Pagi ini cukup cerah dan seperti biasa, aku akan melakukan aktifitas rutinku dari hari Senin sampai Jumat. Yaitu, sekolah.Setiap berangkat ke sekolah aku selalu menaiki bus. Karena sekolahku tidak terlalu jauh, jadi hanya perlu melewati tiga halte bus saja. Setibaku di halte dekat sekolah, aku segera turun dan sedikit berjalan agar bisa sampai disekolah dan langsung berjalan ke kelas yang letaknya lumayan jauh dari pintu gerbang sekolah.
Baru saja sampai di depan kelas, tapi di dalam kelasku sudah sangat ramai dan ribut. Kenapa? Jawabanya sudah jelas, pasti mereka belum mengerjakan PR matematika dan juga kerena guru matematika kami terkenal sangat disiplin & kejam bagai malaikat pencabut nyawa (menurut mereka yang sering melupakan pekerjaan rumah). Jadi, semua yang belum mengerjakan PR pasti heboh. Ditambah lagi pelajarannya tepat di jam pertama, jadi wajar saja kalau kelas ramai seperti pasar.
Ya karena seperti biasa ada saja orang yang belum mengerjakan pr, mereka pun berbondong-bondong untuk mencontek.
Tak lama terdengar suara bel berbunyi, tanda sudah waktunya untuk dimulainya pelajaran pertama. Hampir semua murid pun heboh dan buru-buru mencontek.
"Woi! Bu Debby otw ke sini!" Teriak salah satu siswa di kelasku yang membuat satu kelas heboh.
"Selamat pagi" Bu Debby memberi salam.
"Pagi bu" jawab kami serempak.
"Karena minggu lalu Ibu memberi tugas untuk kalian, ayo kita koreksi dengan maju satu persatu kedepan, ditulis dengan caranya. Setelah itu, dikumpulkan" ucapnya to the point, tanpa basa-basi.
Hening.
Tidak ada yang menjawab.
Aku dapat pastikan wajah yang tadi mencontek pucat semua, karena memang hanya 10 soal dan hanya pilihan ganda. Dan ketika aku tidak sengaja melihat mereka yang mencontek, rata-rata hanya menyilang a/b/c/d/e saja tidak disertakan caranya.
"Baiklah, Ibu akan panggil satu persatu dari daftar absen dengan acak" katanya dengan senyum tipis yang bisa dibilang mengerikan.
Para siswa dan siswi gempar, hampir semua murid berbisik-bisik untuk mencari jawaban.
"Hmm.... Adam maju, karjakan soal nomor satu" lanjut nya.
"Baik Bu" kata Adam dengan ragu-ragu, tetapi ia bisa mengerjakanya dengan waktu yang agak lama.
Setelah beberapa orang maju sekarang giliran akulah yang dipanggil kedepan dan entah kenapa aku di suruh maju dibagian yang bisa dibilang paling sulit. Mungkin untuk mengujiku apakah aku bisa atau tidak. Entahlah aku tidak peduli.
"Ya bagus, jawaban kamu benar Dev" ucapnya dengan senyuman yang sangat puas.
Aku tak menghiraukan pujiannya dan langsung kembali duduk.
"Sekarang Athar maju, kerjakan nomor selanjutnya" titah Bu Debby.
"Saya Bu ?" ucapnya menunjuk dirinya sendiri.
"Yaiyalah cuma kamu yang namanya Athar" ucap Bu Debby dengan tegas.
"Oh, oke" katanya dengan riang.
Setelah sekitar lima menit maju Athar hanya menulis titik - titik saja, alias dia tidak bisa mengerjakanya. Dengan tarikan nafas yang panjang Bu Debby mulai angkat suara.
"Athar, kamu tidak bisa mengerjakan soal mudah seperti ini?" tanya Bu Debby.
"Ehehehe.... Maaf Bu" jawab Athar sambil cengengesan tidak jelas yang membuat Bu Debby geram.
"Kalau tidak mengerti gimana cara kamu mengerjakan soal? Bahkan jawabannya benar ?" ucap Bu Debby dengan nada yang cukup tinggi, yang sukses membuat Athar dan seluruh isi kelas diam. Takut. "Kamu pasti mencontek kan Athar ?" sambungnya.
Reflek Athar mengangguk.
Aku menghela napas.
"Sekarang kamu keluar dari kelas saya dan harus membersihkan sampah yang ada di taman sekolah, sekarang!" Ucap Bu Debby dengan sangat tegas.
"Ehh..... ibu dalam kamus hidup saya, tidak ada kata mencontek, saya cuma liat jawaban dari teman saya!" Athar membantah dengan ekspresi wajah tanpa dosa.
Athar tersenyum tanpa beban dan yang lain terbahak. Sedangkan aku yang mendengar itu semua hanya menatapnya malas.
"Jangan ribut!" seru Bu Debby dengan keras dan tegas, semua pun langsung diam, "Athar, kamu jangan banyak alasan!" lanjut Bu Debby tegas."Kan udah ada Pak Arif yang bersihin taman Bu" rengek Athar dengan wajah memelas, tapi tak dipedulikan oleh Bu Debby.
"Biar aja kamu bantu Pak Arif, kasihan Pak Arif, udah mulai tua" ucap Bu Debby membela Pak Arif yang membuat seluruh isi kelas terkikik geli. "Sekarang, laksanakan apa yang ibu suruh atau ibu tambah lagi hukumannya!" ancam Bu Debby.
"Ibu mah gak asik ah!" ucap Athar lesu yang segera keluar kelas.
"Baiklah anak-anak, sekarang kumpulkan PR minggu lalu!" titah Bu Debby.
"Baik bu" jawab mereka serempak dan mengumpulkan PR-nya.
Sedangkan aku yang tak menghiraukan perintah Bu Debby, lebih memilih membaca novel yang kubawa dari rumah sambil mendengarkan musik dengan earphone yang terhubung dengan ponselku.
Aku yang sedang berkonsentrasi dengan novel yang kubaca dikagetkan dengan novelku yang diambil dan earphone yang kupakai ditarik paksa.
Aku menutup mata untuk menetralkan wajahku yang kaget dan kembali memasang wajah datarku, kemudian melihat siapa yang menggebrak mejaku. Ternyata Bu Debby. Aku menatap matanya dengan tatapan datar nan dinginku yang membuat ia menghela napas. Lelah mungkin?.
"Kamu tidak mengerjakan PR-mu lagi?" tanyanya kepadaku. Aku hanya mengedikan bahu dan kembali fokus ke novel yang ku baca, tentu saja setelah aku mengambilnya dari tangan Bu Debby.
"Kalau begitu, kerjakan tugas yang ibu berikan tadi di papan tulis sekarang!" titahnya.
Aku menghela napas tapi tetap melakukan apa yang disuruhnya. Sekitar lima belas menit aku sudah selesai dengan seluruh soal yang diberikan. Soalnya hanya ada 5, tapi jawabannya beranak-pinak.
"Heeem... iya, jawabanmu benar semua" ucap Bu Debby setelah melihat jawabanku dan semua yang ada dikelas –kecuali aku– heboh bertepuk tangan.
"Devona, istirahat nanti kamu ke ruangan ibu!" Titahnya yang kubalas dengan anggukan saja.
*****
Aku membereskan buku pelajaran dan segera pergi keruang guru karena sekarang sudah waktunya istirahat pertama, namun ketika aku sedang berjalan ada yang menubruk ku dari samping kiri, lebih tepatnya dari arah kantin, hingga aku terhuyung hampir jatuh.
"Kalau jalan hati hati dong!" ucapku kesal.
"Eh... aduh Dev maaf ya, lo gak kenapa-napa kan?" Tanya orang yang menabrakku, yang suaranya sudah sangat ku hapal.
Aku menendang tulang keringnya sambil menatapnya galak.
"Argh! Dev sakit! Tega kamu mah!" Ucapnya meringis.
"Mangkanya kalo di koridor jangan lari-lari dan ini juga karena lo bodoh!" Ucapku sengit.
"Yaudah gue minta maap ya!" Ucapnya sambil nyengir. "By the way lo mau kemana Dev?" tanya Athar.
"Bu Debby" balasku datar.
"Gue juga mau keruangan Bu Debby, bareng yuk!" Ucap Athar riang.
Aku hanya mengedikkan bahu.
=========
Mohon kebijakannya dalam membaca.
Mueheheheheh

KAMU SEDANG MEMBACA
You Are My Sun || Kamu Matahari Ku
Teen FictionIni cerita tentang seorang gadis yang sangat tak acuh dengan keadaan yang ada di sekitarnya, bahkan dirinya sendiri pun ia tak acuh. Ia sangat tidak suka bila kehidupannya diusik, walau hanya sedikit saja. Ia adalah gadis yang sangat menyukai keten...