8th LINE

123 13 0
                                        

Blam! Randell ngebanting pintu sekenceng-kencengnya, trus rebahan diranjang single dengan seprai Minion favoritnya. Dia berkali-kali ngusap bibirnya. Jijik, kaget setengah mati, marah, deg-deg'an, campur aduk. Dan yang paling bikin dia marah, dengan tololnya Harun bilang nggak sengaja lanjutin ciuman itu. Nggak sadar... Ketika bibir mereka bertemu, Harun malah melumat bibir mungil Randell sembari meluk dia erat.
Randell nggak habis pikir, dimana otak tuh cowok. Parahnya, ini first kiss Randell. Dan udah dirusak sama cowok kampung itu. Dengan muka mixed Arab-Sundanya yang selalu pasang wajah tolol kalau udah ngelakuin kesalahan. Pura-pura bego. Lemes lah, pertama kissing malah sama cowok.

Mereka sempet lunch bentar setelah nonton. Tapi kemudian Randell pamit pulang duluan dan nolak buat dianter. Dia udah nggak tahan lagi kalo masih harus pura-pura seolah nggak terjadi apa-apa. Harun juga paham kenapa Randell kayak gitu. Dan sejak saat itu hubungan diantara mereka jadi bener-bener canggung dan aneh.
Sebenernya Harun juga nyesel, nggak tahu kenapa malah lanjutin ciuman itu. Rasanya nggak pengen lepasin gitu aja meski awalnya bermula dari kecelakaan dan nggak sengaja.

Malem itu Harun lagi nongkrong aja bareng temen-temennya. Harun spam chat beberapa kali. Tapi belasan chat dari Harun nggak digubris sama Randell. Padahal dia cuman pengen mastiin apa si Dede' udah sampe kost dengan selamat? Bahkan sampe Harun udah balik ke Bandung dan masalahnya dengan cewek itu mulai mereda, Randell nggak pernah bales chat atau angkat telfon dari Harun.

Pekan terus bergulir... Randell udah dapet pengumuman kelulusan, beserta hasil nilai ujiannya yang sangat memuaskan. Tahun ini tingkat kelulusan disekolah tersebut 100%. Dikelas Randell juga lagi riuh suara anak-anak sekelas yang lagi teriak bahagia sana-sini.

"Ayo kita makan-makan!" ajak Heru antusias.

Randell masih sibuk ngelihatin selebaran yang dia terima. Dia ngangguk cepet kemudian.
Karna ada peraturan nggak boleh pawai dan corat-coret, hari itu Heru mutusin buat ngajak Randell makan-makan aja.

Setelah pengumuman, pihak sekolah ngebebasin mau langsung pulang atau masih disekolah. Dan Heru langsung ngajak Randell kelayapan siang itu.

-Lo nggak mau ganti baju dulu?- ketik Randell dilayar tablet-nya. Mereka berdua udah sampe dikost'an Randell. Duduk-duduk sebentar.

"Oiya, mestinya gue bawa baju ganti ya."

Randell cuman ngelirik ke arah lemarinya, yang artinya nyuruh Heru pakai aja bajunya Randell.

"Nggak usah lah, ntar bau keringet gue. Asem... Haha," tolak Heru bercanda.

-Lo kayak sama siapa aja. Ini gue,-

"Oke lah!" Heru langsung ngelepasin kemeja seragamnya.

Waktu Randell lagi sibuk nyari baju yang cocok buat Heru, ekor matanya nggak sengaja nangkap ada luka sayatan cukup panjang didada Heru. Otomatis Randell langsung ngehampiri Heru dan merhatiin luka tersebut. Dan Heru mendadak jadi bingung mau ngomong apa.

Randell masih mengamati tubuh Heru. Dan ternyata ada luka lain dipundak dan punggung. Luka seperti hantaman keras benda tumpul. Ada bekas lebam merah kebiruan dibeberapa spot.

Randell natap Heru serius seolah tanya dari mana dan kenapa dia bisa punya luka-luka ini?

"Ck... Udah, nggak usah parno. Gue nggak papa!"

Karna Randell tahu kalo dia nggak akan dapet jawaban hari ini, dia cuman mau bantu ngerawat luka-luka itu. Akhirnya Randell kembali dengan obat luka, krim pereda nyeri, plester luka, dll.

"Yaelah, dibilang nggak apa-apa,"

Randell langsung aja maksa ngurusin luka-luka itu. Nggak peduliin Heru. Kalo udah maksain sesuatu, Heru nggak akan bisa nolak kemauan Randell.
Ditengah Randell lagi serius, tiba-tiba Heru ngacak-acak rambut Randell, seolah bilang terimakasih.

CROSS THE LINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang