Keping 2 : Aku, sebelum kamu

93 4 0
                                        

Sendiri bukan tentang sepi. Aku memilih sendiri bukan untuk menutup pintu hati, hanya saja ketakutan untuk kembali mencintai dan mengagumi seseorang lebih besar dari keinginanku untuk jatuh hati. Terkadang, mereka berkata bahwa jatuh cinta adalah hal yang menyenangkan, dimana kita bisa merasakan rasa yang baru dan membuat segala sesuatunya menjadi lebih bercahaya. Entah mengapa, jika aku mulai meyukai sesuatu dan menyadari bahwa rasa suka itu berpotensi berubah menjadi sebuah rasa cinta hatiku merasa begitu putus asa dan tak memiliki keinginan untuk melanjutkannya. Ya, mungkin saja aku belum mampu melawan segala rasa takut yang ku miliki, atau mungkin lebih tepatnya belum ada yang mampu membantuku mengalahkan rasa takut itu.

Sudah lama, sejak 5 tahun silam aku memilih memberikan seluruh hatiku untuk semua yang ada di sekelilingku. Teman-teman, Keluarga, dan untuk diriku sendiri. 5 tahun yang lalu usiaku memang tergolong masih begitu belia, seorang anak gadis di bangku sekolah menengah yang hanya tau tentang cara menangis ketika disakiti. Teman-temanku berkata, kisah pahit yang kualami dulu hanyalah kisah klasik yang tak masuk akal jika dijadikan alasan untuk memilih sendiri hingga saat ini. Mungkin mereka berfikir saat itu aku masih belum dewasa dan permasalahan yang ku terima saat itu hanyalah persoalan kecil yang biasa dihadapi anak sekolah yang sedang jatuh cinta pada umumnya. Begitulah yang mereka pikirkan. Namun dibalik itu aku mengubur memori lama yang begitu menyakitkan jika mengingatnya, bahkan tak berniat sedikitpun aku untuk menggalinya kembali.

Bagiku, waktu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Meski terkadang terasa begitu cepat berlalu. Dikala orang-orang begitu menikmatinya, aku bersusah payah melaluinya. Banyak hal yang tak mampu di mengerti oleh siapapun, tentang luka yang ada, tentang rasa yang mengganggu dalam dada.

Aku Arunika. Mereka biasa memanggilku Aruni. Terlahir dari keluarga sederhana yang hidup di tengah hiruk pikuk perkotaan. Bukan hal yang mudah sebab aku terlahir berbeda diantara tiga saudaraku yang lain. Bahkan sejak pertama kali aku menghirup udara bumi tubuhku yang mungil itu tak mampu bernafas dengan baik. Saat duduk di sekolah dasar, aku bahkan tidak dapat menikmati beberapa materi olah raga, tidak untuk berlari, tidak untuk bermain basket, juga tidak untuk bermain permainan-permainan melelahkan lainnya. Bosan, namun saat itu tubuhku masih terlalu kecil untuk bertahan dari rasa sakit. Ku yakini, hanya karena Doa Ibu dan Bapak dan pertolongan Tuhan-Lah aku masih bisa bertahan hingga saat ini. Dan begitu ku syukuri, semakin tumbuh Tuhan mengizinkanku untuk menjadi semakin kuat, dan beraktifitas sama seperti yang lain. Ini hadiah untukku, bisa pulih meski dalam batas tertentu.

Memang bukan hanya itu, sifat dan kebiasaanku juga berbeda di antara yang lain. Aku lebih suka diam dan menyendiri, terkadang berpergian ke hutan untuk sekedar memuaskan jiwaku yang tak pernah bisa dipahami bahkan oleh diriku sendiri.

Tentangku, yang berjuang untuk tetap bertahan dari segala yang ku hadapi. Sedikitpun, aku tak pernah membagi lukaku dihadapan Ibu dan Bapak, bahkan menangispun aku tak akan. Ku pahami jika keluargaku menganggapku begitu dingin dan pendiam. Setidaknya menganggapku seperti itu lebih baik daripada harus memberikan banyak kekhawatiran jika mereka mengetahui apa yang harus ku hadapi sendirian.

Terkadang, kita harus menggunakan banyak topeng. Bukan tentang kepalsuannya, tetapi bagaimana kita menyembunyikan keaslian agar mereka semua yang melihat dapat terus tersenyum disamping kita. Setidaknya, kita takan kehilangan senyuman mereka, yang juga menjadi sumber kekuatan untuk tetap bertahan hingga hari berikutnya.

*****

Setiap Manusia, pasti pernah merasakan Jatuh Cinta. Ya.. Cinta adalah pemilik presentase terbesar dalam siklus kehidupan manusia. Tanpa cinta Adam dan Hawa takan pernah bertemu, tanpa cinta bumi tidak akan berumur panjang, dan Tanpa cinta aku takan pernah ada.

Bicara tentang cinta maka berbicara tentang Fitrah. Tuhan menciptakan manusia dan saling tertarik satu sama lain. Menciptakan cinta juga menciptakan luka. Dua hal yang tak dapat dihindari oleh siapapun, dua hal yang berbeda namun bisa datang disaat yang bersamaan.

Senandika (Dialog-dialog Hati)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang