CHAPTER.10.

41 9 4
                                        

"Ketika lo jatuh maka bangkit! Jangan mau kalah sama keadaan!"

                                           -Unknow

Happy reading👀

--------------

Hari semakin malam dan udara semakin dingin tapi para pemuda dan pemudi ini masih tetap setia bergeming di atas rooftoof kantor milik orang tua adit.

Setelah berdebat antara kubu cewe dan kubu cowo akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung. Suasana canggu sudah pasti menyelimuti mereka, terlebih mereka memilih untuk menyibukan diri dengan gadget masing masing. Tapi berbeda untuk seorang Rian, manusia yang paling tidak bisa diam ini terus saja mengganggu dan mengoceh didepan lidya. Tetapi lidya tetap saja diam tak membalas dan memilih untuk menikmati semilir angin malam di tepi rooftoof sambil menjuntaikan kakinya kebawah.

"Gua bete banget aslii" Gumam Rian dan memilih untuk meninggalkan tempat tersebut dan memilih untuk mencari target baru, Rian tersenyum licik saat melihat Ily sedang sangat serius didepan gadgetnya.

Dengan langkah gontai dia menghampiri Ily  yang sedang duduk santai disofa dan memandang gadgetnya serius.

Dan tanpa persetujuan ily dia mengambil gadget tersebut dan mengangkatnya tinggi tinggi untuk menggoda Ily, Tapi bukan Ily namanya jika dia tidak bisa mengatasi makhluk semacam Rian. Tanpa aba-aba Ily menendang selangkangan Rian dan membuat rian merintih kesakitan,Semua orang yang ada di situ tampak melebarkan matanya.

"Gausa tengil jadi cowo bisa?" Tanya Ily sinis sambil menarik paksa hp nya yg ada di tangan rian, sedangkan rian sedang merintih kesakitan.

Mereka tidak tahu jika sedari tadi Livan cs sedang menahan tawanya.

"Biadab Lo semua Otong gua aduhh! Lo jadi cewe bisa ramah dikit kaga sih kalo misalkan gua gabisa bikin anak sama Kendal jener tanggung jawab Lo yah!!" Oceh Rian sambil memegangi selangkangannya.

Sedangkan teman temannya sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.

"Ulu ulu dedek nya Rian kesakitan yah"

"Kendal jener mana mau bikin anak sama Lo kambing!"

"Jangan cuma ditendang ly sunat lagi aja sekalian"

Begitulah kira kira joke yang dilontarkan untuk Rian, Sedangkan para perempuan hanya terkekeh geli melihatnya.

"Balik nyok ah udah malem entar umi gua nyariin!" Ucap Dimas sambil melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.

Sedangkan teman temannya hanya memutar bola matanya malas. Malas mendengar Dimas memanggil ibunya dengan sebutan Umi sedangkan kelakuan anaknya diluar nalar.

"Haiss si Supri manggil mah umi kelakuan begajulan."  Ucap Adit sambil mengunyah permen karetnya.

"Bener tuh mending balik,yuk balik yuk!" Ajak bila kepada teman temannya dan mereka semua menyetujuinya.

Dan akhirnya mereka pergi meninggalkan rootoof tersebut meninggalkan Fikri dan Lidya untuk menenangkan fikiran mereka masing-masing.

Sebelum mereka semua pergi Fajri menghampiri Fikri dan menepuk pundaknya.

"Kita semua duluan yah bro. Jangan terlalu di bawa sedih lagi, Lo punya kita jangan ngerasa Lo ga punya siapa siapa lagi" ucapnya tersenyum hangat yang dibalas anggukan oleh Fikri.

------------

"Anjir mobil gua mogok!" Ucap cinta sambil menoleh kepada teman-temannya.

"Aduhh cin gimana dong ini kita balik?" Jawab Tia sambil membenarkan tatanan rambutnya.

"Dorong lah mau ga mau"

"Panggil montir aja ga bisa emang?" Ujar Lia menimpali.

"Mana ada montir malem malem gini" Jawab bila.

"Ily si enak naek motor huftt mana tukang bengkel jauh lagi" Mereka semua sudah pasrah menghela nafas panjang dan menyadarkan tubuhnya ke bangku mobil.

Namun tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk jendela kaca mobil cinta.

"Kenape? Mobil Lo mogok? Butuh bantuan ga?" Kaget? jelas. Yang membuat mereka kaget adalah muka Rian yang ditempel kan ke kaca mobil cinta.

"Ngagetin aje Lo kampret!" Jawab bila sedangkan Rian hanya terkekeh geli.

"Gini aja Lo semua balik dianterin Ama gua sama yg Laen,mobil cinta biar Adit yang ngurus"

Merasa namanya di sebut Adit menolehkan namanya dan melemparkan bekas permen karet yang dia makan ke muka Rian.

"Lama Lo udah cepet hayu!" Ajak Adit sambil menaiki motor besarnya.

Akhirnya cinta dan yang lain memutuskan untuk mengikuti saran Rian. Dengan posisi berpasangan yaitu Cinta dengan Livan, Bila dengan Adit, Tia dengan Rian,Lia dengan Fajri,Lina dengan Dimas.

Dengan senyum mengembang cinta menghampiri motor livan sedangkan livan langsung saja menjulurkan helm nya kepada cinta.

"Buat apa?" Tanya nya dengan tampang watados.

"Dipake lah masa mau Lo liatin!" Jawab livan sambil menaiki motor sportnya. Sedangkan cinta hanya menyengir tak berdosa.

"Pegang aja pundak gua kalo susah naeknya." Ucap livan yang entah mengapa membuat cinta sport jantung.

"Kalo ini mimpi plis jangan bangunin gue!" Batin nya.

-----------

Menghela nafas panjang akhirnya Fikri memutuskan untuk mengajak ngobrol Lidya.

"Ekhem" Dehem Fikri untuk menarik perhatian Lidya,sedangkan Lidya hanya menoleh sekilas dan kembali fokus pada kegiatannya yaitu memandangi langit.

"Lo tau ga kenapa gua suka banget liatin langit malem?" Tanya Lidya secara tiba-tiba spontan fikri menoleh dan menggeleng kan kepalanya.

"Menurut gua langit malem tuh enak buat dipandang apalagi ditemenin sama bulan dan bintang.Tapi,Gua gamau kaya bulan itu yang bersinar karena bantuan matahari, ibarat kata temen yang Dateng pas butuhnya doang." Ucap Lidya

"Kalo gua jadi Lo gua lebih milih jadi bulan. Karena menurut gua bulan itu hebat dia bisa jadi penerang di saat langit lagi gelap, walaupun dia dapet cahaya itu dari matahari. Dan menurut gua mereka bisa ngelengkapin satu sama lain!"

Jawab Fikri panjang lebar sambil memandangi bulan tersebut lalu Fikri menoleh dan mengatakan sesuatu lagi pada lidya.

"Jangan terlalu di bawa sedih. Yang namanya temen pasti ada aja yang kaya gitu, kalo ga Dateng pas butuh, ya nikung!percaya sama karma."

Sedangkan Lidya menoleh dan tersenyum simpul pada fikri. Fikri benar dia harusnya bisa lebih dewasa percaya bahwa apa yang dia rasakan hanya sementara dan yakin bahwa apa yang dia rasakan akan dirasakan juga oleh Ratna suatu saat nanti.

Tiba-tiba Fikri berdiri dan menjulurkan tangannya pada lidya dia terkejut tapi tetap membalas uluran tangan Fikri.

"Mending balik yuk gua anterin" ucap Fikri disertai senyumannya dan di jawab anggukan oleh Lidya.

Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan rootoof tersebut. Malam ini Lidya belajar bahwa apa yang dia rasakan hanya sementara, yakin pada karma semua butuh proses Lidya harus yakin jika Ratna akan mendapat balasannya.


-------

Watzaabbb gaisssssss 2 bulan lebih ga updet maaf bangett:((( soalnya kemaren kemaren hape oe erorr:(((

Maap juga kalo makin kesini makin maksud jalan ceritanya:((  dan terimakasih buat yang udah komen kangen:**

                                              TBC

MSC (Miss Sarap Comunity)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang