Chapter sebelumnya
Tiba - tiba Ayna merasakan sepasang tangan memeluk dirinya dari samping, kini bagian lengan bajunya basah karena terkena air mata. Ia tahu bahwa yang saat ini memeluknya sambil menangis adalah ayahnya. Hatinya terasa hangat saat ia merasakan kembali pelukan ayahnya setelah sekian lama ia tak merasakan hal itu.
.
.
.
.
'Ayna Azura'
“Ayah akan baik-baik saja maafkan ayah karena telah banyak melukaimu bahkan Ayah tak pantas disebut sebagai seorang ayah, ayah hanya bisa menyusahkanmu dan menyakitimu maafkan ayah.” ucap sang ayah mengeratkan pelukannya.
“Aku menyayangi ayah, aku tak bisa egois Aku tak bisa meninggalkan ayah sendirian di sini. Aku tak bisa.” Racau Ayna membalas pelukan ayahnya.
“Biarkan kau egois kali ini, biarkan aku mengalah demi kebahagiaanmu jangan jadikan aku sebagai ayah yang sangat jahat di hadapan tuhan.
Sebutlah ini pengorbanan untuk melihatmu tersenyum bahagia Ayna.” Ayna tak menjawab ia terus menangis dan membalas pelukan dari sang ayah.
“Kau tahu ayna, setiap malam ayah selalu menangis merenungkan apa yang ayah lakukan padamu, saat kau menangis hati ayah seperti di hantam oleh pisau tajam, meskipun ayah tahu perlakuan ayah terhadapmu itu salah tapi ego ayah telah memenuhi pikiran ayah sehingga ayah tak pernah menghiraukan hati yang mengatakan bahwa ayah menyayangimu.” Ucap sang ayah sambil mengusap rambut Ayna lembut.
“Pergilah dan raihlah cita – citamu, ayah akan selalu mendo’akanmu di sini, jangan khawatir ayah akan baik – baik saja. Kau bisa pulang jika ada waktu luang.”
Mendergan ayahnya yang ternyata begitu menyayanginya. Ayna memantapkan hatinya, ia akan menerima beasiswa itu walaupun ia tak yakin ayahnya akan baik – baik saja.
Ia pikir tadak apa – apa jika ia mengunjungi ayahnya nanti saat waktunya kosong. Ayna menganggukan kepala pertanda ia akan menerima beasiswa itu, kemudian sang ayah memeluk putrinya begitu erat. Ayahnya sangat menyesal atas apa yang ia lakukan terhadap Ayna dulu.
~5 bulan kemudian
Kini status Ayna sebagai mahasiswa di salah satu universitas yang berada di pusat kota, setelah 3 bulan yang lalu ia lulus dari bangku SMU. Ia juga tak lagi tinggal bersama ayahnya, ia menyewa sebuah flat kecil di dekat kampusnya.
Ayna tak tinggal sendiri ia menyewa flat itu bersama dengan temannya yang juga datang dari desa yang sama untuk bekerja.
Saat ini Ayna dan temannya yang bernama Bora tengah berjalan di pinggiran jalan untuk mencari makanan.
“Ayna sepertinya makan ramen tak apa di siang hari seperti ini, kebetulan saat ini aku sedang ingin memakan mie.” Ajak Bora saat ia melihat ada kedai ramen di sebrang jalan.
“Baiklah ayo kita kesana.” Kemudian mereka menyebrang jalan.
Di saat mereka tengah memesan makanan, mata Ayna menelusuri kedai ramen tersebut, arah pandangnya terhenti kala ia melihat 2 siluet orang yang tak asing di penglihatannya.
Ia terus memperhatikan siluet itu sampai salah satu dari siluet itu melihat ke arah belakang hingga pandangan mereka bertabrakan.
Ayna di buat tekejut karena apa yang ia lihat saat ini adalah hal yang ia impikan selama ini, tepat di depannya, seseorang yang kini tengah menatapnya, seseorang yang ia rindukan, seseorang yang ia cari selama ini. Azura, adik kecilnya yang selalu ia rindukan kini tengah menatapnya.
Ayna berjalan perlahan ke arah meja Azura, sesampainya di sana ternyata siluet yang tengah makan bersama Azura adalah ibunya, ibu yang telah melahirkannya dan juga yang sangat ia rindukan, rindu pelukannya, rindu nasihatnya bahkan Ayna rindu saat ibunya mengomel jika ia melakukan kesalahan.
Terimakasih yang udh nyempetin waktunya buat baca cerita ini, maaf jika isi ceritanya kurang menarik🙏🙏🙏
Ayo coment dan vote jangan lupa, jangan ragu buat pencet bintangnya😘😍😘😍😘😍
Tunggu chapter selanjutnya oke😉👍
KAMU SEDANG MEMBACA
Ayna Azura
Jugendliteratur"Aku sangat takut." Sahut sang adik yang tak henti-hentinya menangis. "Tak usah takut ada aku di sini, aku akan selalu ada disisimu dan melindungimu." Jawabnya yakin. Sang adik hanya bisa menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia percaya akan kata...
