28 Agustus 2018
Pukul 10.00
Meja belajar penuh dengan buku - buku yang dipinjam di perpustakan Kampus, lembaran demi lembaran terurai semua di meja belajar Adhira. Saat ini, tepat pukul 10.00 pagi Adhira harus segera menyelesaikan tugas - tugas kuliahnya selama musim liburan sepanjang bulan Agustus ini. Banyak tugas menanti kehidupan Adhira, mulai dari tugas dari mata kuliah hukum yang sudah ia selesaikan bareng teman - teman dia dua hari lalu di rumah Lisa, sampai mata kuliah yang membutuhkan otak serta pikiran yang jernih. Namun sekarang pemikiran Adhira kemana - mana dan tidak bisa fokus ke tugas yang ada di depan dia saat ini. Ia masih memikirkan perempuan yang dua hari lalu ada di depan pagar rumahnya sedang menanti seseorang keluar dari rumahnya itu. Adhira waktu itu tidak bisa melihat dengan jelas siapa perempuan yang ada di pagar depan rumahnya itu sampai perempuan itu memperlihatkan wajahnya dengan jelas. Tubuh Adhira seketika merasakan seperti ada api yang masuk ketubuhnya dan nafas Adhira seketika berhenti beberapa menit karena perempuan yang ia benci itu ada didepan rumahnya sekarang.
Adhira kembali berpikir di kursi meja belajarnya. Ketika ia mengingat wajah perempuan itu kembali, hati Adhira entah kenapa merasakan panas dan berasa hancur seperti yang ia pernah rasakan dua tahun lalu. "Kenapa dia ada disini? Kenapa dia tahu rumahku?" Ketika Adhira bertanya - tanya dalam pikirannya, suara bel rumah di lantai bawah berbunyi. Tidak ada seorangpun di rumahnya. Daffin, lelaki yang sekarang menetap di rumahnya sedang pergi membeli kebutuhan rumah karena ia bertanggung jawab untuk beli semua kebutuhan yang ada di rumah itu dan itu suruhan dari Adhira sendiri. Sedangkan nenek sedang berkunjung ke rumah temannya untuk membantu bikin kue.
"Halo. Ada orang ga sih? Kenapa ga ada yang bukain pintu? Kenapa dia pindah ke rumah kayak gini sih?" Perempuan itu mengetuk berkali - kali sambil membawa makanan kesukaan dari lelaki yang sedang menetap sementara di rumah berkelas vintage ini. Adhira dengan suara kerasnya berbicara sabar dengan perempuan yang sedang mengetuk keras seperti akan menghancurkan pintunya dengan sekali ketuk. Betapa terkejutnya perempuan itu ketika yang membukakan pintu adalah musuh yang selama ini ia benci dua tahun lalu. "Kau?! Kenapa kamu masih hidup? Sedang apa kamu di rumah ini?!!" Adhira sama terkejutnya dengan perempuan itu namun ia masih bisa menahan diri. "Kamu siapa marah - marah di depan rumahku? Kau perempuan yang waktu itu ada didepan rumahku ya? Ada apa lagi?" Adhira pun dibuat bingung sama perempuan itu karena tiba - tiba perempuan itu marah - marah tidak jelas di depan pintu rumahnya saat ini. "Kau Adhira kan? Oh my Gosh...Bagaimana bisa Daffin masih sayang sama kamu? Heran. Oh iya, mana si Daffin? Suruh dia kebawah sekarang." "Tanya aja sendiri sama orangnya. Aku ga tau dia dimana. Sejak pagi sampai jem segini dia belum pulang - pulang." Adhira males menanggapi perempuan yang ada di depannya ini. Dia ingin sekali langsung naik keatas dan tidak mau berurusan (kembali) dengan perempuan berpakaian minim ini. Perempuan berpakaian minim itu hendak pamit namun gagal karena dari luar pagar, lelaki yang ia tunggu akhirnya datang juga dengan membawa 5 kantung plastik dipenuhi dengan berbagai macam bahan makanan serta cemilan titipan dari Adhira. "Daffin~ kamu kemana aja sih? Aku nungguin kamu daritadi. Perempuan ini kenapa ada disini?" "Vanny? Kenapa kamu disini? Dibilang dari kemarin kamu ga usah ketemu aku lagi. Kamu ga paham - paham juga ya?" Daffin langsung mengabaikan pembicaraan Vanny dan mulai masuk ke dalam rumah bareng Adhira yang sedari tadi bingung dengan pertengkaran antara perempuan itu dan Daffin.
"Mengabaikan aku lagi? Hah! Tidak dipercaya ya. Kamu kenapa masih mengharapkan Adhira? Dia udah ga peduli sama kamu!" Vanny kemudian langsung pergi serta melemparkan makanan kesukaan Daffin ke tong sampah tanpa peduli harga yang ia belikan untuk Daffin. Pintu pagar dikunci oleh Daffin agar Vanny tidak bisa masuk kembali ke rumah tersebut. Adhira masih bingung dengan ucapannya Vanny karena ia tidak tahu apa - apa masalah yang ia hadapi dua tahun lalu. Yang Adhira tahu, peristiwa yang ia alami dua tahun lalu hanya perempuan itu yang tiap hari ngebully dia waktu sekolah tanpa suatu alasan yang jelas.

KAMU SEDANG MEMBACA
Nothing to Worry
RomancePerempuan yang mengalami koma selama dua bulan karena kecelakaan yang dialaminya waktu menyelamatkan anak anjing yang sedang berdiam di tempat penyebrangan. Laki - laki yang selama ini dipacarinya sangat menyesal telah meninggalkan dia demi perempu...