Normal POV
"Aku. Yang akan menghabisinya" kata Mozza sembari melangkahkan kakinya mendekat kearah makhluk yang menantangnya tadi, namun belum sempat Mozza mengumpulkan kekuatannya, Zadda lebih dulu maju sambil menempelkan telapak tangan nya didahi si makhluk aneh tadi bermaksud untuk menghancurkan nya sampai tak bersisa
Mozza yang tadi hanya berniat untuk menakuti makhluk itu agar mau membuka suara kini menahan lengan Zadda dan menghempaskan lengannya ke bawah untuk menghindari temannya mengamuk tak karuan sekarang
"Jangan buat masalah Zadda" sentak Mozza
Zadda yang merasa kesal dengan perlakuan Mozza itu langsung pergi ke luar ruangan, mungkin untuk mendinginkan kepalannya.
'Ini tidak akan selesai dengan emosi, aku harus cari cara agar dia bicara' Batin Mozza kini berbicara
oh ya. Sebenarnya mereka sedang berada di ‘markas’, tempat mereka berlatih mengasah kekuatan yang mereka miliki, tapi kali ini sepertinya markas terasa lebih panas oleh emosi, karena mereka datang bukan untuk berlatih, melainkan untuk menanyakan teka teki yang diberikan oleh sosok di karnaval beberapa hari lalu.
Mozza yang sangat pintar sekalipun sempat tidak mengerti, kenapa ada sosok hantu yang seperti itu? Dari wujud pun Mozza tidak pernah melihat yang seperti itu
"Mati atau buka mulut.Khirat?," tanya Mozza dengan sedikit penekanan pada kata 'mati'
"Sungguh Mozza, meskipun aku tidak suka padamu, aku tidak akan menyembunyikan nama hantu yang mendatangimu, dan jika aku tau juga aku pasti memberitahumu" ucap Khirat sedikit kesal dan ketakutan.
"Tolong jangan berbohong pada kami, kalau kami tau kau berbohong, mungkin saja Laine akan membuangmu ke tempat pembuangan arwah seperti yang lainnya" kata Rubi dengan nada yang lembut namun menusuk.
"Dengan senang hati akan kulakukan" timbal Laine atas perkataan Rubi.
Rubi memang seperti itu, dia terkadang terlalu pendiam dan lembut, tak jarang juga banyak hantu yang tidak takut padanya, walaupun kekuatan yang dimiliki gadis berambut biru itu sangat mengerikan ketika ia sedang marah.
"Sungguh aku tidak tau" jawab Khirat dengan helaan nafas, layaknya ia lelah harus menjawab hal yang sama berulang-ulang
"Sudahlah Mozza, Rubi, ini tidak akan berhasil. Lagipula aku yakin, sosok yang kita temui di karnaval itu bukan sosok yang biasa kita temui di kota ini, atau mungkin di dimensi ini" jawab Laine yang merasa bahwa usaha mereka sia sia
"aku masih tidak mengerti" jawab Mozza sambil menghadapkan pandangan pada Laine.
"Kau terlalu membuat otakmu sendiri kelelahan Mozza, jangan terlalu dipikirkan, nanti kau cepat tua!" teriak seseorang dari luar markas
Ya..mereka mengenal suara itu dengan jelas
'Zadda heh?,' tanya Mozza dalam hati.
Setelah berteriak seperti tadi, Zadda masuk ke dalam ruangan lalu merangkul Mozza sambil memasang wajah yang sangat jeleknya itu.
"Kau ini kenapa?" Tanya Rubi dengan nada hati hati
Rubi sangat tahu bahwa jika ia naikkan suaranya satu oktaf saja, maka Zadda akan marah.
"Aku mengantuk! ayo kita pulang saja, lagi pula hantu sialan itu juga tidak akan berbicara! hoamm... ayolah pulang" ungkap Zadda perihal mukanya yang sangat amat jelek tadi
"Rubi bukankah ada yang harus kau temui?" tanya Mozza pada Rubi yang dari tadi terlihat kesusahan karena Zadda yang terus menempel pada punggungnya.
"Ah iya... lagi pula kalian ada kelas kan hari ini? Kau juga kan Zadda?" kata yang dikeluarkan oleh Laine dapat membuat Zadda terusik dari posisi nyaman nya.
"Aku? memangnya aku kenapa? aku kan tidak ada kel-" belum sempat omongannya itu selesai, tiba tiba ia memasang wajah konyol dengan mulut terbuka seperti ikan arwana huahaha
"OH ASTAGAH! HARI INI ADA KELAS DENGAN DOSEN MENYEBALKAN ITU Oke oke...tenang tenang..." katanya berusaha mengatur nafasnya itu
Rubi yang berada disebelahnya hanya bisa menutup telinga karena teriakkan Zadda, Zadda itu sangat menyebalkan, sedetik dia marah, detik berikutnya ia bersikap kekanak-kanakan seperti ini, terkadang mereka berfikir, kapan dia bisa berubah menjadi lebih dewasa, setidaknya sedikit saja dewasa.
"Yaampun ayo kita pulang sekarang!" kata Zadda sambil berlari keluar meninggalkan orang orang dibelakangnya yang hanya bisa menghela nafas panjang lalu mengikutinya keluar dan memasuki mobil yang terparkir tepat disebelah pohon beringin.
.
.
.
.
Mobil putih milik Mozza akhirnya berhenti disebuah pekarangan rumah yang sangat asri, pertanda bahwa sang pemilik rumah mengurusnya dengan baik.
Keempat gadis yang mempunyai keberagaman sikap itu telah membuat pekarangan rumah yang mereka tinggali ini begitu asri dan menghangatkan mata bagi yang melihatnya,
Mereka berdiri tepat dihadapan pintu bercat putih dengan memasang wajah bosan karena menunggu Rubi mencari cari kunci rumahnya yang entah berada dimana.
"Haduh Rubi, cepat lah! buka pintu rumahnya" Kata Laine sambil merapatkan kedua kaki nya sambil kedua tangan yang dikepal erat. Ia harus ke kamar mandi secepatnya.
"Sebentar Laine, kuncinya tidak ada" kata Rubi setengah panik
"Ayolah Rubi bukan saatnya untuk berleha-leha, ini sudah hampir masuk jam kuliah ku.." rengek Zadda pada Rubi, yang secara tidak langsung membuat Rubi semakin tertekan dan panik.
"kau taruh dimana kuncinya Rubi!!" gemas laine yang sendari tadi merapatkan kedua kakinya, ingin masuk ke kamar mandi.
"Rubi kekuatanmu. Hancurkan saja pintunya" perintah dingin Mozza , yang sudah mulai kesal karena ingin masuk ke dalam rumah dan berhenti menyaksikan drama Zadda dan Laine.
"tapi jika pintunya rusak nant--" ucapannnya di potong.
"nanti, kita perbaiki, cepat rubi" kesal Laine yang menekan setiap katanya.
"Tunggu apalagi!? kenapa kau diam? ayolah Rubi." ucap Zadda yang mulai jengah.
Rubi mengangguk.
Bekerja. Ia memutarkan matanya untuk melihat kesekeliling, mencari benda apa yang bisa ia gerakkan untuk menghancurkan pintu rumahnya itu
Tak lama ia melihat batu besar, terlihat seperti bahan bahan untuk membangun rumah tetangga sebelah 'markas' kami. Rubi yang sedang memfokuskan diri itu, lalu mengangkat batu tersebut dan melayangkannya ke arah pintu dan seketika
Brakk..!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Mozza
ФэнтезиSelalu ada yang hilang dalam sebuah pengorbanan bukan? Entah itu kamu ataupun aku.
