Renata ketawa, "Gue ga pernah loh Van sepenasaran ini sama orang,"
Kevan melengos dan memutar matanya malas, lama-lama salting juga diliatin dari tadi sama Rena, "Ga perlu Ren, sifat-sifat gue kebanyakan emang jelek."
Renata tersentak ketika mendengar kalimat Kevan itu, mereka lagi duduk di ayunan kecik milik Samantha setelah tadi makan malam bersama dan hal yang mereka cemaskan tidak jadi direalisasikan. Mama Kiran memang sesayang itu sama Renata, beliau setuju saja asal Renata berjanji akan selalu menghubunginya dan memanggil dia mama.
Oh ok.
"Ga terlalu kaget sih gue Van, karna pas liat abang lo. Sumpah gue langsung merinding denger mama Kiran bilang kalo adeknya abang Betrand ga kalah kaku." Rena ngomong gitu pakai nada ngejek yang bikin Kevan kesel banget,
"Udah kan? Lo uda ketemu abang, nyokap, bokap gue. Selama hampir 17 tahun, hidup gue emang sekaku itu Ta. Terlalu rumit buat dijelasin,"
Kevan mulai terbuka tentang masalah keluarganya.
"Abang gue selalu nomor 1, gue nomor 2 tapi gue gak ada niatan buat gantiin dia jadi nomor 1. Gue bertahan tinggal di Jakarta karna gue masih menghormati posisi bokap nyokap yang adalah orang tua kandung gue. Tapi lama-kelamaan sikap mereka bikin annoying Ta. Dulu gue mau-mau aja diatur, tapi setelah Maretha gak ada, mendadak gue berani bantah dan nunjukin rasa muak gue terhadap mereka. Itu kejadian empat tahun lalu yang mengantarkan gue hidup di Malang."
"Jadi sikap lo di luar Kosan itu sifat asli??"
Kevan mengangguk, "terlalu banyak aturan dalam keluarga gue Ta, mama papa cuma pentingin pekerjaan mereka dan status sosial sampai-sampai lupa sama statusnya sebagai orang tua. Maretha meninggal juga karna sikap mereka." Ucap Kevan yang di akhir kalimatnya dia ucapkan secara berbisik tapi cukup bisa didengar Renata, "Karakter gue udah terbentuk, gue cuma bisa manis dihadapan saudara kembar gue Ta, dan setahun ini gue bener-bener bahagia banget bisa jadi salah satu warga kosan Haji Uncuk. Gue seberuntung itu nemu kalian,"
Rena menggenggam tangan Kevan yang mengepal erat dan mengusapnya pelan. Jujur Rena ga suka sikap dan sifat asli seorang Kevano Benara karna cukup menyeramkan baginya yang setahun ini mengenal sosok Kevan dan terbiasa melihat kelakuan gilanya di Kosan.
"Coba ikhlasin Van,"
Kevan mendesah kasar, "Sulit Ta, kalo bukan lo yang mau dijodohin sama gue. Ga mungkin sekarang gue pulang. Pasti gue bakal party sama anak-anak. Karna mereka bawa-bawa nama lo dan ngancem tentang masa depan, gue cuma bisa nur--ut."
"Maafin gue Van, gue ga tau beban lo seberat itu dan seenaknya ngejudge lo yang suka party. Maaf, mulai sekarang bagi beban lo sama gue ya, gue kan udah dianggep anak sendiri sama mama Kiran."
Renata nangis kejer di pelukan Kevan, bikin cowok itu yang tadinya tegang pelan-pelan menjadi santai dan berceletuk,
"Hati gue tuh lemah banget Ta, ntar kalo gue baper sama lo gimana??"
Dan teriakan Kevan selanjutnya terdengar karna Renata yang udah serius malah Kevannya ngajak bercanda.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.