Ternyata ginjalku cocok untuk didonorkan ke Mas Rey. Aku sujud syukur. Entah karena aku yang akan segera dapat uang, atau aku yang ternyata bisa menyelamatkan nyawa mas Rey.
Ya, namanya Reyhan, dipanggil Rey. Aku hampir lupa memberi tahu pada kalian, karena aku pun baru berkenalan, dan baru mengetahui nama masing-masing saat dokter menanyakan namaku, saat itulah kami berkenalan. Nama mas Rey dan wajahnya sangat cocok menurutku. Seperti apa yang aku katakan sebelum-sebelumnya, sungguh dia sangat sempurna jika dokter tidak memvonisnya mengidap gagal ginjal kronis.
Mas Rey juga sudah berani curhat padaku. Katanya, tidak ada wanita yang mau menikah dengannya setelah mereka tahu tentang penyakit kronisnya yang diidapnya itu. Padahal mas Rey sudah sangat ingin menikah. Ternyata penyakitnya itu menjadi hambatan. Mereka tidak mau mengurus suami yang penyakitan, takut kalau-kalau nanti ditinggal pergi begitu saja.
Aku dan dia sudah melakukan negosiasi. Aku akan memberikan ginjalku padanya, dan aku akan segera menjadi orang kaya. Mungkin saja harta Mas Rey tidak akan habis walaupun nanti aku bawa semuanya.
Dia memang orang kaya, tapi dia mengatakan padaku, bahwa dia tidak memiliki keluarga. Orang tuanya meninggal, dan saudara-saudaranya seolah tidak peduli. Alasannya, mas Rey kan punya uang banyak, jadi mereka membiarkan lelaki berumur 26 tahun itu hidup mandiri.
Kuketuk pintu rumah. Tidak ada yang menyahut.
Aku membukanya, dan melangkah masuk dengan hati berdebar.
Ternyata sudah ada ayah tiriku yang berwajah sangar.
"Berani sekali kamu datang ke sini. Mana? Apa kamu dapat uang?"
"Udah, Yah. Aku datang ke sini untuk minta persetujuan Ayah sama Ibu."
Ibuku datang dengan segelas air putih di tangannya. Dia selalu begitu, pakai daster dengan rambut digelung.
"Persetujuan apa?"
"Aku bakal donorin satu ginjal aku. Apa Ayah sama Ibu setuju? Aku bakal dapet uang setelah itu."
"Serius? Ginjal itu mahal." Ibuku tercengang.
Ayahku terkekeh. "Ya udah sana, kita pasti setuju. Ginjal itu mahal, Len. Kamu harus bisa dapetin uang yang banyak! Kamu harus bisa tebus hutang-hutang budi kamu sama kita."
Aku mengangguk. Ternyata percuma aku meminta persetujuan. Harusnya aku tahu, mereka tidak akan peduli. Harapanku terlalu tinggi jika menginginkan mereka menahanku untuk mendonorgan ginjalku, karena hal itu akan membuat kesehatanku terganggu walaupun tidak fatal. Apalah aku, hanya anak tiri yang dimanfaatkan dan tidak dirindukan.
"Oh, jadi ini alasannya kamu rela mendonorkan ginjal kamu. Hanya untuk keluarga kamu yang jahat ini?"
Refleks aku membalikan badan ke belakang, kulihat mas Rey sudah berdiri di lawang pintu dengan kemeja merah maroon-nya. Sepertinya keluargaku pun ikut terkejut dengan kedatangannya.
"Aku nggak akan biarin itu, Len. "
"Mas ngapain dateng ke sini?" tanyaku bingung. Dari mana juga dia tahu alamat rumah aku?
"Saya cuma mau mastiin. Ternyata dugaan saya benar. Lena, saya nggak mau nerima ginjal kamu."
"Kenapa gitu, Mas? Gue butuh uang." Aku nyaris ngamuk kalau sampai mas Rey tidak mau menerima ginjalku. Bisa gawat. Aku gagal dapat uang.
"Gue butuh banget, plis, Mas. Ngertiin. Mereka butuh uang, gimana pun gue berhutang budi sama mereka."
"Nggak perlu kasih saya ginjal, kamu hanya perlu menikah dengan saya, maka kamu akan mendapatkan uang."
Apa-apaan ini? Menikah?!
"Kamu bersedia?"
"Gimana bisa gue nikah sementara harapan hidup Mas pun cuma sebentar lagi. Nggak mau. Gue cuma mau nikah sekali seumur hidup. Gue nggak mau jadi janda nantinya."
"Kamu nggak cinta kan sama saya? Jadi saat nanti kamu kehilangan saya, kamu nggak akan sedih. Setelah saya meninggal nanti, kamu boleh nikmatin semua harta saya yang akan jatuh ke tangan kamu. Kamu pun bebas memilih suami baru. Saya hanya butuh pendamping hidup, kekasih halal yang bisa mendampingi saya di sisa-sisa waktu yang ada. Saya hanya ingin merasakan rasanya menikah. Dan, selamat, kamu wanita beruntung. Saya nggak akan meminta ginjal kamu, saya hanya menginginkan kamu untuk merawat saya. Dan saya mohon, patuhin segala perintah saya selama kamu jadi istri saya."
Aku ingin menangis mendengarnya. Mengapa suasananya jadi mellow begini? Secara tidak langsung dia melamar, kan? Andai dia tidak sakit, pasti aku tidak akan berpikir lagi. Aku akan langsung menerima lamarannya dengan hati senang gembira.
"Apa kamu bersedia? Apa perlu kita menikah sekarang juga?"
"Ya udah, kamu terima aja lamaran dia," kata ayahku mendukung keputusan mas Rey.
"Tapi Pak, Bu..."
"Heh, Lena, ayolah terima aja. Sekarang juga kalian menikah. Nggak masalah. Nggak perlu lah ada acara resepsi atau apalah itu. Yang penting sah, duit keluar."
"Emang Mas Rey mau nikah sama gue? Gue ini cumu lulusan SD, cewek nggak bener. Lebih baik pikir-pikir dulu, Mas. Kerjanya copet. Luntang-lantung di jalanan, kadang ngamen sama anak jalanan. Nggak malu apa?" Aku mengeluarkan semua kekuranganku dari awal sampai akhir. Berharap dia mau membatalkam rencananya. Bukannya aku tidak mau, tapi aku kasihan pada Mas Rey, aku bukan wanita yang baik untuknya. Kamu berbeda kedudukan.
"Nggak pa-pa, saya nggak mandang kedudukan. Yang saya lihat hanya ketulusan. Asal nantinya kamu patuh sama saya. Cukup jadi istri yang patuh, itu udah cukup."
"Harus matuhin apa aja?"
"Rahasia. Kalau nanti kamu sampai melanggarnya, kamu nggak akan dapat harta sepersenpun. Bagaimana?"
"Udah, terima, Lena!"
Aku bimbang. Aku takut mas Rey memintaku untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Aku takut dia hanya ingin memanfaatkan aku yang begonya kelewat batas ini.
"Lena!"
Bentakan ayah membuat lamunanku buyar. Aku mengerjap-ngerjapkan mata.
"Kamu tenang aja, saya nggak bakal minta yang aneh-aneh."
Perlahan, kepalaku mengangguk. Ya sudah, aku setuju saja. Lagi pula, orang tuaku pasti akan terus mendesakku untuk menerima lamarannya.
Akhirnya mimpiku untuk merasakan jadi orang kaya sebentar lagi terwujud.
Semoga apa yang dikatakan mas Rey benar. Kalau aku tidak akan sedih ketika dia meninggal nanti. Aku kan hanya ingin uangnya? Harusnya aku senang.
✂✂✂
KAMU SEDANG MEMBACA
360 Hari √
Cerita Pendek#S H O R T S T O R Y Ini kisah 360 hariku bersamanya. Copyright© November 2018, JaisiQ
