Kelas X SMA. Hari itu pertama kalinya aku masuk sekolah yang berbeda dengan Gio. Karena dia lebih memilih SMK jurusan computer. Sedangkan aku lebih tertarik di Biologi, jadilah kami memilih minat masing-masing. Meskipun kami beda sekolah. Rutinitas kami masih seperti biasa. Meskipun gio juga sudah jarang menjemputku untuk pergi sekolah, karena jelas sekolah kami beda arah. Dia tetap sering main denganku. Atau sekedar menjemputku untuk nongkrong bersama teman-temannya.
Disitu aku kenal beberapa teman-teman nongkrongnya. Bobi, zikri, dani, dan samsul. Mereka teman dekat gio di SMK. Gio memperkenalkanku saat kami memasuki bulan kedua di sekolah. Saat itu gio mengajak ku ke warung tempat biasa dia nongkrong bersama beberapa temannya. Terletak diluar sekolah gio. Buat tempat merokok katanya. Gio sudah mulai merokok waktu itu. Aku gak tau kapan dia mulai merokok. Aku tau hal itu tidak baik, tapi aku tidak bisa melarangnya. Aku bilang, asal jangan merokok di depanku saja. Dia Tanya kenapa? Pasti disuruh matiinkan. Katanya menjawab sendiri. Aku bilang nggak. Aku suruh kamu hisap rokoknya sepuluh sekalian kataku. Dia malah ketawa. Bobi, zikri dan yang lainnya ikut ketawa.
"Hahaha. asapnya buat tambahan buat gulali" celetuk dani.
"Iyaaaa. Soalnya gulalinya kurang manis" samsul yang jawab.
"Pandang aja lila pas gulung gulalinya" bobi yang menyahut.
Aku Tanya "Kenapa?"
"Biar lebih manis gulalinya" sahut bobi lagi. Aku ketawa.
"Jangan pandang lila" kata bobi lagi.
Aku Tanya lagi kenapa?
"Itu ada singa yang mau ngamuk" matanya menyipit memandang gio. Aku, gio dan yang lainnya tertawa. Jadilah siang itu warung pecah dengan tawa kami semua.
*****
Memasuki bulan keempat selama sekolah. Aku dipilih menjadi sekretaris kelas saat pembagian kelas di hari pertama setelah melewati masa plonco dengan kakak-kakak kelas yang super duper nyebelin. Aku ingat waktu itu nama diplang kardus yang bergantung di leherku adalah Jengkol. Aku benar-benar jadi sasaran empuk kakak kelas lagi setelah SMP aku juga sasaran empuk. Entahlah, kenapa mereka suka mengerjaiku. Beberapa teman yang mengenalku bilang. Karna wajahmu terlalu menarik perhatian lila. Dan kamu juga suka menjawab pertanyaan yang diberikan. Itu juga salah satu sebab kenapa kamu jadi sasaran empuk. Kamu cantik lila, kata temanku yang satu lagi. Aku kira kemarin kamu ini china's. jelas saja kakak-kakak kelas itu mencoba mencuri perhatianmu. Kan selalu begitu setiap ada penerimaan murid baru. Kakak kelas yang udah lama-lama jomblo ini pasti cari cewek. Aku tertawa. Tidak begitu menanggapi lelucon mereka. Aku hanya berpikir bahwa ini karena nama unik yang aku dapat saat pembagian pencabutan nama di gulungan kertas.
"Hey yang disana. Yang berbisik-bisik. Jengkol-jengkol. Yang namanya jengkol. Berdiri" kata salah satu kakak kelas yang berperawakan tinggi dengan tubuh yang lumayan berisi, kulit coklat, lumayan manis.
"Hey jengkol, kupingnya budek ya" seperti teriak-teriak, Karena kakak itu mengenakan pengeras suara.
Rika menyenggolku. Rika, dia teman pertama yang aku kenal saat pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Aku menoleh, ada apa. Semua mata sibuk mencari orang yang dimaksud Jengkol. Itu kau lila, kata rika. Astaga, aku baru sadar bahwa itu aku. Aku berdiri. Menunduk mengangkat tangan, merasa malu melihat tatapan-tatapan orang yang senyam-senyum memandangku.
"Kamu budek ya? Cantik-cantik kok budek?" sebut salah seorang panitia mos yang berambut kecoklatan. Alami. Sepertinya blasteran.
"Maaf kak" aku menunduk malu. Semua peserta mos tertawa.
"Kamu ada uang seribu gak?" katanya lagi. Aku diam tidak mengerti.
"Aku bilang kamu ada uang seribu gak? Bener-bener budek ya kamu" dia mengulangi.
"Ohh, ada kak" aku merogoh saku bajuku, mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan.
"Beli korek kuping dulu gih" semua orang tertawa. Betapa malunya aku saat itu. Mukaku merah padam. Panas. Mendidih rasanya. Padahal jelas kami berada di dalam aula sekolah. Bodohnya aku waktu itu. Tidak menangkap maksudnya saat menanya uang ribuan padaku. Kelak aku tau. Nama kakak itu Dika. Ya, namanya Dika.
*****
Aku aktif dalam beberapa kegiatan. Salah satunya PMR (Palang merah remaja). Saat pertama kali menentukan pilihan. Aku bingung antara Pramuka dan PMR. Karena tidak boleh mengikuti keduanya sekaligus. Jadwalnya bisa saling bentrok. Dan aku lebih memilih PMR. Karena itu berhubungan dengan obat-obatan. Aku suka baunya. Aneh memang. Tapi aku suka berada di dalam UKS, bau kassa, betadine, antiseptic, aku suka baunya. Aku suka bau obat-obatan di dalam rungan UKS. Meskipun gio sama sekali tidak mendukungku di PMR. Karena terlalu banyak kegiatan sosialnya. Jelas aku repot nanti antar jemput kau, begitu katanya. Soal Debat, gio rajanya. Bagaimana pun benarnya persepsiku. Dia tetap ingin persepsi dia yang dipakai. Keras kepala, ego tinggi, itu sudah jelas ada di gio. Meskipun kami sama-sama keras. Tapi dia jauh lebih keras dariku. Jika dia sudah memutuskan. Maka itulah akhirnya, tidak akan berubah walau bagaimanapun aku membujuknya. Kecuali, jika aku menangis tentunya. Itulah senjata terakhir yang kupakai kalau sedang perang dingin dengannya.
Bercerita tentang persahabatanku dengan gio, siapa bilang kami tidak pernah bertengkar?. Pernah, ketika aku marah, ngomel-ngomel gak karuan saat dia ketauan berantem sama anak dari sekolahku. Aku Tanya kenapa? Karena yang aku dengar gio yang memukul duluan. Dia tidak mau cerita alasannya. Tetap menutup mulutnya hingga aku selesai dan meninggalkannya. Entahlah karena apa? Dia tidak mau bilang. Mungkin itu urusan laki-laki. Begitu pikirku saat itu. Ujungnya aku tau. Karena aku dijadikan bahan taruhan untuk mendapatkanku. Kebetulan saat itu gio ada di parkiran menjemputku. Tidak banyak omong. Dia langsung memukul orang yang berbicara begitu tentangku. Dia bilang aku tidak perlu tau, apa yang mereka omongkan? Karena dia yang mendengarnya saja sudah kesal. Apalagi aku. Begitu katanya. Mungkin itu hal yang buruk. Pikirku.
Hari ke 9 aku sekolah. Sudah memasuki jadwal belajar efektif. Sudah membagi kelas dan menentukan struktur kelas. Aku dipilih sebagai sekretaris. Voting suara ku lebih besar dari yang lain. Dela cemberut, karena dia juga mengajukan diri sebagai sainganku. Padahal aku tidak menunjuk diri. Teman-teman yang menunjukku agar aku di calonkan. Katanya aku cocok sebagai sekretaris. Cantik, berwawasan. Aneh. Aku tertawa. Cantik itu tidak masuk kategori. Bubul, Salah satu teman kelasku menyahut. "Siapa bilang cantik itu tidak masuk kategori?Cantik itu perlu. Persyaratan penting malah kalau di dunia kerja. Berpenampilan menarik. Buat menarik bos-bos". Aku tertawa keras. Benar-benar menimpuknya dengan pulpen saat itu. Enak saja. Aku bukan type orang seperti yang dia maksud. Tidak peduli entah kemana setelahnya pulpenku melayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulanglah
RomanceKita menyukai satu sama lain dalam kurun waktu yang lama tanpa memberitahu. Kenyamanan. Sampai suatu waktu aku merusak segalanya karena kecerobohanku.
