SELAMAT MEMBACA KISAH KARANADA, SEMOGA SUKA ❤
---
"Guys,ntar nongkrong yuk," ajak Sherly saat dikantin. "Mau kemana emang?" Vanda bertanya.
"Kafe deket distro yang diujung jalan sana, katanya sih makanannya enak," jelas Sherly. "Ayo-ayo aja aku mah," setuju Olif.
"Ayo tapi pulang dulu, ganti baju gitu syukur-syukur kalo mandi," Nada menyahut.
"Yoi," sahut mereka berbarengan.
Tett.
Bel pulang sekolah berbunyi dan para murid bergegas pulang, ada yang langsung menuju parkiran, ada yang menuju halte, ada juga yang menuju masa depan bersama doi. Kelas 11 MIPA 2 yang semula ramai kini sudah kosong, hah kosong? Astaghfirullahalazim qerja lembur bagai qudha.
"Lip Olip gue nebeng ya? kaga bawa mobil gue," Vanisa memasang muka memelas paling memprihatinkan bahkan dia disebut sebagai ratu memelas of the year. Ah yang benar saja.
"Oke, lo yang nyetir, yaudah guys gue pulang dulu ya jangan lupa sholat ashar dulu usahain berjamaah makin ajib dah, karena sesungguhnya pahala sholat berjamaah lebih banyak berkali lipat daripada sholat sendiri," ceramah singkat yang mengakhiri segala percakapan disore itu. "Iya bu hajjah, dd pasti sholat kok walaupun belum nemu imam yang sholeh yang bisa memikat hati dd secara lahir dan batin," jawab Vanda diselingi curhatan tidak bergunanya.
---
Agristian's house.
"Assalamualaikum bapak satpam yang berbahagia, bisa tolong dibukain gerbangnya nggak? Udah mau lumutan saya nungguin dari tadi nggak dibuka-buka," Raka menegur satpam dirumahnya dengan sopan. "Eh maaf tuan, saya ketiduran tadi," jawab pak satpam tak enak hati.
"Iya nggak papa pak, tolong dibukain sekarang ya pak," pinta Raka, "eh sama tolong jangan panggil saya tuan. Kan saya masih muda pak, panggil nak aja ya pak," imbuh Raka. Si pak satpam tersenyum ramah, ia bersyukur karena memiliki majikan baru seperti Raka.
Beberapa menit kemudian, mobil milik Raka sampai dihalaman rumahnya yang luas. "Assalamualaikum," Raka memasuki rumahnya.
"Sudah pulang kamu,ka? Gimana sekolahnya? Eh iya Arya tadi nitipin bungkusan, bunda taruh dilaci kamar kamu," tanya seorang perempuan tanpa jeda. Dia, Tamara Fransisca, bunda Raka.
"Nanya satu-satu dong bun. Iya ini baru pulang, sekolahnya b aja," jawab Raka. "Yaudah Raka ke kamar dulu ya bun."
Ica hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak itu.
Raka masuk ke dalam kamar yang bernuansa abu-abu, lalu melempar tasnya ke sembarang arah. Dan menjatuhkan tubuhnya pada kasur kingsize miliknya.
"Sampai kapan gue kayak gini terus?" tanyanya frustasi. Ditengah ke-frustasiannya, Pundi mengirim sebuah pesan.
Pundiisatya.
Ka, nongkrong yuk?
Kemana?
Kafe deket distro diujung jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARANADA
Novela JuvenilBisakah ku mengulang semuanya dari awal? Saat senja belum tenggelam dan saat mentari belum datang? Bolehkah ku bertanya pada Tuhan, mengapa Ia menciptakan rasa tanpa adanya etika? -Karanada Florencia. Dialah Karanada Florencia, seorang gadis pintar...
