Chapter 4

24 5 0
                                    

Author POV.

Disebuah ruangan yang bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah' terdapat dua orang siswa dengan wajah cemberut dan tentu saja ada sang kepala sekolah dengan wajah marahnya.

"Kalian lupa sama apa yang saya bilang? Sudah dua Minggu belum ada kemajuan sama sekali! Kalian hanya main main aja" Bentak kepala sekolah yang tak lain dan tak bukan adalah Bu Debby.

"Kan saya juga sudah bilang dari awal kalau saya gak mau buat ngajarin Athar! Gak ada gunanya tau gak!" Balas salah satu siswa yang bernama Devona dengan amarah yang memuncak.

Yap, dua murid yang ada di dalam ruang kepala sekolah tersebut adalah Athar dan Devona.

"Tapi Dev, ini buat kebaikan kalian!" Balas Bu Debby ngotot.

"Kebaikan apa?!" Bentak Devona dengan penuh amarah.

Athar menggenggam tangan Devona dengan lembut, berusaha menenangkan.

"Dev, gak boleh gitu sama orang yang udah tua." Ucap Athar sambil memandang Devona sok serius, membuatnya seketika mendapat hadiah jitakan dan pelototan dari Bu Debby.

"Siapa yang lo panggil orang udah tua? Gue masih muda ya!" Ucap Bu Debby memelototi Athar.

Hilang sudah karisma seorang Bu Debby yang terkenal sangat anggun dan elegan.

"Eh! Mana ada kepala sekolah ngomongnya lo gue sama muridnya, gak sopan tau gak!" Balas Athar sok kaget yang lagi-lagi mendapat hadiah jitakan dan tatapan datar dari Bu Debby.

"Bodo amatlah! Cuma ada kalian berdua ini diruangan gue!" ucap Bu Debby tidak peduli dengan image-nya sebagai kepala sekolah yang anggun dan penuh kharisma dihadapan dua murid ajaibnya

"Yaudah iyah... yang tua mah bebas!" balas Athar tidak peduli dengan ekspresi wajah Bu Debby yang sudah menggelap.

Bu Debby menghela napas. Kalo diladenin terus mah gak bakal ada beresnya ni bocah! Kalo bukan karena gue males berurusan sama ortunya, udah gue mutilasi tuh bibir jadi seratus!. Batin Bu Debby mengutuk Athar.

"Balik lagi ke topik awal. Okey Devona, sekarang kita buat kesepakatan aja. Kalau kamu mau ngajarin Athar tiga kali dalam satu minggu, kamu boleh bebas ngapain aja di jam pelajaran saya, mau main handphone, demus, baca novel, bahkan kayang kalau kamu gak malu juga boleh!" ucap Bu Debby memberi kesepakatan.

"Ngajarin dua kali seminggu, boleh bolos!" tawar Devona dengan pandangan menantang ke Bu Debby.

Terlihat Bu Debby berpikir sejenak. "Oke... tapi hanya di jam pelajaran saya saja!" ucap Bu Debby menyetujui.

"Oke" Devona mengangguk. "Kalo gitu saya permisi" lanjut Devona yang tanpa menunggu jawaban dari sang empunya ruangan langsung meninggalkan ruangan.

"Emangnya pake cara kayak gini bakal berhasil apa? Udah dua minggu ini aja, kita kalo belajar cuma berakhir Si Athar yang numpang wifi doang." tanya Athar yang malah tiduran di sofa yang ada di dalam ruangan kepala sekolah.

"Itu sih kamunya aja yang gak modal, masa numpang wifi di rumah orang!" ucap Bu Debby mengejek. "Udah gitu jadi orang gak ada sopan-sopannya, diruang kepala sekolah kok berani tiduran! Gak pake izin lagi!" hardik Bu Debby yang tidak mendapat tanggapan.

Bagaimana mau dapat tanggapan, Athar aja malah tidur.

"Dasar pilon" hardik Bu Debby pelan.

*****

"Devona, gue laper nih! Udah ya belajarnya!" Ucap Athar memelas dan juga ngiler melihat devona makan pizza sambil nonton TV.

"Dev...."

"Selesain soalnya!" Balas Devona tanpa menatap Athar.

"Ish... Yang ini gak ngerti Devona, udah dulu ah... Ini juga udah dua jam lebih kita belajar!" Ucap Athar sambil menelungkupkan kepalanya diantara buku-buku matematika yang berserakan diatas meja.

Devona menghela napas. "Yaudah".

"Yessss!" Tanpa aba-aba lagi Athar langsung menyambar pizza yang ada dimeja sebelah buku-buku yang berserakan.

"Pelan makannya! Masih banyak kali pizzanya!" Ucap Devona malas melihat Athar yang makan seperti orang yang tidak makan lima bulan.

"Iyha iyha mahap!" Ucap Athar dengan mulut penuh sampai-sampai pizza yang ada di mulutnya mental mengenai lengan Devona.

"Ih! Telen dulu makanannya!" Ucap Devona kesal sembari membersihkan serpihan pizza yang ada di lengannya dengan tisu.

Athar dengan susah payah menelan sisa pizza yang ada di dalam mulutnya.

"Hehe.... Maaf, gak akan diulang" ucap Athar sambil nyengir kuda. "Btw, belajarnya dilanjut besok lagi ya... Udah magrib harus balik".

Devona mengangguk setuju.

"Btw lagi, kita foto dulu buat bukti ke si Tante kepsek!" Athar tanpa berpikir langsung menyodorkan kamera yang ada di ponselnya untuk berfoto.

"Jangan foto gue, foto aja lo sama bukunya, dia juga bakalan tau kalo ada guenya!" Ucap Devona tegas.

Ya, Devona memang orang yang tidak mudah untuk diajak berfoto ria.

"Yaudah iya" balas Athar tidak memaksa karena sudah tau apa yang tidak disukai Devona.

*****

Devona membaringkan tubuhnya ke kasur besarnya. Ia merasa lelah. Athar sudah pulang sejak setengah jam yang lalu.

Devona memejamkan matanya, tapi tidak tidur. Ia berpikir. Memikirkan semua hal yang terjadi hari ini.

Mulai dari ketika dimarahi kepala sekolah sampai masalah mengajar seorang anak kelewat aktif, Atharisena Anderson.

Bukan hal sulit sebenarnya mengajari Athar, karena dia tipe orang yang mudah paham, hanya saja dia malas. Membuat dia seolah-olah seperti orang yang bodoh.

Terdengar ada suara dari ponselnya, Devona mengambil ponselnya yang tadi dilempar asal ke atas kasurnya.

"Dev.... Makasih pizza sama pelajarannya ya, walau kelewat banyak pelajarannya😒"
Atharisena

"Y".

"Cmn Y aja jwbnya?"
Atharisena

"Gue mau istirahat, jgn chat lg!"

"Yaudah iya, night Dev"
Atharisena

Devona meletakan ponselnya diatas nakas dan mulai memejamkan matanya, sampai akhirnya dia tertidur pulas.

========

Alhamdulillah akhirnya aku bisa update jg.

Walaupun gj wkwkwk.

Jgn lupa vommentnya yaaaa.hehe.

You Are My Sun || Kamu Matahari KuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang