Menutup Aurat

7.2K 1K 37
                                        

Sudah dua bulan sejak hari pernikahan kami yang mendadak itu. Awalnya aku merasa kaku, apalagi ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah mas Rey. Aku mirip gadis kampung yang baru masuk ke istana. Celangak-celinguk melihat desain interior yang membuatku terpukau dengan bibir terbuka. Aku seolah tidak pantas tinggal di rumah mewah ini. Duniaku bukan di sini, duniaku di jalanan. Tapi kan aku sudah jadi istrinya? Jadi boleh kan aku yang kampungan ini masuk istana pangeran?

Saat itu aku bertanya padanya.

"Beneran, Mas? Nggak perlu dilepas?" Yang dilepas maksudku adalah sandal. Aku tak enak jika harus menginjakkan sandal kotorku ini di lantai yang mahabersih. Nanti yang ada, aku malah membuat lantai rumah mas Rey kotor. Baru datang sudah jadi perusak saja.

Dia menggeleng. "Pakai aja. Nanti ada yang nyapu sama ngepel."

"Siapa? Aku, ya? Ya udah lepas aja. Males kalau nanti nyapu. Aku nggak sanggup kalau harus ngepel dengan rumah seluas ini. Bisa patah tulang-tulangku." Aku hendak melepas sandalku. Tapi dengan cepat dia menahanku, memegang tanganku. "Nggak usah."

Sekarang dia berani memegang tanganku. Aku sedikit kaku.

"Ada pembantu, kok," katanya melanjutkan.

"Oooh."

Aku tiba-tiba jadi gugup.

Sesuai perjanjian, aku harus mau mematuhi semua perintahnya. Kalau aku melanggarnya, maka aku tidak akan mendapatkan apa yang aku mau. Aku sudah bersiap, jika sewaktu-waktu mas Rey menyuruhku untuk membersihkan toilet yang baunya minta ampun. Aku juga sudah bersiap, jika sewaktu-waktu mas Rey menyuruhku masak ala restoran bintang lima dengan durasi waktu lima menit. Pokoknya semuanya harus serbacepat. Kalau tidak, dia akan ngamuk.

Ya Allah, aku pikir dia akan menyuruhku ini-itu. Aku pikir dia akan memperlakukan aku layaknya pembantu. Aku pikir dia akan menyuruhku yang aneh-aneh. Aku pikir dia akan memperlakukan aku seperti bos yang sering memberi titah pada bawahan dengan nada bentakan yang mampu membuat hati sakit. Karena bentakan itu mirip penghinaan yang sungguh demi apa pun menjatuhkan harga diri.

Tapi sungguh di luar dugaan.

Dia hanya memintaku untuk patuh pada Tuhanku.

Ya, dia ingin aku patuh pada semua perintah-Nya.

Dia mengajari aku cara menutup aurat yang benar.

Entah perasaanku yang mudah lemah atau apa, yang jelas itu membuatku terharu. Baru kali ini aku dibimbing dengan sedemikian sabar dan penuh kasih sayang. Orang tuaku saja tidak pernah peduli. Tapi ini? Lelaki yang baru aku kenal saja sudah mau berbaik hati mengajari apa pun yang tidak aku ketahui.

Lihatlah sekarang, aku sudah berjilbab. Aku memperhatikan pantulan diriku di depan cermin dengan hati teduh.

Mas Rey hanya menyuruhku untuk memakai gamis dan kerudung panjang ketika pergi keluar. Dia melarang keras aku untuk berpakaian seperti dulu.

"Saya nggak mau ada yang lihat aurat kamu, cukup saya yang lihat. Orang lain jangan."

Dia memberitahuku, perempuan yang menyerupai lelaki itu haram hukumnya. Aku pernah sekolah, ya, aku mengerti haram itu apa. Sesuatu yang tak Allah sukai, sesuatu yang membuat Allah murka ketika hamba-Nya melakukan itu.

"Kamu lihat surat ini." Saat itu kami sedang mengaji bersama. Aku memakai mukena, sedangkan dia memakai sarung dan kopiah. Ternyata aku baru tahu keseharian dia di rumah setelah kami menikah. Kalau di luar tampak gagah mengenakan kemeja, tapi kalau di rumah, dia berpakaian sederhana. Aku bahkan kaget, lelaki yang aku nikahi ternyata taat agama.

Jujur aku belum bisa membaca Alquran dengan benar, apalagi masalah tajwidnya. Aku juga belum pernah khatam Alquran. Jadi dia hanya memperlihatkan artinya untuk menjelaskan sesuatu yang penting padaku.

Dia membacakan surat Al-Imran ayat 36, lalu kemudian membaca artinya dengan lugas. "Lelaki itu tidak seperti wanita."

"Emang nggak kayak cewek kan, Mas? Wajahnya juga jelas beda. Contohnya kayak aku sama Mas Rey, beda banget," kataku berseloroh. Untungnya dia tersenyum, jadi aku tidak malu. Beda dengan dulu, dia sangat dingin. Dia mulai bersahabat denganku. Bukan baru-baru ini, tapi semenjak dia mengucapkan qobul di depan wali.

"Maksudnya itu begini. Kamu kan selama ini suka berpakaian seperti lelaki. Misalnya nggak pakek kerudung, celana pendek, sama baju yang bener-bener mirip cowok. Dosanya besar."

"Nggak boleh ya, Mas?"

Ternyata para bencong yang gemar berjoged ria sambil bernyanyi itu dosanya sangat besar. Begitu pula dengan aku yang berpakaian tomboy.

"Nggak boleh. Rasulullah juga melaknat laki-laki yang berpakaian wanita dan wanita yang berpakaian lelaki." [1]

Aku yang miskin ilmu baik dunia atau akhirat, merasa malu. Ternyata banyak sekali tindakanku yang melenceng dari agama. Aku tahu apa yang aku lakukan itu salah, tapi karena aku terlalu cuek, aku tetap melakukannya, demi kelangsungan hidupku. Apalagi masalah mencopet itu. Di awal pernikahan mas Rey menyuruhku untuk lekas bertaubat dan memohon ampun pada Allah.

Katanya, walaupun aku sudah banyak melakukan dosa, Allah akan tetap mengampuniku. Asal aku bersungguh-sungguh untuk tidak melakukannya lagi. Allah itu Maha Pengampun.

Dia juga mengajarkan aku bahwa aurat wanita itu ada pada ujung kepala sampai ujung kaki kecuali wajah dan telapak tangan.

Selama menikah, Mas Rey banyak mengajarkan aku tentang agama. Ternyata dia baik dan salih.

Apa yang selalu mas Rey perintahkan, bukan perintah yang sulit, aku langsung bisa memenuhi semua permintaannya. Aku sudah berjanji. Sudah kewajibanku untuk menepatinya.

Selain diajari menutup aurat, aku diajari salat yang benar. Aku mirip anak TK yang sedang dibimbing salat oleh gurunya. Apalah aku, yang hanya belajar salat saat mengenakan seragam putih-merah. Semua biaya aku tanggung sendiri. Saat SD aku berjualan, jadi uangnya ditabung untuk membeli keperluan lain.

Rasanya nyaman, bisa dibimbing pada kebaikan oleh suami sendiri. Aku merasa disayangi.

Dia memelukku dari belakang, kami bisa melihat pantulan diri kami di cermin.

"Kenapa Mas ngelakuin ini? Kenapa kita nggak pacaran aja, jadi nggak usah menikah. Aku bakal rawat mas Rey kalau memang mas Rey mau. Mas Rey tinggal gaji aku sebagai imbalan." Pertanyaan yang aku lontarkan adalah pertanyaan yang selama ini aku tahan untuk tidak dikemukakan. Sekarang aku baru berani mengungkapkannya.

"Pacaran dilarang agama. Saya lagi sekarat, saya nggak mau berbuat dosa lebih banyak. Saya nggak mau dilayanin sama seseorang yang masih haram. Jadi menikah adalah jalan satu-satunya. Agar semua yang dikerjakan bernilai ibadah dan pahala."

"Tapi kenapa harus aku? Aku kan bukan perempuan baik. Aku malah nyusahin Mas."

"Yang penting perlahan kamu sudah menjadi baik."

Aku tersenyum. Iya juga, aku merasa jauh lebih baik dari aku yang dulu.

"Saya nggak tahu kapan Tuhan akan ambil nyawa saya. Tapi yang jelas, saya ingin menuntun istri saya ke jalan yang benar. Saya ingin menyenangi istri, karena dengan menyenangi istri, saya bisa mendapatkan pahala berlimpah. Jadi saya bisa punya bekal saat menghadap Allah nanti. Kamu harus bisa patuh, supaya nanti saya bisa bertanggung-jawab, saya bisa berkata pada Allah, bahwa saya sudah membuat istri saya berubah dan patuh pada perintah suaminya. Kita harus saling membantu dan bergotong-royong menuju surganya Allah."

Menghadap Allah?

Apa katanya?

Menghadap Allah?

Apa nanti aku sanggup kehilangan Mas Rey?

Ya, aku pasti sanggup. Yang aku butuhkan kan hanya hartanya.

Tapi, entah mengapa, ada sesuatu yang mengganjal. Aku mulai ikhlas, jika pada akhirnya aku tidak mendapat uang walau hanya lima ratus perak.

Dengan mas Rey membuatku menjadi wanita lebih baik pun sudah syukur alhamdulillah. Sebab aku merasa nyaman dengan hidupku yang sekarang. Aku seperti mendapatkan hidayah.

Ada apa dengan aku?

✂✂✂

Ket.

[1] HR.Ahmad 8309 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth

360 Hari √Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang