Kota Ini dan Kenangan Tentangmu

161 10 28
                                        

5 hari yang lalu aku tiba di kota ini. Sebuah kota kecil di mana aku dilahirkan, tumbuh dan berkembang dengan cukup baik. Tempat di mana aku menghabiskan masa remajaku dan meninggalkan kenangan yang rupa-rupa warnanya. Hitam kelam, putih bersih, hanya so klin pewangi. Eh becanda gue.

Sejujurnya, ada rasa takut saat aku harus kembali ke kota ini. Ke kampung halamanku sendiri. Tempat aku seharusnya merasa 'pulang'. Tapi, justru selalu dibayang-bayangi oleh kehadiranmu. Oleh kenangan tentangmu. Oleh kenangan tentang kita dahulu.

Terlebih sikapmu kepadaku jauh berbeda dari tahun lalu. Kala itu kau bilang "Jangan pernah hubungi aku lagi. Aku menyesal pernah mengenal dan jatuh cinta kepadamu". Aku ingat sekali perkataan itu. Dan baiklah. Aku turuti. Harapanku agar kita bisa menjadi baik-baik kembali tampaknya tak akan berhasil. Kamu jelas tak ingin lagi berhubungan denganku, dalam bentuk apapun itu.

Tetapi anehnya, kamu tiba-tiba saja kembali. Aku ingat sekali bagaimana kamu mulai menyapaku kembali saat menontonku sewaktu siaran langsung di akun Instagram milikku. Kemudian kamu menyapa lagi dengan mengomentari status whatsappku. Aneh, batinku.

Tapi aku tak terlalu menggubrisnya. Hanya berusaha untuk meresponmu semampu yang aku bisa. Sebaik mungkin. Memilih-milih kata yang pas agar tak terlihat berlebihan. Atau dengan sengaja membalas pesanmu agak lama.

Tak ada yang berubah selama itu. Aku masih dengan sikap tak peduliku. Tak pernah melihat status Whatsappmu, Instagrammu, atau bahkan memberikan like pada status facebookmu. Bukan sombong, hanya saja itu cara terbaikku untuk lupa. Untuk abai tentangmu.

Kebiasaanku padamu jelas sudah berubah. Bukan lagi tentang kamu yang aku cari tahu. Bukan lagi kamu yang ingin aku perhatikan. Bukan lagi panggilan darimu yang paling aku tunggu-tunggu. Iya, memang bukan kamu. Dan bukan pula siapa-siapa. Aku sendiri. Aku menikmati kesendirianku.

Aku pikir, kamu hanya sekadar berbasa-basi atau mengetesku kala itu. Kemudian hilang lagi. Maksudku, menjadi asing lagi. Tapi ternyata tidak. Kamu sering kali melihat story yang aku posting di beberapa media sosial milikku dan tak jarang kamu menjadi orang pertama yang melihatnya.

'Apa artinya ini?' mungkinkah dia bersedia menjadi temanku? Menjadi baik-baik kembali? Pertanyaan itu yang sering aku gumamkan. Benarkah, benarkah, dan benarkah?

Pernah aku dengan sengaja menulis "Sing me a song" di status whatsapp. Jika kamu benar-benar ingin kita menjadi baik kembali, aku yakin kamu pasti akan membalasnya. Bila tidak, maka kamu tak akan menggubris statusku itu.
.
.
Dan.
.
.
"Lagu apa?" katamu.

Hahaha, entah mengapa aku tertawa setengah mati. Tidak lucu memang, tapi aku hanya ingin tertawa seperti itu.

Tiba-tiba saja, aku terkenang lagi tentangmu. Tentang kamu yang dulu sangat suka menyanyikanku sebuah lagu. Ah, kala itu aku nyaris terjatuh lagi. Segera ku kembalikan kesadaranku. Tidak, tidak. Aku tidak boleh kembali kepadanya, batinku.

Pernah juga pada suatu waktu, masih dengan status whatsapp milikku. Aku memposting tentang aku yang sedang memiliki paket nelpon gratis.

"Telpon aku" balasmu.

Padahal, aku sama sekali tak mengharapkan balasanmu. Aku pikir kamu akan abai.

Aku sedikit tak tenang ketika kamu memintaku menelponmu. Aku takut menjadi canggung atau tetiba kaku membisu.  Aku dan kamu bukanlah siapa-siapa. Tak ada yang patut dibicarakan. Tapi, akhirnya ku telepon juga. Dan terjadilah percakapan yang cukup lama diiringi debaran jantung yang ternyata kondusif, hanya saja bibirku yang bergetar, telapak tanganku basah. Sesekali bingung karena harus mencari topik pembicaraan yang pas dan tak membahas tentang perasaan sama sekali.

My DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang