PAUSE
“Hey! Kenapa dipause?” Kesal seorang gadis cantik bermata safir
.
“Aku tidak suka filmnya,“ jawab temannya acuh.
“Oh ayolah MOZZA! Hanya karna kau tidak suka bukan berarti kami juga tidak suka! “ ujar seorang gadis bertubuh langsing dengan nada marah.
“Berisik. Lagipula Rubi juga tidak berkomentar“ kata Mozza dengan entengnya.
“Rubi tidak berkomentar karena memang ia tidak bisa membantahmu Mozza” ucap sang gadis cantik bermata safir itu lagi.
“Sudahlah Zadda, lebih baik kita pergi ke ‘markas’ saja, apakah kalian tidak merindukan ‘sesuatu’ disana? “tawar Rubi dengan lembut sambil menatap gadis disebelahnya
Gadis bernama Mozza itu tak kunjung menjawab, namun akhirnya ia menghela nafas pendek ‘tidak,’ ucapnya singkat dan jelas
Laine yang sedang duduk di sofa sebrang mozza lalu membuka suara untuk memberi usul
“bagaimana kalau kita hangout keluar saja?akan terdengar Bagus bukan?, baiklah kita pergi ke mana? “tanya Laine.
Rubi berpikir sejenak, “pergi ke karnaval sepertinya menyenangkan, aku dengar wahana rumah hantu disana sangat menantang” usul Rubi pada teman temannya.
“Baiklah, ayo kita buktikan seberapa hebat mereka membuat rumah hantu yang dibilang ‘sangat menantang' itu,“ ucap Zadda sambil tersenyum smirk andalannya.
“Siapa takut! Ayo!“ ajak Laine yang tidak ingin terlihat kalah oleh Zadda.
Namun belum sempat Laine dan Zadda berdiri dar duduknya, suara lembut Rubi lebih dulu menginterupsi dan membuat mereka berdua duduk kembali
“Bagaimana denganmu mozza? Kau setuju? “
Mozza hanya menatap Rubi dalam lalu berdiri dan berjalan kearah kamarnya meninggalkan mereka yang terdiam kaku.
Sudah beberapa menit berlalu namun mereka yang masih diruang tengah itu belum juga bergerak dari tempatnya
Laine menghela nafas ,bibirnya mengerucut "kalau bukan sahabatku sudah aku buang dia dijalanan"
"Siapa?'" tanya seseorang dengan nada dinginnya
Laine yang otomatis membalikkan badannya kini menganga lebar . Lidahnya kelu seketika. 'Sial!' umpatnya dalam hati
''Kutanya siapa?kenapa kau diam?'' tanya seseorang dihadapan laine sekali lagi
"Siapa yang siapa maksudmu?," tanya Laine sedikit gugup
"Kau tau sendiri, bahwa kau tidak bisa berbohong dihadapanku Laine," ujar Mozza dengan wajah yang masih datar
Laine hanya mendelik tak suka "sudah kubilang jangan membaca pikiranku"
Mozza yang mendapat tatapan tak suka dari Laine itu justru malah mengangkat bahunya acuh, lalu duduk disamping Rubi
"Ayo", Zadda yang disamping Mozza menaikan sebelah alisnya lalu menatap mozza dengan tatapan bertanya
"Karnaval," ucap Mozza lagi untuk memperjelas perkataannya yang tadi pada Zadda
"Hah?Apasih maksudmu, kalau ngomong itu yang jelas," Mozza hanya mendelik tak suka pada sahabat satunya ini
"Apa maksud tatapan mu itu Mozza? Kau mau mengajakku berkelahi hah!?," tanya Zadda sedikit kesal
Rubi yang melihat interaksi mereka yang mulai memanas akhirnya angkat bicara
"Sudahlah Zadda kau tau sendiri bukan Mozza memang tidak suka berbicara panjang lebar," ucap Rubi menengahi dengan lembutnya
Rubi tau betul Mozza itu tipe orang yang tidak suka banyak berbicara, bahkan ketika mereka telah hidup bersama setelah sekian lamanya
Rubi tau betul Mozza itu dingin, berwajah datar, namun ia sangat tau bagaimana melindungi sahabat sahabatnya, bagaimana ia menyayangi sahabat sahabatnya, meskipun tanpa bicara. Ya.. Itulah Mozza.
"Jadi kau menyetujuinya Mozza? Pergi ke karnaval betul?", Mozza yang mendengar Rubi bertanya hanya menjawabnya dengan gumam kecilnya
"Nah begitu lebih baik, setidaknya perbaiki cara berbicara mu itu Mozza, panjanglah sedikit dalam berbicara," ucap Zadda lalu melenggang pergi kekamarnya untuk bersiap siap diikuti dengan Laine lalu Rubi
Jangan tanyakan mengapa mereka tidak pulang ke rumah masing masing, karena jawabannya adalah mereka tinggal di satu atap yang sama, mengapa? Karena orang tua mereka yang super sibuk itu tidak punya banyak waktu di rumah dan akhirnya mereka pun pergi dari rumah secara terhormat, maksudnya dengan izin orang tua mereka masing masing.
Mereka mendapatkan rumah dari hasil mereka menabung bersama di sebuah celengan berbentuk burung, yang mereka kumpulkan dari mereka sekolah menengah pertama dan dari situlah persahabatan mereka semakin dekat.
“Cepatlah,” kata Mozza yang sedikit kesal menunggu teman temannya.
“Iya iya kami sudah siap, ayo!” ajak Zadda kepada yang lain.
Mereka pergi dengan menggunakan mobil berwarna putih milik Mozza yang diberikan oleh ayahnya sebagai hadiah diusianya yang ke 17 tahun. Keren bukan? Diusianya yang masih muda Mozza sudah memiliki mobil sendiri, bahkan dia memiliki satu mobil lagi yang ia parkirkan di garasi rumah mereka. Coba bayangkan? Seberapa kaya orang tua Mozza? Hem..
Tak banyak percakapan yang mereka lakukan didalam mobil. Mozza masih sibuk menyetir dalam diam, Rubi yang mengantuk dan Zadda juga Laine yang sedang memainkan ponsel mereka
Dua puluh dua menit dua detik tepatnya mereka sampai di karnaval. Mozza langsung memarkirkan mobilnya di salah satu tempat parkir yang tersedia khusus untuk pengunjung karnaval, namun ketika hendak keluar dari mobil tiba tiba saja ada yang menepuk pundak Rubi dengan kencang.
Rintihan Rubi, membuat Mozza mengalihkan pandangannya dari pintu mobil yang habis ia tutup tadi.
“Ada apa?“ tanya Laine.
“Kau kenapa Rubi? Kenapa tiba tiba kau berteriak seper-” Belum sempat ucapan Zadda selesai, tiba tiba lampu diseluruh kawasan karnaval mati.
Banyak orang berteriak teriak seakan terkejut dengan hal yang terjadi.
Mozza, Zadda, Laine Dan Rubi dengan sigap menyalakan lampu senter di smartphone mereka.
Ketika mereka menyalakan lampu mereka dikejutkan oleh sosok yang tiba tiba muncul entah dari mana, mereka tidak bisa menjelaskan apakah sosok tersebut lelaki atau perempuan.
Aneh, seperti itulah wujud yang sedang mereka hadapi, bukan seperti hantu namun tidak bisa disebut manusia.
“Siapa kau? Apa maumu?“ tanya Mozza masih dengan wajah yang datar dan suara yang dingin nan menusuk
Hening
Tak ada jawaban dari makhluk dihadapannya ini, sampai akhirnya Mozza berjalan mendekat, dan makhluk itu memundurkan langkahnya seiring dengan langkah Mozza yang mendekat padanya
Mozza berhenti.
Bukan karena takut, melainkan ia ingin jawaban dari makhluk di hadapannya
"Kutanya sekali lagi siapa?kau siapa?," tanya Mozza dengan nada yang menusuk diiringi dengan tatapan tajam nya
Makhluk dihadapannya justru malah tertawa kencang seakan suaranya itu bisa mengalahkan suara speaker dirumah gadis bernama Mozza itu
Tawanya terhenti.
Makhluk itu tersenyum miring pada Mozza
"Aku?Maksudmu aku?"
To be continued gais:))
****
Salam manis dari sipenulis:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Mozza
FantasíaSelalu ada yang hilang dalam sebuah pengorbanan bukan? Entah itu kamu ataupun aku.
