Salat Tahajud

7.4K 991 19
                                        

Gara-gara telat cuci darah, kondisi mas Rey kritis. Aku tidak bisa mendonorkan ginjalku, karena aku sedang mengandung, kondisi fisik dan mentalku sedang tidak baik, dokter melarang keras aku untuk memberikan ginjal ini pada mas Rey.

Ini membuatku menyesal beribu-ribu kali menyesal.

Selain karena itu, operasi juga malah akan mempercepat kematian mas Rey, lantaran kondisinya yang drop, dia juga tidak bisa melaksanakan operasi

Kondisinya benar-benar membuatku tak sanggup melihatnya.

Kenapa tidak dari dulu saja kudonorkan ginjalku ini?

Kenapa aku malah menunda-nundanya?

Ya Allah, aku harus bagaimana? Pikiranku buntu. Hatiku berkecamuk. Jiwaku porak-poranda.

Aku merindukan suamiku.

Aku ingin dia di sisiku.

Untuk pertama kalinya aku melaksanakan salat di sepertiga malam tanpa mas Rey. Kata mas Rey, kalau kita melakukan salat malam, maka kita bebas meminta apa pun, karena Allah akan senantiasa mengabulkan rintihan doa hamba-Nya.

Kalau aku tidak tahu tentang mujarabnya sebuah doa, sudah dipastikan aku akan memilih mati bunuh diri daripada harus kehilangan dia yang dicintai. Aku tak akan sanggup menghadapi semuanya sendirian.

Perihal agama, aku sudah banyak belajar dari mas Rey. Setiap hari dia memberiku satu ayat, hadis, dan pedoman lain. Seolah sedang memberi pesan, seolah dia akan benar-benar pergi meninggalkan aku.

Kuhamparkan sajadah dengan keadaan mata yang sudah bengkak.

Allah selalu bersamamu. Nggak perlu takut. Dia yang akan bantu kamu. Dia yang akan selalu melindungi kamu. Jangan pernah merasa sendiri.

Kata-kata itulah yang sering
mas Rey bisikkan di telingaku.

Beruntungnya aku, pernah mengungkapkan isi hatiku padanya. Dia pun ternyata mencintaiku, bahkan lebih dulu.

Dia mengatakan padaku, perlu keberanian kuat untuk menjadikanku seorang istri. Sebab tanggung jawabnya sangat besar. Apalagi aku adalah wanita tomboy yang nakal.

Tapi entah mengapa hatinya mantap untuk menikahiku. Karena dia yakin, aku orang yang baik. Tidak sulit baginya untuk membimbingku.

Dia benar.

Aku pun turut bersyukur, menjadikannya seorang suami.

Detik ini aku datang padamu ya Rabb, dengan setumpuk dosa, doa, dan harapan. Semoga Kau berkenan mengabulkan doa hamba-Mu yang hina ini.

Kudaratkan kening ini di atas sajadah.

Ya Allah ya Tuhanku, tolong selamatkanlah suamiku. Berilah dia kesembuhan. Hamba tidak sanggup lagi melihat dia menderita. Angkatlah penyakitnya, aku mohon padamu ya Allah. Aku rela jika Kau ingin membagikan rasa sakit suamiku padaku. Hamba rela. Hamba tidak ingin melihat dia kesakitan sementara di sini Hamba sehat.

Izinkan hamba untuk hidup lebih lama bersamanya.

Izinkan hamba menjadi istri yang baik untuknya.

Mengucap salam ke kanan dan ke kiri, aku menangkup wajahku dengan derai air mata tak tertahankan.

Nyawa suamiku sedang ada di ujung maut.

Masihkan harapan itu ada?

Bolehkah aku berharap walaupun hanya satu persen?

Masihkah keajaiban itu ada?

Bahuku berjengit, isakku bertambah sendu. Tangisku mulai menimbulkan suara. Aku menangis di keheningan malam yang gelap gulita. Mukenaku basah oleh cucuran air mata.

Seorang suster menghampiriku, kuusap air mata yang membasahi wajah. Perasaanku tidak enak.

"Mbak yang sabar, Mbak."

"Iya, ada apa, Mbak?"

"Maaf harus memberitahu kabar ini, suami Mbak telah berpulang."

Berpulang?

Berpulang apa maksudnya?

Benarkah?

Aku harus menegarkan diri.

Kata 'berpulang' itu bagai belati yang menusuk-nusuk.

Mas Rey sudah meninggalkanku dan calon anaknya?

Innalillahi...

Aku memasang wajah datar tak berekspresi.

Sayapku lepas sebelah, badanku terombang-ambing di langit yang tengah bergoncang hebat oleh takdir yang mahakejam.

Seperti ada batu yang berjatuhan di atas perbukitan, menghantam dadaku bertalu-talu. Aku hanya bisa diam. Air mataku merembes turun.

Ya Allah, ternyata doaku disimpan untuk bekalku di akhirat nanti.

Kupaksakan diriku untuk bersujud. Jika memang ini nyata, kuucupkan alhamdulillah dengan himpunan rasa ikhlas, bukan karena aku akan segera mendapatkan harta suamiku, tapi aku senang, dia sudah tidak kesakitan lagi.

Penyakitnya sudah terangkat.

Bebannya terlepas.

Aku ikhlas ya Allah jika memang ini yang terbaik untuk mas Rey. Aku tidak boleh egois.

Biarkan rasa sakit itu berpindah padaku yang ditinggalkan olehnya.

Tak akan lagi aku melihat dia kesakitan gara-gara memaksakan diri untuk tidak melakukan cuci darah.

Aku tahu bagaimana lelahnya harus melakukan rutinitas itu selama tiga tahun berturut-turut.

Ada saatnya dia ingin mengakhiri penderitaannya.

Tak akan kulihat dia yang kadang memasang wajah pasrah.

Ya Allah, biarkan dia tenang di sisi-Mu.

Berikan dia istana paling megah.

Hadiahkan dia surga paling nyaman, sebagai buah dari kesabaran dalam menahan kesakitan di dunia.

Biarkan suamiku menikmati tidur panjangnya.

Aku berjanji, tidak akan menikah lagi, Mas, tunggu aku di Surga-Nya.

✂✂✂

Perintah Allah turun ke langit di waktu tinggal sepertiga yang akhir di waktu malam, lalu berseru, adakah orang-orang yang memohon (berdoa) pasti akan Kukabulkan. Adakah orang yang meminta, pasti akan Kuberikan, dan adakah yang mengharap ampunan, paati akan Kuampuni baginya sampai tiba waktu Subuh.
(Al-Hadis)

360 Hari √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang