Irisa menyetir mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Ia sungguh khawatir dengan sahabatnya, Jasmine. Apalagi tadi Jasmine menangis.
"Gue bakal abisin lo, Dave kalo sampe lo nyakitin Jasmine lagi walau seujung kuku" geram Irisa.
Mobil Irisa harus terhenti karena ada kereta yang akan lewat. Ia mengumpat pelan. Ia sungguh kalut. Bisakah Jasmine bertahan sebentar?
Sembari menunggu kereta yang lewat, telepon Irisa berdering. Irisa memasang headsetnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Namun, hanya nomor asing yang tertera.
"Siapa nih? Jangan - jangan Dave?". Irisa segera mengangkat telepon masuk tersebut.
"DAVE SIALAN! LO APAIN JASMINE HAH? BAJINGAN SIALAN! AWAS AJA SAMPE JASMINE KENAPA - KENAPA! LO MATI DI TANGAN GUE!!"
"Irisa?". Suara itu bukan suara Dave. Irisa terdiam sebentar. Ia tak tahu siapa yang meneleponnya.
"Maaf, siapa?"
"Saya Karrell Alvaro"
Mampus mampus. Ngapain sih nih om - om nelpon gue? - batin Irisa
"Maaf pak, saya lagi menyetir. Ada urusan penting. Sepulang ini saya akan mengurus surat pengunduran diri saya" sahut Irisa dengan tegas.
"Bukan itu. Kamu sekarang dimana?"
Irisa tambah bingung. Kenapa Pak Karrell harus menanyakan posisinya?
"Pak maaf nanti saya hubungi lagi"
Irisa mematikan teleponnya seiring dia sampai di apartemen Dave.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenapa, Rell?"
Karrell terdiam. Berarti benar, mendengar respon awal Irisa membuatnya semakin yakin bahwa Jasmine dalam bahaya.
"Fer, lo inget lagi gak selain nyebut nama Jasmine si Irisa nyebut apalagi"