Disepanjang jalan aku selalu mendengar bisik-bisik tentang aku dan Athar.
"Eh, itu si Athar kan? Cogan dari kelas XI IPA-1, ih gila ganteng banget!"
"Eh iya itu Athar! Tapi kok dia jalan bareng sama cewek sih? Itu bukannya si Devona ya?"
"Iya! Ngapain si Athar mau aja jalan sama cewek miskin itu?!"
"Daripada sama tuh cewek mending sama gue yang jelas-jelas anak orang kaya!."
"Pasti Devonanya aja yang kecentilan".
Sumpah kok mereka bego banget sih? Bisik-bisik pake toa! Sok kaya uang masih minta orang tua aja belagu. Rutukku dalam hati.
Kulirik Athar yang ternyata sedang tebar pesona kepada semua orang, hingga para siswi heboh.
Jujur saja itu membuatku jijik, yah Athar memang orang yang terkenal ramah.
Ketika aku sedang bepikir, tiba-tiba saja Athar menarik lenganku yang membuat aku menghentikan langkahku.
Aku menengok dengan malas dan sebal "Kenapa sih?".
"Udah sampe" ucap Athar sambil tersenyum jahil.
Aku memutar bola mataku malas. Tidak menanggapi dan langsung membuka pintu ruangan Bu Debby.
"Oh kalian sudah datang, silahkan duduk" ucap Bu Debby yang sepertinya kaget karena aku membuka pintu tiba-tiba, tapi langsung mempersilahkan kami duduk.
"Ada apa?" tanyaku to the point.
"Seperti biasanya, selalu to the point" Bu Debby menatapku dengan senyuman tipisnya, "Oke, saya akan langsung saja" kata Bu Debby yang mulai serius dengan apa yang dikatakannya.
"Saya punya program belajar untuk Athar tapi saya tidak bisa sendiri dan butuh bantuan kamu, Devona!" Lanjutnya tegas dan serius sambil menatap kami bergantian.
"Saya menolak! Orang bodoh dan keras kepala kayak dia gak bisa diajar!" Ucapku tegas sambil menatap Bu Debby dan Athar tajam.
"Eh! Gue gak bodoh sama keras kepala ya! Lo tuh yang batu!"
"Sudah, kalian jangan berantem! Sudah saya tetapkan kalau Devona harus mengajarkan Athar tiga kali dalam satu minggu di luar jam sekolah, untuk hari kalian yang menentukan dan harus ada bukti berupa foto materi dan orangnya juga" Ucap Bu Debby tegas dan tak terbantahkan.
Aku menghela napas gusar. Kalau ia sudah berkata seperti itu, tidak akan ada yang bisa menolak walau sekeras kepala apapun orang itu.
"Aarrrggghhh!!!" Athar tiba-tiba teriak. "Aku enggak bisa ibu giniin!"
"Lebay!" Ucapku bersamaan dengan Bu Debby dengan wajah datar tentunya.
"Baiklah sebelum Athar berubah menjadi orang gila di ruangan saya lebih baik kalian berdua keluar dari ruangan saya" ucap Bu Debby yang terang-terangan mengusir.
*****
"Sumpah gue gak mau belajar bareng lo! Lo aja disuruh buka buku malesnya ke tulang-tulang!" Hujatku sebelum masuk kelas.
"No comment deh!" Ucap Athar pasrah.
Tok..tok..tok..
"Permisi pak" Athar langsung mengetuk dan membuka sedikit pintu kelas.
Dan terlihatlah dengan jelas bahwa didalam ada Pak Riswan yang sedang menjelaskan pelajaran yang diampunya, kemudian ia melirik tajam kearah kami.
"Kalian berdua masuk!" Pak Riswan mempersilahkan kami masuk begitu saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
You Are My Sun || Kamu Matahari Ku
Ficção AdolescenteIni cerita tentang seorang gadis yang sangat tak acuh dengan keadaan yang ada di sekitarnya, bahkan dirinya sendiri pun ia tak acuh. Ia sangat tidak suka bila kehidupannya diusik, walau hanya sedikit saja. Ia adalah gadis yang sangat menyukai keten...