25 Agustus 2018
Pukul 07.00Matahari pagi dengan sinarnya menyambut orang - orang yang berjalan lalu lalang siap - siap dengan aktivitas mereka masing - masing. Di hari Sabtu ini, ada orang yang sudah siap memakai baju olahraga sambil membawa skipping untuk melompat di taman yang ada di perumahan Greenville ini. Segerombolan ibu - ibu memakai baju seragam berwarna putih kuning bertuliskan "Senam itu Indah, Mari Senam Bersama" untuk mengikuti senam massal yang terselenggarakan di taman itu juga. Taman seluas 845 hektar ini dinamakan Seaside Central Park yang luasnya hampir sama dengan Central Park di New York ini merupakan ide yang digagas oleh masyarakat sekitar. Banyak arena bermain di taman ini salah satunya arena bermain untuk anak - anak usia 2 - 11 tahun. Tempat luas untuk yoga, maupun senam disediakan di taman ini.
Selagi orang - orang di luar melakukan aktivitasnya masing - masing, Adhira masih membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia masih termenung dengan kejadian dua hari lalu saat di kafe Grossi Florentina Cellar Bar. Loan secara tiba - tiba memberikan sebuah kotak kecil kepada Adhira yang sampai sekarang Adhira juga tidak mengetahui isi dari kotak yang ada di atas mena belajarnya itu. Ketika Adhira keluar kamar untuk mencuci muka, ia melihat kamar di sebelahnya terbuka dan ada suara laki - laki kira - kira usia 20 tahunan dan seorang laki - laki lain berusia 50 tahunan. Adhira heran dengan kamar sebelahnya karena selama ia tinggal di rumah neneknya itu, kamar tersebut tidak pernah dipakai sama sekali. Adhira hendak mengintip apa yang terjadi dengan kamar di sebelahnya itu, laki - laki dengan kemeja biru navy keluar dari kamar itu. Dan seketika Adhira serta laki - laki itu membeku. Apa - apaan ini. Kenapa ada orang asing di kamar sebelahku?. Adhira tersadar dari lamunannya ketika laki - laki itu menghampiri Adhira. "Hei! Siapa kamu?! Kenapa.. kenapa ada dirumahku? Nenek! Nenek!" Adhira menjauhi dari laki - laki yang memberikan senyum manis kepadanya sambil mengucapkan "selamat pagi Adhira. Ini aku. Apa kamu lupa?" Adhira bersiap - siap mengambil sapu yang ada di dekat tangga untuk memukul laki - laki tersebut namun tangannya terhenti ketika laki - laki itu menyebut nama yang sangat tidak asing di telinganya. "Ini aku. Daffin..". Adhira bingung dengan laki - laki yang sedang berbicara dengannya saat ini. "Aku.. engga kenal kamu. Bagaimana kamu mengenal aku? Emang kita pernah ketemu sebelumnya ya?". Daffin kaget namun ia mengerti kenapa Adhira bersikap seperti itu. Ternyata dia belum pulih sepenuhnya dari kecelakaan yang menimpanya dua tahun lalu. "Ah.. maaf. Mungkin kamu engga kenal aku tapi aku kenal kamu sepenuhnya. Sifat, kebiasaan kamu aku tahu segalanya. Aku.. separuh jiwa kamu yang hilang Adhira". Entah kenapa Adhira mendengar Daffin berkata seperti itu membuat Adhira secara tiba - tiba mengeluarkan air mata dari matanya. Namun dia masih bingung dengan laki - laki yang dihadapannya ini sampai - sampai otak Adhira mencari nama "Daffin" namun tidak berhasil. Adhira menghapus air mata dari pipinya, dan Daffin mengatakan hal yang mengejutkan Adhira kalau ia akan tinggal sementara di rumah Adhira selama dua bulan karena ada urusan dengan tugas kuliahnya.
Adhira tambah di buat bingung dengan kelakuan neneknya karena mengizinkan orang asing untuk tinggal dirumahnya apalagi selama dua bulan tanpa sepengetahuan dari Adhira langsung. Mungkin Adhira belum sadar dari tidurnya sampai - sampai ada kejadian secara tiba - tiba dirumahnya, namun sudah mencuci mukapun, sesosok laki - laki yang namanya Daffin itu masih ada dirumahnya. Ia kemudian mencubit tangan kecilnya itu dan nyata. Daffin, bapak yang ada dikamar sebelah, koper Daffin, semua nyata apa yang dilihat oleh Adhira.
"Terima kasih ya pak atas bantuannya untuk beres - beres kamar baru saya. Sebagai rasa terima kasih saya pak, ada sedikit uang untuk Bapak" Daffin memberikan sebuah amplop cokelat kecil kepada Bapak Usman, tukang kebun langganan nenek Susi kala kebun sedang berantakan. Nenek Susi masih tidak menyangka cucunya itu belum mengenali laki - laki yang sedari tadi bolak - balik turun naik tangga untuk mengambil beberapa barang sisa dia yang masih di luar. Adhira hanya menatap dia bingung sambil memegang roti serta menyeruput susu putih untuk sarapan dia. Daffin sudah selesai dengan kamar barunya itu, dan melihat Adhira keluar dari kamarnya memakai t-shirt bertuliskan " A Whooe New World" dengan celana pendek putih sambil membawa buku untuk siap - siap pergi ke rumah Lisa mengerjakan tugas kuliah bersama. "Kamu mau kemana?" "Bukan urusanmu" Adhira menjawab pertanyaan Daffin dengan juteknya sambil mengunci kamarnya, takut orang asing yang berdiri disebelahnya itu menyelinap secara tiba - tiba. "Boleh ikut?" "Hei! Kamu siapa? Aku engga kenal kamu. Jadi tolong jangan sok kenal denganku. Apalagi dengan senyuman kamu itu. Ya ampun.. ga tau diri banget". Daffin kaget mendengar celotehan Adhira namun entah kenapa dia merasa senang meskipun sementara ini Adhira tidak mengenal dia lagi. Dafffin kembali ke kamarnya lagi setelah Adhira sudah pergi ke rumah temennya untuk mengerjakan tugas kuliah. Sebenarnya Daffin hanya alasan tinggal di rumah Adhira untuk urusan tugas kuliahnya. Ia benar - benar rindu dengan Adhira. Ia tidak mau kehilangan Adhira untuk yang kedua kalinya.
Menyesal. Kata pertama yang ada di pikiran Daffin. Daffin menyesal karena harus merelakan Adhira akibat ada orang yang sengaja mengambil hati Daffin dan membuat Adhira harus lepas dari kepingan hatinya. Dan selama dua bulan di Indonesia juga karena bertepatan dengan hari libur yang diadakan khusus dari kampusnya itu jadi ada kesempatan untuk Daffin tinggal sementara di rumahnya Adhira. Selama di Australia, Daffin begitu mandiri sampai ia harus memasak sendiri untuk makan dia sehari - hari. Maka dari itu ketika di Indonesia, bukan lagi menyuruh Asisten Rumah Tangganga untuk menyiapkan makanannya tetapi Daffin sendirikah yang memasak di dapur sambil menunjukkan keahlian kecilnya ke Asisten Rumah Tangganya itu. Sekarang ia di Jakarta, di rumah nenek Susi dan Adhira, ia memasak makanan favoritnya yaitu Chicken Katsu Curry. Ia mengambil 2 dada ayam di kulkas, kemudian 2 butir telur, tepung panir, sedikit merica, garam, tepung terigu, dan mingak untuk menggoreng. Setelah dia menyiapkan segala bahan - bahan yang ada di dapur, ia kemudian mulai masak. Selesai dengan hidangan yang ia masak, handphone Daffin bergetar. Melihat nama yang tertera di handphonenya itu membuat Daffin membatu. Bagaimana ia tahu aku disini?. 1 pesan. 2 pesan. 3 pesan telah dikirim ke handphonenya Daffin namun Daffin mengabaikan pesan tersebut.
Hai Daffin. Long time no see :)
Kamu sekarang ada di Indonesia, right? Kenapa kamu ga ngabarin aku? :(
Bales dong! Aku kangen kamu. I miss you so bad :(Cih! Kenapa dia tahu id Lineku yang baru?. Daffin merasa terkutuk kenapa perempuan ini muncul lagu di kehidupannya. Ketika Daffin hendak mematikan handphonenya itu biar perempuan itu tidak menganggunya lagi, handphone Daffin tiba - tiba berbunyi. Perempuan itu langsung menelepon Daffin karena ia tahu akan sifatnya Daffin kalau Daffin tidak balas pesannya, ia akan langsung menelepon Daffin. "Daffin. Kamu serius udah lupain aku? Kenapa? Apa gara - gara perempuan brengsek itu?. Jelas - jelas aku lebih baik dari dia! Kau masih mengharapkan Adhira? Hah?!" Daffin menghela nafas. Tidak mengira perempuan yang sedang menelepon dia memiliki sifat berbanding terbalik dengan Adhira. "Vanny. Bisakah kamu melupakan aku? Aku hanya menyukai Adhira. Dan kau bilang kamu lebih baik dari Adhira? Ya, itu dulu ketika aku engga mengenal kamu lebih. Aku terhanyut dengan segala yang ada pada diri kamu. Tapi... aku sadar dan aku menyesal dengan meninggalkan orang yang ternyata lebih tulus mencintai aku daripada kamu!" Daffin tidak menyadari kalau suara yang ia hasilkan begitu keras dan untungnya tidak ada orang di rumah kecuali dirinya sendiri.
Perempuan yang ada di seberang telepon itu terdiam. "Baiklah kalau itu mau kamu Daffin. Tapi ingat ya, aku engga akan menyerah sama kamu". Daffin langsung menutup teleponnya. Ia bingung harus bagaimana lagi menghadapi Vanny, si perempuan keras kepala dan terkagum - kagum dengan dirinya.
Adhira sampai dirimah Lisa sambil membawa cemilan yang ia beli di supermarket terdekat. Rumah Lisa dan Adhira tidak jauh jaraknya dan hanya beberapa blok saja dari rumah Adhira. Adhira menyapa orang yang membuka pintu rumahnya sambil tersenyum manis. "Adhira~ lama tidak ketemu ya? Silahkan masuk. Lisa dan Mary sudah menunggu kamu di kamar tuh" "makasih tante Dara. Oke tan, aku langsung ke lantai dua ya" Adhira menyapa mama Lisa, orang yang membukakan pintu tadi untuk Adhira.
Selesai mereka menyelesaikan tugas kuliah hukumnya yang diberikan okeh pak Angga, Adhira menceritakan kepada Lisa dan Mary tentang kejadian yang dialaminya pagi ini. Lisa dan Mary serentak kaget mendengar cerita yang diceritakan oleh Adhira. "Daffin masih nyariin kamu? Berani - beraninya dia juga tinggal di rumah kamu,Ra?. Gila ya tuh orang, masih cinta aja sama kamu. Tapi Ra, kamu ingat dia?" Lisa menanyakan hal tersebut sambil memakan cemilan yang di bawa Adhira tadi. "Justru itu Lis. Aku engga ingat. Aku bingung harus jawab apa ketika ia ngomong kalau dia itu separuh jiwa aku yang hilang" Adhira menutup wajah merahnya dengan kedua tangannya karena malu mengucapkan kalimat yang diucapkan oleh Daffin tadi pagi. "Hebat ya Daffin itu. Aku mau punya pacar kayak Daffin, Lisa! Cari dimana ya?. Eh, tapi dia berarti udah putus dong sama perempuan itu? Iya ga sih, Lis?" Mary bingung, begitupun Lisa karena semenjak kejadian Adhira yang koma dan masih diam di rumah sakit dua tahun lalu, kabar tentang Daffin dan perempuan itu tidak ada kabar lagi.
Jam menunjukkan pukul 17.00 sore. Adhira dan Mary siap - siap untuk pulang ke rumah masing - masing. Adhira pamit duluan karena nenek Susi menyuruh dia pulang cepat. Ketika Adhira hampir sampai ke rumahnya, ia melihat mobil sedan berwarna hitam terpakir didepan pagar rumah dia. Pintu mobil itu tiba - tiba terbuka dan melihat perempuan dengan kaki panjangnya, memakai mini dress berwarna putih gading serta memakai high heels setinggi 5cm keluar dari mobil tersebut. Adhira melihat dari tembok pagar rumahnya itu. Ketika perempuan itu memperlihatkan wajahnya, Adhira merasa paru - paru serta jantungnya mendadak berhenti. Cewek itu... kenapa ada di depan rumahku?!

KAMU SEDANG MEMBACA
Nothing to Worry
Roman d'amourPerempuan yang mengalami koma selama dua bulan karena kecelakaan yang dialaminya waktu menyelamatkan anak anjing yang sedang berdiam di tempat penyebrangan. Laki - laki yang selama ini dipacarinya sangat menyesal telah meninggalkan dia demi perempu...