kesekolah"
Hyunji bungkam. Menahan amarahnya saja tidak kuat. Bila saja ia lupa situasi, sudah Hyunji bentak habis-habisan.
Mobil sudah masuk kembali ke area parkir sekolah. Setelah memarkir mobil, Hyunji segera turun dari mobil.
"terimakasih atas roti dan kata-kata iblis-mu Jim.."
Hyunji berlari menjauh.
"akhhh.. Bagaimana aku bisa berkata seperti itu?!" geram Jimin. Ia mengacak rambutnya.
----
Hyunji memasuki kelas lalu menyimpan tasnya dan berlari keluar kelas menuju toilet. Ia mengunci pintu toilet lalu mengeluarkan semuanya,
Dengan menangis...
Ia sangat sakit hati dengan omongan Jimin di mobil. Ingin rasanya ia pulang.
"hiks..hiks.. Eomma... Appa.. Kalian lihat bukan? Aku tersiksa disini" isak Hyunji.
Hyunji ingin pulang, ia mengelap air matanya dengan sapu tangan hingga tidak basah. Walaupun matanya sembab.
Hyunji keluar keluar dari toilet dan kembali ke kelas.
Jam sudah menunjukan pukul 07:56.
Segera Hyunji mengambil tas dan keluar lagi dari kelas, tidak peduli banyak pasang mata melihatnya termasuk Jimin yang duduk di belakang bangkunya.
"kenapa anak itu?"
Hyunji meminta izin untuk pulang ke guru piket dengan alasan tidak enak badan. Setelah dapat izin, Hyunji langsung pulang dengan setengah berlari.
Ya... Ia tidak punya uang untuk ongkos.
Untuk kebutuhan sehari-hari, bibinya selalu mengirim uang untuk membeli makan. Tetapi, seminggu lalu bibinya tidak mengirim uang karena uangnya dipakai untuk membayar pengobatan anaknya dirumah sakit.Hyunji sampai di rumahnya. Rumah sederhana yang hanya ada satu kamar didalamnya. Ia membuka kunci dan segera masuk kedalam.
Setelah menyimpan tasnya, ia langsung berbaring di ranjang dan kembali menangis dengan seragam yang masih ia pakai. Bantalnya basah oleh air matanya.
"Eomma.. Appa.. Aku kangen... Aku ingin menyusul.."
Voment ❤

KAMU SEDANG MEMBACA
Little Star And Big Star
RandomYang awalnya si bintang kecil di bully oleh si bintang besar, hingga si bintang besar jatuh pada bintang kecil. Apakah mereka akan terus berjauhan? Atau malah menjadi bintang yang berdampingan?