(Alarm Berdering)
Mansyur mematikannya dengan menggeser layar gadgetnya lalu tidur kembali akibat rasa kantuk yang sangat menyerangnya. Mansyur dibangunkan oleh bapak nya untuk segera melaksanakan sholat shubuh, Mansyur pun melakukannya.
Mansyur terkaget-kaget karena jam dinding telah menunjukkan pukul 05:30. Karena jarak dari rumah ke sekolah nya lumayan terbilang jauh. Mansyur terburu-buru melakukan semuanya. Mansyur panik dan segera menyiapkan apa yang mesti disiapkan dan di bawa. Mansyur mengecek kembali apakah ada yang tertinggal atau tidak. Mansyur memanaskan mesin motor nya, memakai sepatu dan bergegas berangkat untuk ke sekolah nya karena waktu telah menunjukkan pukul 06:10. Mansyur merapihkan pola rambut yang disisirnya ke hadapan kaca, lalu menghampiri bapak dan ibu nya dan mengatakan
“aku berangkat ya ma, pa. Aku udah telat, takut macet di jalan”, sambil menyalami kedua tangan orang tuanya.
“lah ini sarapan nya ga di makan? Nanti kamu laper loh?”, berkata Bu Utijah. –‘mus’—adalah panggilan akrabnya dari orang tua ke Mansyur Mustafa.
“tidak usah ma, Mansyur nanti telat”
“Yasudah mus. Semangat sekolah nya ya hati-hati kamu di jalan, jangan ngebut-ngebut yaa”, himbau Ibu Utijah kepada anak nya.
“iya siap laksanakan kapten”, Mansyur berkata dengan gerakan hormat.
“Assalamu’alaikum”, pamit Mansyur.
“Wa’alaikumussalam”
“dasar anak muda apa-apa kok mau nya buru-buru”, gumam Bapak Sardono.
Di jalan banyak sekali hambatannya, dari yang lampu merah, macet, dan ban motor nya ikut bocor. Mansyur kesal, tapi tetap istighfar. Mungkin ini ujian dari Allah dan ini sudah takdir yang mesti dijalani nya. Setelah melalui semua hambatan itu dan sampai di sekolah, ternyata dia telat tidak sendirian, ada Bramantyo Ali Eko yang secara tidak sengaja ikut telat juga ketika berangkat ke sekolah.
Melihat Bram sedang diadili oleh guru BK, Mansyur berdiri di belakang Bram untuk siap diadili juga.
“kamu ini Bram telaaaat mulu masuk sekolahnya, ibu samp....”, ucap Ibu Aulia selaku guru BK di sekolah. Belum selesai berbicara, pembicaraan Bu Aulia di potong oleh Mansyur.
“iya bu maaf bu macet dijalan”, potong Bram.
“kamu ini Ibu belum selesai ngomong malah main potong-potong aja”, tegas lagi Bu Aulia.
“kamu juga Mansyur habis dari mana? Jangan ngumpet kamu”, Bu Aulia bertanya ke Mansyur.
“iya-iya bu maaf ada kendala tadi pas saya berangkat ke sekolah”
“kamu ini berdua sama aja ya sama-sama cari alesan kalian berdua. Yaudah sini ikut ke ruangan ibu”, ucap Bu Aulia.
“iya Bu”, keduanya kompak menjawab.
Mansyur dan Bram secara otomatis mengikuti Ibu Aulia ke ruangan nya. Di sela perjalanan Mansyur dan Bram malah berbincang saling menyalahi.
“lu ngapain sih ribet ngikutin gua aja, gua telat lu juga telat”, bisik-bisik Mansyur kepada Bram di belakang Bu Aulia.
“lu gila ya jelas-jelas gua sampe ke sekolah duluan, malah bilang ngikutin elu ogah bener gua”
“udah kalian diem panas kuping ibu denger ocehan kalian berdua”, ucap Bu Aulia ke mereka berdua tanpa melihat mereka.
Sampai di ruangan, Bu Aulia mengeluarka buku catatan point pelanggaran siswa. Bram dan Mansyur menuliskan nama dan jumlah poin yang di langgar. Namun ada pelangaran tambahan hari ini karena mereka berdua sudah sering terlambat ke sekolah dengan berbagai alasan.
“Ibu mau kasih hukuman hari ke kalian ya, hukumannya yaitu me.....”
“Bu cape bu kalo harus bersihin kamar mandi, push up, scout jump, saya bosen”, potong si Mansyur.
“iya bu saya juga”, sambung Bram.
“eleh eleh kalian ini Ibu ini belum selesai ngomong malah dipotong, berani kalian ya”
“tau lu mus jangan dipotong-potong”, sambung Bram. –‘mus’ juga panggilan akrab Masnyur di sekolah.
“lu juga kan ikut motong, dasar dodol garut”, tukas Mansyur kepada Bram.
“udah udah kalian Ibu bawa kesini bukan untuk ribut tapi untuk ini.”, papar Bu Aulia sambil membawa beberapa data poin pelanggaran dan poin prestasi siswa-siswi di sekolah SMA 219 Jakarta serta memberikan laptop.
“ini apa bu? Buat apa?”, tanya Mansyur.
“ini dat a beberapa poin pelanggaran siswa-siswi, kalian berdua kerjain jangan kabur kemana-mana”, papar Bu Aulia.
“ini Mansyur kamu kan bisa mengoperasikan laptop dengan baik, jadi kamu yang ketik nama-nama siswa maupun siswi yang mendapatkan poin pelanggaran/prestasi di laptop ibu dan si Bram yang bacain poin-poinnya.”, sambung Bu Aulia.
“ohiya, sama poin kalian berdua ya tuh catat dan ketik sekalian. Jangan curang ya kalian ibu hafalin kok poin kalian berdua. Poin kalian berdua yang pelanggaran sama-sama 15 ya, dan poin prestasi kalian 65.”, sambung lagi Bu Aulia.
“kok Ibu hafal?”, tanya Bramantyo ke Bu Aulia.
“iyalah emang ibu udah pikun apa, masa ngafalin poin kalian berdua aja lupa”
“canggih juga ya Bu Aulia ya”, bisik Bram kepada Mansyur.
“canggih si canggih Bram, tapi lu lihat noh data-data banyak banget keriting tangan gue nih ngetik. Lu sih nyusahin gabisa operasikan laptop. Katrok dasar.”, caci Mansyur kepada Bram.
Ibu Aulia izin keluar ruangan untuk sarapan pagi. Karena tidak ada habisnya megurusi mereka berdua, masalah datang terus tidak ada kapok nya. Itu tidak membuat mereka jera.
Tak lama setelah selesai melakukan aktivitas di sekolah Bu Aulia masuk kembali ke dalam ruangan nya dan menyakan hukuman yang di berikan kepada Mansyur dan Bram.
“gimana sudah selesai belum?”, Bu Aulia datang dan menanyakan Bram dan Mansyur.
“Alhamdulillah Bu tinggal 5 data anak lagi yang kami rekap yang lainnya beres.”, jawab Bram.
“yaudah nanti kalo udah selesai kasih ibu data-datanya sama laptopnya ya Mansyur”
“kok Mansyur doang bu yang dipanggil? Saya engga?”, tanya Bram.
“kan Mansyur doang yang ngetik”, jawab Bu Aulia.
“kalo gaada saya juga gaada yang bacain kali bu”, Bram ngambek.
“yaudah Bram jangan ngambek yaelah baperan lu lah”, Mansyur ikut nimbrung.
“ohiya itu poin pelanggaran kalian berdua kurangin jadi 10 ya karena udah bantuin ibu tadi merekapitulasi data-data siswa-siwi ya”, lanjut Bu Aulia.
“iya bu makasih ya bu. Oiya ini bu Alhamdulillah udah selesai semua data-datanya kami rekap”, ucap Mansyur kepada Bu Aulia.
“ohyaudah makasi ya Mansyur dan Bramantyo yang ganteng-ganteng”, jawab Bu Aulia kepada mereka berdua.
Mereka berdua pun pergi dan pamit untuk meninggalkan ruangan BK, lalu segera berjalan menuju ke kelas mereka mengikuti pelajaran.
Pelajaran pertama yang seharusnya di ikuti oleh Mansyur dan Bram ketika di hukum tadi adalah pelajaran Bapak Dzulqarnain. Guru yang memang ditakuti oleh beberapa murid karena sifat garang nya jika ada seseorang yang tidak disiplin dan tidak bisa mengikuti aturan nya.
Hari ini pa Dzulqarnain datang tepat waktu ke dalam kelas, telah mengabsen anak kelas XI IPS B. Hanya Mansyur dan Bram yang belum hadir namun tanpa keterangan. Mansyur dan Bram baru memasuki kelas setelah pelajaran berjalan 20 menit, karena harus melaksanakan hukuman yang di dapat mereka dari Bu Aulia.
Mansyur mengetuk pintu kelas diikuti Bram di belakang nya lalu mengucapkan salam. Secara otomatis pula, pandangan seisi kelas tertuju kepada Mansyur dan Bram, termasuk Pa Dzulqarnain. Mansyur menyalimi pa Dzulqarnain, disusul Bram. Pa Dzulqarnain berdiri, seperti ingin menginterogasi dan bertolak pinggang. Dan benar saja ternyata mereka di interogasi.
“darimana kalian berdua? Bagus sekali ya baru masuk kelas”, tanya Pa Dzulqarnain dengan garang.
Mansyur dan Bram terdiam merunduk tak berani menatap guru nya yang seperti nya marah.
“pertama kamu dulu Mansyur, kamu darimana jam segini baru masuk?”
“saya dari ruangan BK pak, saya dapat hukuman dari bu BK suruh merekap data-data siswa yang selama bulan ini mendapatkan poin pelanggaran”
“bagus kamu ya, suruh siapa telat? Emang ini sekolah punya nenek moyang kamu apa? Kamu gamau pinter? Bapak sih bebas”
Mansyur terdiam merunduk, tak sadar keringat dingin keluar dari wajah nya karena tekanan dari Pa Dzulqarnain dan penglihatan teman-teman nya seisi ruang kelas.
“kenapa kamu telat datang ke sekolah? Kamu gapunya alarm di rumah? Nih bapak kasih nanti kalo gaada”
“saya telat karena macet dan ban motor saya bocor pak, maafkan saya pak”
Mansyur berusaha berjalan ke arah tempat duduk nya. Mansyur mengira akan berakhir interogasi nya tersebut. Namun ketika melangkah, gerakan nya di tahan dengan ucapan Pa Dzulqarnaen.
“mau kemana kamu? Diam dulu di situ, bapak belum selesai”, tutur Pa Dzulqarnain sambil berjalan ke arah Bram.
“iya pak, maaf”, Mansyur berkata.
“ini kamu dari mana? Kamu gamau pinter? Apa udah pinter?”, Pa Dzulqarnain berkata kepada Bram dengan nada garang.
“saya habis dari ruang BK juga pak, bantu Mansyur rekap data siswa-siswi yang dapat poin pelanggaran”, jawab Bram
“kok sama? Kalian udah janjian telat ya? Ya kan?”
“engga pak, kebetulan kami telat secara bersamaan. Kita tidak janjian”
“kenapa kamu telat?” alarm kamu ga berfungsi? Nanti bapak beliin”
“saya telat karena angkutan umum yang saya tumpangi terkena macet dan mengisi bahan bakar terlebih dahulu pak, lalu SPBU di sana ramai jadi saya lama sampai ke sekolah nya”
“yaudah kalian letakkan tas kalian, lalu ke depan kelas lagi sambil pegangi telinga kalian secara silang dan berdiri dengan satu kaki”
“iya pak, kami minta maaf pak udah telat”
Pa Dzulqarnain meminta mereka untuk menghukum diri mereka sendiri dengan gerakan yang sudah di tentukan setelah mereka meletakkan tas nya di meja masing-masing.
Setelah meletakkan tas nya di meja, Mansyur dan Bram berjalan ke depan kelas melakukan gerakan yang di minta dan berdiri di depan kelas mereka selama perjalanan Sastra Indonesia selesai.
Bel pergantian pelajaran berbunyi, itu menandakan pelajaran Sastra Indonesia telah usai. Sebelum pergi meninggalkan kelas, Pa Dzulqarnain berbicara kepada Mansyur dan Bram untuk tidak mengulangi hal tersebut.
Mansyur dan Bram melepas gerakan hukuman nya setelah Pa Dzulqarnain meninggalkan kelas. Mansyur dan Bram seperti merdeka setelah melepaskan gerakan nya yang ditandai dengan hembusan nafas dari kedua nya, lalu mereka berdua saling menyalahkan.
“makanya dateng lebih awal kalo bisa mah, BK nya sekarang ketat mus”, Yoga menasihati selaku ketua kelas.
“jangan baper kalo di hukum sama guru, itu pelajaran buat lu mus. Guru pasti akan melakukan yang terbaik kepada kita jika kita menaati aturan nya. Guru juga sayang sama kita, bukankah guru mau kita semua jadi anak pintar? Ya kan?. Inget ya mus jangan baper, marah apalagi dendam sama guru kalo habis di kasih hukuman”, papar Yoga dengan nada menasihati.
“iya yog siap, memang ada kendala aja tadi”, tutur Mansyur merasa bersalah.
Sekarang giliran Bram yang dinasihati oleh Yoga selaku ketua kelas. Sebagai ketua kelas memang besar tanggung jawab, namun tidak bagi Yoga justru itu yang mebuat nya tertarik menjadi ketua kelas, banyak tantangan nya. Yoga anak yang suka tantangan. Sebagai ketua kelas juga, ia wajib melindungi teman-teman nya yang sedang terhipit masalah ataupun kesuahan, ia wajib mendorong faktor psikologis teman-teman nya agar tetap semangat bersekolah.
Bram dinasihati dengan lembut oleh Yoga. Bram tahu ia salah dan kapan mesti memperbaiki, ia patut bersyukur mempunyai ketua kelas seperti Yoga. Bahkan tak hanya Mansyur dan Bram yang harus bersyukur, tapi semua teman-teman kelas nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You
Historical FictionPertemuan dengan seorang perempuan memang membuatnya trauma, di satu sisi ia ingin menatap masa depan yang lebih tertata, terencana, sukses, dan tentunya bahagia. Sampai saat datanglah seorang wanita bernama Sina Zubaidah yang membuatnya jatuh hati...
