Ibu Utijah membuka gordyn kamar Mansyur. Mansyur membuka mata namun menyipitkannya akibat adanya sinar matahari yang masuk langsung ke kamar nya. Mansyur meregangkan tubuhnya dengan leluasa.
“bangun kamu udah siang, itu sudah mama siapkan susu di depan ya, tinggal minum aja”, ucap Ibu Utijah.
“iya ma”, balas Mansyur dengan muka setengah melemas dan mata yang hanya beberapa watt saja.
Ibu Utijah meninggalkan kamar Mansyur. Mansyur mencari ponselnya, melihat-lihat berbagai pesan WhatsApp yang masuk semalaman, termasuk beberapa pesan dari teman-temannya.
Mansyur ke depan kamarnya untuk mengambil susu yang telah disiapkan ibu nya. Mansyur kembali menuju kamarnya setelah meminum susu untuk mengecek ponselnya, apakah ada pesan dari Ardi karena sebelumnya Mansyur telah membuat janji dengan Ardi bahwa hari ini mereka berdua akan pergi toko sepatu untuk membelinya. Ardi yang meminta untuk diantarkan membeli sepatu di tempat yang telah di referensikan oleh Mansyur.
Mansyur menelfon Ardi tidak ada jawaban, hanya yang tertera di WhatsApp Mansyur hanyalah ‘berdering’. Mansyur memejamkan matanya ingin tidur kembali tetapi terbangunkan kembali oleh suara nada dering ponselnya yang berbunyi, ternyata itu dari Ardi.
“lu dimana?”, tanya Ardi tanpa basa-basi.
“di rumah. Masih tiduran”, jawab Mansyur.
“jam sembilan berangkat ya, lu siap-siap nanti gua samper”
“iya”. Mansyur menjawab sambil melihat jam dinding di kamarnya. Ternyata masih pukul delapan lewat sepuluh menit.
“yaudah ntar gue ke rumah lu, gua pengen siap-siap”, ucap Ardi.
“yaudah”, jawab Mansyur.
Ardi mempersiapkan segala untuk segera berangkat menuju rumah Mansyur lalu pergi ke toko.
Mansyur tidak terlalu memikirkan apakah ia harus bersiap-siap atau tidak, ia hanya mengirim pesan teks WhatsApp ke Ardi “nanti lu masuk aja ke rumah gue, gue di dalem”. Dibalas oleh Ardi “oke”.
Ardi telah sampai di rumah Mansyur dengan pakaian seformal mungkin.
“we sialan lu belum ngapa-ngapain, gua mah buru-buru ini”, ucap Ardi setelah memasuki kamar Mansyur.
“yaudah gue mandi dulu, tungguin aja”, tutur Mansyur.
“yaudah sono buruan”
Mansyur selesai mandi, bersiap dan segera menuju toko sepatu yang telah direferensikan. Mereka berdua berpamitan dengan Ibu Utijah yang kebetulan ada di rumah.
“hati-hati kalian ya di jalan”, ucap Ibu Utijah.
“iya bu yang bawa saya mah ga bakal ngebut”, ucap Ardi.
“yaudah hati-hati ya Mansyur, Ardi”
“iya ma, aku pamit ya. Assalamu’alaikum”, ucap Mansyur.
“Wa’alaikumussalam”
Mansyur dan Ardi berangkat menuju tempat tujuan dengan santai sambil berbincang kesana-kemari. Termasuk membicarakan perempuan, tentang futsal, saling caci maki, ya seperti layaknya dua insan laki-laki bertemu.
Mereka sampai di tempat tujuan. Banyak pilihan sepatu yang mesti di pilih oleh Ardi, karena selain bagus banyak juga keluaran model baru dari sepatu tersebut. Ardi tampak kebingungan hingga akhirnya bertanya dengan Mansyur yang sedang memainkan ponselnya.
“mus yang mana nih yang harus gua beli?”, Ardi menunjukkan sepatu yang di genggam kedua tangan kanan dan kirinya.
“kalo gue pribadi ya, yang ini aja nih lebih simpel dan ga terlalu alay. Tapi terserah lu kan lu yang mau beli”, jawab Mansyur sambil menunjukkan sepatu yang di genggam tangan Ardi di sebelah kanan.
“yaudah iya ini aja kali ya. Yaudah fix dah”, tukas Ardi.
Setelah membeli sepatu, Ardi mengajak Mansyur minum kopi di kedai kopi yang berada di luar pusat perbelanjaan dan Mansyur mengiyakan.
“cari cewek di kedai dulu kita”, ucap Ardi.
“iyadah terserah lu”, sambung Mansyur.
“di, ga mudah mencari seseorang perempuan yang sesuai dengan hati lo mah. Kadang nih kita ketemu yang sesuai dengan kita dari bentuk wajah, terus ga sesuai dengan jalan pikiran kita sendiri”, papar Mansyur mengenai wanita dengan sok tahunya.
“iya mouse”, ledek Ardi.
“kenapa lu bisa bilang kaya gitu? Lu pernah rasain?”, tanya Ardi.
“belum sih, tapi kalo gua analisa ya seperti itu”, tutur Mansyur.
“masa iya lu cari sesuatu tapi tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran lu. Ga bedanya lu beli sepatu tadi, kalo ga srek sama yang ada di pikiran lu dan karena selera juga ga akan lu beli kan?”, papar Mansyur.
“iya sih, tapi kan gua juga tadi sempet nanya ke elu”
“itu sih namanya berbagi pendapat. Lu bagus kaya gitu, tanpa lu sadari lu namanya itu menghargai manusia lain yang hidup di bumi”
“so bijak ni bocah”, tukas Ardi.
“ini ka minumannya silahkan di minum”, waiters datang mengantarkan minuman.
“iya terima kasih”, ucap Ardi.
“di minum tuh mus”, himbau Ardi ke Mansyur.
“iya masih panas gila”
Mereka banyak berbincang kesana-kemari mengenai beberapa hal hingga berakhir saat kopi mereka telah habis.
Mansyur dan Ardi pulang ke rumah masing-masing dengan selamat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Only You
Historical FictionPertemuan dengan seorang perempuan memang membuatnya trauma, di satu sisi ia ingin menatap masa depan yang lebih tertata, terencana, sukses, dan tentunya bahagia. Sampai saat datanglah seorang wanita bernama Sina Zubaidah yang membuatnya jatuh hati...