Wattpad Original
Ada 2 bab gratis lagi

BAB 3

397K 14.3K 494
                                        

Davina menggerakkan kursi roda menuju kamar. Sesekali tangannya terangkat, menyeka tetesan air yang jatuh membasahi pipi. Pertemuannya dengan Devon ibarat sebuah film yang diputar berulang-ulang, dengan akhir yang tidak pernah berubah. Ya, usai berhadapan dengan Devon, pada akhirnya Davina hanya mampu terdiam dan menangis. Selalu begitu.

Sejujurnya, Davina merasa sangat lelah. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa, sebab ia memang tidak mampu melakukan apa-apa. Sejak mengalami kecelakaan dan harus menanggung kecacatan pada tubuhnya, Davina tidak dapat melakukan banyak hal tanpa melibatkan orang lain. Itu sebabnya, ia hanya mampu bersikap pasrah menghadapi perlakuan Devon, sebab ia memang tidak dapat melakukan apa pun dan tidak ingin merepotkan siapa pun. Davina memilih diam dan senantiasa berharap kelak Devon akan berubah.

"Nyonya baik-baik saja?" Suara seorang perempuan tiba-tiba saja terdengar, dan saat Davina menoleh, ia mendapati Lucia tengah berdiri di ambang pintu. Perlahan perempuan itu melangkah masuk, kemudian berdiri di depan Davina.

"Aku butuh istirahat, Luce."

Lucia mengangguk mengerti. Dengan segera ia mendorong kursi roda Davina hingga berada tepat di sisi ranjang, kemudian membantu sang majikan berpindah ke atasnya. Setelah selesai, Lucia menarikkan selimut hingga batas bahu Davina.

"Ada lagi yang Anda butuhkan, Nyonya?" tanya Lucia hati-hati.

Davina tampak menggeleng. "Pergilah, kembali ke kamarmu. Aku tidak membutuhkan apa pun."

Lucia menatap sang majikan dengan ragu, tetapi akhirnya mengangguk patuh. Dengan berat hati ia melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan Davina yang kembali terisak pelan dalam kesunyian.

ooOoo

Devon melemparkan jasnya ke atas ranjang dengan gerakan sembarangan. Ia merasa kesal, sebab lagi-lagi Davina melakukan hal yang sama. Menunggu kepulangannya.

Perempuan itu, benar-benar. Apakah ia tidak memiliki kegiatan lain yang lebih berguna? Untuk apa ia menunggu kepulangan Devon? Apakah ia berpikir bahwa dengan melakukan hal semacam itu, Devon lantas akan berubah dan menjadi bersimpati padanya? Berbagai pertanyaan itu memenuhi kepala Devon, membuatnya berdecih kemudian. Ia memang tidak tahu apa yang akan terjadi di hari depan, tetapi sungguh ia telah berjanji di dalam hati untuk tetap membenci perempuan itu. Sampai kapan pun, Davina tetaplah pembunuh ayahnya.

ooOoo

Matahari telah meninggi, menumpahkan cahaya panas pada sebagian belahan bumi. Davina mengernyit kala menyadari bahwa sejak pagi tadi, Devon sama sekali tidak keluar dari kamar. Membuat perempuan itu berpikir, apakah ia baik-baik saja?

Didorong rasa cemas, Davina menggerakkan kursi roda menuju kamar Devon untuk melihat keadaan lelaki itu. Ia mengetuk pintu bercat cokelat itu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia sudah mencoba memanggil, tetapi tidak ada sahutan. Akhirnya, Davina memutuskan untuk membuka pintu kamar Devon yang ternyata tidak dikunci. Pelan-pelan, ia membawa kursi rodanya memasuki ruangan bernuansa maskulin itu, mendekati ranjang pemiliknya.

Mata Devon terpejam, namun tubuhnya tampak gemetar. Bibir lelaki itu sedikit terbuka, mengeluarkan erangan pelan. Mendapati gelagat aneh itu, alis Davina berkerut. Demi meyakinkan diri, ia pun menempelkan punggung telapak tangannya pada dahi sang suami.

Davina terperanjat saat merasakan dahi Devon begitu panas. Ternyata, Devon demam. Pantas saja ia tampak menggigil kedinginan. Segera, Davina menggerakkan kursi rodanya menuju dapur. Ia mengambil sebuah wadah plastik dan mengisinya dengan air, serta tak lupa meraih sebuah kain dari dalam lemari.

Davina meletakkan semua benda di atas paha, lalu membawa kursi rodanya kembali ke kamar Devon, tanpa memedulikan air dalam wadah yang sedikit demi sedikit tumpah membasahi roknya. Saat ini, yang ada dalam pikiran Davina hanya satu, ia harus merawat lelaki itu.

My Perfect DollTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang