8

10 2 0
                                    

Jaehyun membuka pintu terbuka dengan kasar, keras dan mengejutkan saat ia memanggil Taeyong dalam kegembiraan, tidak tahu bahwa Taeyong saat ini dalam keadaan rentan —setengah telanjang dan terbuka.

"Taeyong, kemarilah! Kami sedang merayakan—"

"Tunggu, apa-apaan!"

Mengamati eksposur kulit yang cerah di depannya, Jaehyun tanpa malu menatap Taeyong dengan mata memandangi setiap inci kecantikan yang tidak tertutup sehelai benang sedikitpun. Tatapannya berhenti di bagian intim Taeyong, dan dia mengernyitkan dahi pada potongan kain yang menghalangi dia untuk melihat lebih banyak lagi.

"Apakah kau sudah selesai melecehkanku, Jaehyun? Aku sedang berganti baju!"

Jaehyun dengan canggung membersihkan tenggorokannya dan melirik ke luar, sebelum menutup pintu di belakangnya. Taeyong menggigit bibirnya ketika dia menyadari bahwa lelaki itu merona, mungkin karena malu. Dia tidak tahu mengapa Jaehyun merasa malu ketika seharusnya dia yang harusnya merasa seperti itu.

Dia memakai celana yang dipinjamkan Jaehyun dan baju yang dia curi dari tas Jisung.

"Hari ini adalah hari ulang tahun Mimi. Kau tahu, gadis kecil yang ceroboh itu. Kami ingin merayakannya. Kau harus bergabung dengan kami."

"Kalian benar-benar punya waktu untuk merayakan ulang tahun. Tidak lama lagi, tidak ada yang akan hidup untuk mengingat hari peringatan kematian kita."

"Taeyong."

Atmosfer menebal dengan rasa bersalah dan penyesalan. Taeyong duduk di tempat tidur selagi Jaehyun tetap tak bergerak di tempatnya meskipun matanya tertuju pada Taeyong, lelah dan tidak percaya.

"Aku tidak bisa menemukan alasan untuk bahagia, Jaehyun. Aku tidak mengerti mengapa kalian semua melakukan ini—"

"Apa yang kami lakukan?"

"Hal-hal ini!" Taeyong menggertak, kesal karena Jaehyun tampaknya tidak mengerti situasinya. "Kehidupan normal sehari-hari ini! Kau keluar dan bicara dengan semua orang seolah-olah tidak ada hal lain —tidak ada apa pun di luar sana yang bisa membunuhmu dalam sekejap mata. Apakah kau tidak takut? Aku tidak mengerti. Kenapa kalian memaksa diri kalian untuk bahagia? Aku hampir merasa kasihan melihatnya."

"Kami tidak sepertimu, Taeyong. Kami tahu hari kami hidup tinggal hitungan jari. Apa bagusnya jika kita akan menjalani hari-hari yang tersisa dalam kesengsaraan, seperti yang kau lakukan? Mimi masih bernafas di usia 7 tahun, bukankah itu sesuatu yang membahagiakan? Atau apakah kau lebih suka melihat kami berduka? Kebahagiaan sederhana tidak menyedihkan, Taeyong. Itu satu-satunya hal yang mereka pegang. Bersyukurlah orang tua Mimi tidak ada di sini untuk mendengarmu."

Dia tidak melihat Jaehyun bahkan ketika lelaki itu duduk di sampingnya. Taeyong merasakan kehangatan menghantam kulitnya dan dia memperhatikan seberapa dekat Jaehyun dengannya tetapi dia tidak bergerak bahkan ketika tangannya dipegang dengan lembut.

"Kau memiliki masa kecil yang sulit, tetapi itu tidak berarti bahwa anak-anak lain tidak boleh bahagia karena kau tidak pernah diberi kesempatan untuk bahagia. Biarkan mereka memiliki kebahagiaan yang tidak pernah kau miliki, Taeyong. Biarkan mereka bahagia untukmu, oke? Mereka tidak bersalah."

Tangan Jaehyun terasa lembut, seperti bantal yang dia gunakan untuk dipeluk yang dulu ada di rumahnya. Taeyong tidak ingin mengakuinya tapi dia tahu bahwa jika dia diberi kesempatan, dia akan kembali ke kota dan membangun kembali semuanya seperti sedia kala. Tetapi dia tidak ingin menjalani kembali kehidupan lamanya. Dia akan membawa semua orang ke mansion. Jaehyun mengingatkannya pada kelembutan, sesuatu yang hanya dia rasakan ketika dahulu Ten tidur di sampingnya. Ten terbuat dari baja, tetapi dia lembut seperti yang pernah ada, dalam arti harfiah dan figuratifnya.

(zero) beats per minuteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang