sandwich

28 6 0
                                        


Sial.

Fanesya telat bangun, mengakibatkan dirinya terlambat ke sekolah.

Fanesya menyesal mengikuti tawaran Viko untuk balapan liar.

Sepanjang jalan Fanesya mengutuk dirinya, begitu bodoh karena bensin mobilnya habis. You know la, buat balapan tadi malam.

Cewek berambut panjang ini berlari hingga keringat sebiji jagung mengalir di pelipisnya, dia begitu ceroboh hingga terjatuh karena tali sepatunya yang lepas.

"Fuck, hidup kok gini amat," Ucapnya sambil membenahi tali sepatunya.

"Yah, pake berdarah pula ni lutut," lanjutnya setelah mengetahui lututnya sedikit lecet dan mengeluarkan darah.

Fanesya tetap berlari meskipun rasa perih membuatnya sedikit kewalahan , dan akhirnya dia sampai kesekolah. Meskipun sudah sampai, dia berhenti sejenak melihat gerbang yang tidak ada penjaganya, Fanesya bisa saja memanjat gerbang setinggi dua meter ini, tapi dengan kaki yang berdarah, mungkin sedikit sulit.

Ting,

Satu ide terlintas di pikiran Fanesya.

"Pak Juna, bukain gerbangnya !!" teriak Fanesya.

Pak Juna, satpam SMA INSA keluar dari kantornya. Kemudian berkacak pinggang sambil berkata, "Lima tahun saya menjabat sebagai satpam disini, gak pernah saya lihat murid seperti kamu dan geng kamu itu. Sekarang, apa alasannya kamu terlambat?"

"Tadi, saya ditabrak kereta pak, bapak lihat lutut saya, darahnya gak berhenti pak, biarin saya masuk, ya, pak, setelah itu saya ke UKS buat bersihin luka saya." Bohong Fanesya.

Pak Juna menggeleng, dia membuka gerbang. Fanesya pun masuk kedalam area sekolahnya, dengan akting bohongan berjalan terpincang-pincang.

"Perlu saya antar ke UKS , soalnya saya lihat kamu susah jalan." Kata Pak Juna kasian melihat Fanesya.

Fanesya menggeleng, "Gak usah, Pak, saya bisa sendiri. Btw, makasih Pak karena sudah mengasiani saya."

"Sudah, gak papa, kamu cepat ke UKS, darahnya sudah hampir mongering itu." Ucap Pak Juna khawatir.

"Kalo gitu, saya permisi dulu pak." Kata Fanesya.

Fanesya menghela nafas, untung kebohongannya tidak diketahui oleh Pak Juna, kalau Pak juna tahu Fanesya berbohong, mungkin sepanjang masa SMA-nya Fanesya tak akan dibiarkan masuk ke area sekolah jika terlambat. Fanesya menggeleng, tak ambil pusing, dan segera pergi menuju UKS.

Tak sampai lima menit untuk Fanesya sampai di UKS, keadaan disana sedang kosong, tak ada satu pun mahluk hidup. Untung, Fanesya tahu bagaimana membersihkan luka lecet. Setidaknya, Fanesya beruntung karena hobinya yang suka nonjok orang, sedikit bermanfaat.

Setelah, mengambil plester, kapas, dan alkohol. Fanesya mulai mengobati lukanya, walau terkadang meringis karena perih dan sakit yang di rasakannya bersamaan.

Di saat itu pula, Luister datang dengan menggendong seorang cewek, yang sedang pingsan, mungkin.

"Oi, yang duduk di sana, bisa pindah, gak? Ada yang pingsan soalnya." Tanya Luister agak kewalahan.

"Gak bisa." Jawab Fanesya sambil menoleh melihat Luister.

"Fan, bisa gak kadar ke-egoisan lo dikurangin?" tanya Luister kembali, ketika melihat wajah Fanesya.

"Gak bisa."

Luister menyerah, dia meletakkan tubuh gadis yang bernama Rani itu di sopa panjang di ujung ruangan. Dia kalah, jika melawan sifat keras kepalanya gadis yang menyandang status sahabatnya itu.

My squadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang